KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 85


__ADS_3

Malam makin larut. Ara tidak menduga bahwa pria ini akhirnya benar-benar akan menginap. Dan beruntungnya, bukan Tristan yang harus meminta ijin. Bapak Ara sendiri yang menyarankan.


Wajah Tristan penuh dengan kemenangan. Ara tidak tenang dengan itu.


"Jangan memintaku pulang. Aku sudah lama tidak bertemu denganmu, Ara," bisik Tristan saat Ara sudah dalam mode protes.


Karena Bapak sudah menyarankan seperti itu, ibu akhirnya menarik lengan Ara untuk membantunya membereskan tempat tidur.


"Ayo, kita rapikan kamarmu."


"Kamarku?" tanya Ara terkejut.


"Iya. Kalau bos kamu itu menginap, berarti kamu harus tidur di luar. Masa boss kamu yang harus tidur di luar," bisik ibu. Ara menggigit bibirnya geram.


Bapak muncul dari dalam kamar sembari membawa tikar.


"Buat apa Pak?" tanya ibu di depan kamar putrinya.


"Bapak tidur di sini saja nemenin Nak Tristan."


"Lalu boss Ara?" tanya Ara.


"Tentu saja di atas kursi tamu ini. Enggak apa-apa kan? Namanya juga rumah kecil." Bapak bicara pada Tristan. Beliau ternyata punya rencana sendiri. Ara lega, tapi juga cemas. Ia melirik ke arah Tristan. Pria itu tidak akan pernah tidur di kursi dengan keempukan yang tidak mumpuni.

__ADS_1


"Iya. Tidak apa-apa Pak." Pria ini justru tersenyum sembari mengangguk. Ibu menepuk lengan Ara.


"Bawakan bantal dan selimut baru. Kamu kan punya selimut baru," ujar ibu pelan. Ara masuk ke dalam kamarnya. Mengambil selimut di dalam lemari yang masih dalam bungkusnya.


"Selimut, aku serahkan tugasku menemani Tristan padamu. Jangan kecewakan aku, karena selimut ini baru beli," ujar Ara pada selimut di tangannya.


Keluar dari kamar, Ara terkejut ternyata bapak sudah tidur lelap. Jadi saat Ara memberikan selimut dan bantalnya, ia harus menjijit pelan agar beliau tidak terganggu. Karena bapak tidur terlentang menutupi jalan menuju ke Tristan.


"Maaf, sudah buat kamu repot," lirih Tristan.


"Mau gimana lagi."


Karena berjinjit, tubuh Ara jadi tidak imbang dan hampir jatuh menginjak tubuh bapak. Namun tangan Tristan menangkap dengan cekatan.


"Untung ... saja." Ara menghela napa lega saat tahu tubuhnya masih bisa berdiri tegak dengan bantuan tangan Tristan.


"Tidak apa-apa kan?" tanya Tristan. Ara menoleh.


"Y-ya ..." Mendadak matanya kebingungan mencari obyek. Ara gugup. Tristan menunduk. Rupanya tarikan tangan Ara membuat kancing kemeja itu lepas. Hingga dada Tristan terlihat tanpa apapun.


"Ini yang membuatmu gugup?" tanya Tristan pelan. Mirip sebuah bisikan karena begitu dekat di telinga. Ara menggelengkan kepala. Tristan tersenyum melihat Ara berusaha keras untuk mengelak. "Aku akan biarkan kamu melihatnya dengan puas jika mengaku." Tristan malah menggoda Ara meskipun mereka sedang keadaan terjepit. Wajah Ara memerah.


"Whoamm ..."

__ADS_1


Ara dan Tristan terhenyak kaget mendengar suara bapak. Bola mata mereka melihat dengan tegang ke arah bapak. Ternyata beliau sedang mengigau. Ara dan Tristan menghela napas lega.


"Sebaiknya aku kembali ke kamar. Bapak juga cepat tidur." Ara segera memberi komando dan meminta Tristan melepas pegangannya. Akhirnya Tristan dengan kesal melepas Ara.


Dengan cepat Ara berada di dalam kamar karena jarak kamar dan kursi ruang tamu tidak jauh. Ia naik ke atas tempat tidur. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, tapi ponselnya di atas meja, bergetar.


Ara urung berbaring lalu mengambil ponselnya. Ternyata itu pesan dari Tristan.


"Aku tidak bisa tidur. Banyak nyamuk." Begitu pesan yang tertera di layar. Ara mengerjap. Menghela napas.


"Terus kenapa? Salah sendiri Bapak menginap di rumahku yang banyak nyamuk." Meski begitu Ara langsung berdiri. Lalu keluar kamar.


Mendengar suara pintu kamar di buka, Tristan langsung menoleh cepat. Ara memandang dengan kesal. Wajah Tristan justru bahagia. Ara berjalan menuju buffet kuno di dinding antara kamarnya dan kamar ibu. Mengambil obat nyamuk elektrik di sana. Menancapkan ke colokan listrik di atas buffet.


Setelah itu, Ara kembali masuk ke dalam kamar. Belum tuntas Ara menyelimuti tubuhnya dengan selimut, ponselnya kembali berdering. Ara memilih mengambil ponsel daripada meneruskan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Ternyata itu Tristan lagi. Ara berdecak.


.......


.......


.......

__ADS_1


......................


__ADS_2