
"Maafkan soal itu. Aku memang ada kepentingan saat itu." Raut wajah Tristan berubah. Sepertinya dia merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Bapak tidak perlu minta maaf." Ara segera menetralkan suasana tidak nyaman barusan dengan cepat. "Karena saya hanya perlu pulang sendiri ke apartemen. Jadi saya tidak apa-apa," imbuh Ara.
"Kamu pulang sendiri?" Tristan terkejut. "Maafkan aku." Ara berdecih. Ia kembali membuat Tristan kembali pada sikap tidak nyaman tadi.
"Yang penting sekarang saya di rumah bersama Bapak. Jadi lupakan kejadian waktu itu."
"Tunjukkan tanganmu," perintah Tristan tiba-tiba.
"Ya?" Ara bingung.
"Tunjukkan tanganmu segera." Meski kebingungan, Ara wajib menaati perintah Tristan. Karena pria itu menggeram geregetan.
"Y-ya." Segera Ara menaikkan tangannya ke atas.
"Buka telapak tanganmu." Ara mengikuti dengan patuh. Pria menjulurkan tangannya. Jari itu menyentuh telapak tangan Ara yang sedikit kasar. "Kakek tidak tahu kalau seharusnya tidak mengajakmu melakukan itu."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah biasa."
__ADS_1
"Tanganmu jadi kasar," ujar Tristan. Ara terkejut. Gadis ini menundukkan pandangan melihat telapak tangannya.
"Itu ... jangan dipikirkan." Ara tidak enak hati. Karena sebenarnya tangannya sudah kasar lebih dulu sebelum ia memanen kentang untuk kakek Tristan. Ia sudah sering bekerja keras demi mendapatkan uang.
"Aku harus segera menemui kakek," kata Tristan dengan tekad kuat. Walaupun Ara bingung kenapa pria ini tiba-tiba ingin menemui kakek, dia senang akhirnya Tristan setuju mengunjungi beliau.
**
Sore hari, saat waktunya tiba berangkat ke ruang kakek.
"Ara, kamu sudah siap berangkat?" tanya Tristan dari balik pintu kamar gadis ini.
"Jangan berlarian ..." Belum selesai Tristan bicara, dia segera terdiam. Bola matanya terlihat terkejut dengan penampilan Ara sekarang. Lebih tepatnya terpukau. Gadis ini tampak manis dengan riasan tipis di wajahnya.
"Bapaaakk! Kenapa Bapak hanya memakai kaos saja ..." Ara terkejut juga dengan penampilan Tristan. "Apalagi celana pendek ini. Memangnya kita mau ke warung tenda ... pakai pakaian ala kadarnya begini. Bapak harus ganti baju segera." Ara panik. Tristan yang masih terpukau hanya diam. "Kok diam saja?" tanya Ara yang heran Tristan tidak bereaksi. Namun kemudian tersenyum.
"Kenapa aku harus ganti baju?"
"Eh, itu ... Pokonya ganti baju dulu." Ara mendorong tubuh pria ini tanpa sadar. Karena terburu waktu, Ara mengambil jalan cepat. Anehnya Tristan tidak protes meski tadi sempat bertanya. Ia berjalan menuju ke arah kamarnya.
__ADS_1
"Ada suatu hal spesial?" tanya Tristan yang tiba-tiba saja mengentikan langkahnya. Ara yang ikut di belakangnya mendongak. "Apa ini hari spesial jadi kamu berdandan dengan manis seperti itu?" Kata manis sempat membuat Ara tidak fokus dan kelimpungan cari obyek matanya.
"T-tidak. Hanya sedang ingin." Ara menjawab dengan setengah menunduk.
"Hmm ... begitu. Aku penasaran lagi jika kamu sedang menginginkan sesuatu, apa kamu akan berubah lebih menawan?" Ara tidak tahu pertanyaan Tristan soal apa.
"Bapak harus segera ganti baju. Nanti ke rumah kakek kemalaman, Pak." Ara mendorong pria ini ke dalam kamar.
"Baiklah. Tunggu di sini." Akhirnya Tristan setuju. Ara menunggu di depan kamar. Tepat di dinding samping pintu. Anehnya pria itu tidak menutup pintu dengan sangat rapat. "Ara! Bisa kamu masuk? Aku minta bantuan mu!"
Bola mata Ara membulat. Meminta bantuan? Saat dia ganti baju? Aku enggak salah dengar nih?
.......
.......
.......
......................
__ADS_1