
Ara menghela napas di depan lift. Ia sudah melewatkan beberapa pintu lift yang terbuka. Ia sudah bertemu kak Ghia. Menurut seniornya itu, ia tidak menyimpan nilai magang milik Ara. Dari cara bicara kak Ghia tadi, sepertinya dia tahu soal hubungan Ara dan Tristan.
Bahkan itu terjadi lagi saat Ara sampai di depan pintu ruangan Tristan. Ada rasa berat di hatinya untuk masuk. Padahal ia hanya ingin meminta nilai magang. Itu bukan hal yang sulit.
"Ara," sapa seseorang di belakang Ara. Kepala gadis ini menoleh. Ternyata itu Jarvis.
"Hai, Jarvis. Lama tidak bertemu," sapa Ara sambil tersenyum.
"Tidak terlalu lama. Hanya saja terbiasa terlihat setiap hari, jadi terasa lama tidak ketemu walaupun sebentar." Jarvis mengatakannya dengan tersenyum.
Mungkin saja benar seperti itu. Aku hanya tebak perasaan sepertinya.
"Masuklah. Tuan masih keluar sebentar di lantai bawah. Ia akan datang segera saat aku beritahu." Jarvis membuka pintu dan mempersilahkan Ara masuk.
"Ya. Terima kasih." Ara mengangguk menerima sambutan dari Jarvis.
Tristan sudah melihat Ara saat keluar dari lift tadi. Awalnya ia tidak percaya bahwa itu adalah Ara. Namun saat Jarvis mengikuti, gadis itu berhenti di depan pintu ruangan Tristan. Jarvis kemudian paham, bahwa itu Ara.
***
Ara duduk menunggu Tristan muncul dengan berdebar-debar. Ia bisa menghubungi pria itu lewat telepon, tapi dia terlalu takut untuk melakukannya.
__ADS_1
Suara pintu terbuka mengagetkan Ara. Tristan muncul. Ia menoleh ke belakang.
"Ternyata kamu."
Itu bukan Tristan, melainkan tuan Haga. Ara langsung berdiri dan membungkuk memberi salam. Antoni muncul selanjutnya. Ara mengangguk memberi salam padanya.
"Tristan tidak ada?" tanya beliau normal. Seperti bertemu dengan Ara bukanlah suatu keanehan. Ini mengurangi rasa canggung Ara.
"S-saya kurang tahu, Tuan. Jarvis bilang, Tristan masih ada keperluan di lantai bawah." Ara memberikan jawaban. Meskipun begitu, bertemu tuan Haga tetap membuatnya gugup. "Anda tidak bertemu Jarvis, Tuan?" tanya Ara heran Jarvis tidak memberitahu soal Tristan yang tidak ada di ruangannya.
Tuan Haga berlalu menuju sofa. Beliau duduk lalu mendongak.
Suasana tegang menyergap Ara. Ia tidak menduga bahwa siang ini dirinya akan satu ruangan dengan tuan Haga. Padahal ia memantapkan hati untuk bertemu Tristan, tapi justru bertemu dengan kakek tua ini.
Tuan Haga melihat tangan Ara yang menggenggam ujung blusnya. Karena kepala Ara menunduk, dia tidak tahu sedang di perhatikan.
Antoni yang melihat semua ini, menghela napas pelan.
"Tuan Haga sehat?" tanya Ara yang sudah mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
__ADS_1
"Ya. Aku memang selalu sehat," sahut tuan Haga.
"Orang rumah juga sehat?" tanya Ara ingin lebih terlihat ramah karena mereka pernah bertemu di kampung. Bahkan bertamu di rumah Ara. Tidak enak rasanya berpura-pura tidak kenal. Jadi Ara menambahkan pertanyaan, sebagai bentuk dari sikap sopannya.
"Kamu bertanya siapa?" tanya tuan Haga terdengar tidak telaten. Memang pertanyaan Ara tidak spesifik untuk siapa, dia hanya berbasa-basi. Namun itu jadi bumerang baginya.
"Itu ... ART kakek. Saya lupa namanya," ungkap Ara jujur.
"Baik. Kenapa?" tanya tuan Haga yang membuat Antoni menggelengkan kepala pelan. Dia merasa tuan besar menjadi seperti anak kecil yang sedang ngambek.
"Ah, tidak. Saya hanya ingat dengan beliau lagi." Ara menambahkan gelak tawa ringan dan pelan demi mengurasi rasa tegangnya.
"Apa kamu ingin bertemu dengannya?" tanya tuan Haga dengan kedua alis menyatu. Ara terkejut.
"Bukan. Saya hanya bertanya kabar saja. Bukan ingin menemui beliau lagi. Lagipula itu tidak bisa." Ara menggerakkan tangannya membantah soal itu. Ia tersenyum canggung. Kemudian menunduk merasa terintimidasi.
Tentu saja tidak. Bukannya jika ingin bertemu, itu berarti harus ke rumah tuan Haga? Sekali lagi, Ara hanya berbasa-basi. Tidak mungkin ia sengaja memancing pembicaraan soal berkunjung ke rumah beliau. Ara tidak ada maksud ke sana sama sekali.
"Kenapa tidak bisa?" tanya tuan Haga membuat Ara yang tadinya kebingungan karena takut tuan Haga salah paham, mengerjap heran.
__ADS_1
_____