
Dia sedang dalam posisi antara hidup dan mati. Kepala Ara tetap menunduk. Menyingkirkan kemungkinan bersirobok dengan bola mata pria di depannya.
Merasa di perhatikan, Ara makin tegang. Tangan gadis ini meraih name tag di dadanya. Bermaksud menyembunyikan namanya dari direktur perusahaan ini. Namun terlambat. Tristan sudah bisa melihat name tag-nya. Bahkan sebelum melihat name tag, Tristan tahu namanya dari Jenny.
"Ara? Jadi nama kamu Ara?" tanya Tristan.
Sial! Aku lambat menyimpan name tag ku. Ara masih berpikiran bahwa Tristan tahu namanya dari name tag di dadanya. Ara meringis di dalam hati. Ia ingin menangis. Bagaimana tidak? Ia sudah membodohi pria yang sebenarnya adalah direktur perusahaan tempatnya magang.
Ara tidak bisa bicara. Tidak ada yang ingin ia bicarakan. Bahkan maaf pun sulit sekali terucap karena takut. Tangannya gemetar. Bahkan sekujur tubuhnya menegang.
"Jadi kemana keberanian mu waktu itu? Kenapa sekarang jadi menjauh?" tegur Tristan saat melihat Ara berdiri di pojok dengan gemetar. "Kamu bodoh ya? Bagaimana kamu tidak tahu tentangku yang sudah kencan denganmu?"
Bodoh? Aku? Mendadak otak Ara panas. Telinganya yang mendengar kata bodoh dari bibir Tristan membuatnya darahnya mendidih. Setelah sejak tadi ia menunduk, sekarang ini ia mencoba mendongak. Meskipun itu hanya setengah-setengah.
"Maaf Tuan. Kenapa Anda terus saja bicara yang tidak saya mengerti?" tanya Ara menahan rasa marah.
__ADS_1
"Akhirnya kamu mendongak dan bicara," kata Tristan yang rupanya sengaja mengatakan bodoh demi membuat gadis ini melihat ke arahnya.
Aku terjebak! Sial! Ara menunduk lagi.
"Kamu sudah mengacaukan semuanya. Semuanya. Kamu tahu?" tanya Tristan masih dengan nada dingin. Ara diam. "Pernikahanku hancur karena kamu," desis Tristan. Ara menelan salivanya dengan susah payah.
Ting! Lift sampai di lantai atas. Tristan keluar dari lift. Sebenarnya dia sudah melangkah lebih dulu, tapi langkahnya terhenti saat merasa Ara tidak ikut keluar. Kepalanya menoleh ke samping. Benar. Gadis itu tidak ada. Dia harus memutar tubuhnya untuk melihat ke belakang. Ternyata Ara masih berada di dalam lift.
"Apa yang kau lakukan di sana? Cepat antar dokumen itu di ruanganku!"
"Seharusnya sejak awal kamu berpikir seperti itu. Jangan berpikir pendek hanya karena uang. Karena ada banyak hal penting daripada uang," ucap Tristan masih dengan hawa dingin.
Ngomong gampang. Kamu tidak tahu hidupku tahu! Aku ini kekurangan! gerutu Ara tidak setuju. Tristan mengerjapkan mata. Ia teringat perkataan Jenny kalau gadis ini kuliah membiayai semuanya sendiri. Jadi ia sadar mungkin kalimatnya sedikit sadis.
"Ehem ... " Tristan berdeham sejenak. "Antar dulu dokumen itu. Baru kamu bicara lagi," perintah Tristan mengurangi sikap dingin sepeti tadi, lalu melangkah menjauh dari lift. Mendapat angin untuk bertahan, Ara melangkah keluar dari lift. Kemudian mengikuti di belakang Tristan. Saat akan sampai di ruangan Jarvis, kaki Ara membelok. "Kamu bisa letakkan itu di ruanganku," cegah Tristan.
__ADS_1
"Bukan di ruangan pak Jarvis, Pak?" tanya Ara heran. Karena ia mendengar dengan pasti bahwa Amri menyuruhnya ke ruangan sekretaris Jarvis.
"Kamu membantahku?" desis Tristan.
"Bukan. Bukan." Ara panik. "Maaf." Ara langsung menunduk.
"Antar ke ruanganku saja," kata Tristan. Ara mengangguk dan mengikuti Tristan lagi. Saat ini dia tidak harus membantah. Posisinya tidak aman. Di ujung lorong adalah ruangan Tristan. Hanya beberapa langkah mereka sampai. "Masuk," ujar Tristan saat sudah membuka pintu ruangannya. Ara masuk dengan perlahan. Ini pertama kalinya dia masuk ke ruangan direktur. "Apa yang kamu lakukan? Masuklah," perintah Tristan lagi. Karena Ara hanya berdiri di dekat pintu tanpa masuk lebih dalam ke ruangannya.
"B-baik," jawab Ara tersentak kaget.
.......
.......
.......
__ADS_1
...B E R S A M B U N G...