KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bertemu kedua kali


__ADS_3

Ara sedang membantu senior memasukkan data ke komputer. Mengetik dengan serius karena ia ingin sebelum makan siang pekerjaannya sudah selesai. Saat itu ponselnya yang ada di atas meja berdering.


"Tristan?" gumam Ara tanpa menyentuh ponselnya. Namun mendadak ia bergerak dengan sigap untuk menutupi ponselnya saat Rose melirik untuk mengintip.


"Handphone mu berdering," tunjuk Rose sambil tersenyum menunjuk ponsel Ara.


"Ya," sahut Ara ikut tersenyum. Ponsel itu terus saja berdering. "Saya ke toilet dulu Kak." Tanpa dapat persetujuan Rose, Ara berjalan menjauh dari meja dan keluar ruangan. "Kenapa dia meneleponku?" Setengah menggerutu Ara menerima telepon itu di lorong. "Ya, halo ..."


"Dimana sekarang?" tanya Tristan langsung.


"Aku? Tentu saja di perusahaan. Bukannya aku sedang magang?" bisik Ara sambil berlalu menjauh.


"Jarvis akan menjemputmu."


"Untuk apa?"


"Kakek mengajak makan siang bersama."


"Kenapa?"


"Tentu saja ingin mencari tahu lebih jauh siapa dirimu." Ara mendesah. Bagian tidak menyenangkan dari bersandiwara adalah saat ada seseorang yang ingin mencari tahu siapa dirimu sebenarnya. "Jarvis akan mengantarmu ke salon untuk mempersiapkan diri bertemu kakek."


"Baiklah."


Ting! Pintu lift terbuka. Ara melongok ke arah pintu itu karena berpikir itu Jarvis. Namun tidak di duga, justru Tuan Haga dan Antoni yang keluar dari lift.


Oh, tidak!! seru Ara sambil melebar mata. Kakinya berbalik untuk segera kabur dari sana. Kaki Ara terus melangkah untuk kabur. Apalagi itu makin membuat dirinya di curigai.

__ADS_1


"Tris ... tan. Tuan Haga ada di sini. Di depanku," bisik Ara tersendat karena terkejut dengan kemunculan kakek Tristan.


"Kakek ada di sana?!" seru Tristan lebih terkejut.


"Y-ya." Sialnya Ara, tuan Haga bukan pergi ke arah lain tapi justru berjalan satu arah dengannya.


Kenapa langsung bertemu? Ini bukan hari baik sepertinya.


Ingin rasanya Ara berlari dengan sepatu hak tingginya yang usang. Namun tidak mungkin, karena itu akan membuatnya di curigai.


"Tunggu!" seru tuan Haga membuat Ara tersentak kaget. Ia yakin beliau sedang memanggilnya karena lorong sedang sepi. Namun ia harus pura-pura tidak mendengar.


"Tuan Haga sedang bicara denganmu nona!" Kali ini seruan datang dari Antoni. Sial! Ara harus berhenti dan membalikkan badan.


"Ya, Tuan. Anda memanggil saya?" tanya Ara lalu segera menunduk. Ia tidak ingin menghadap tuan Haga.


"M-mungkin. Karena saya berkerja di perusahaan ini," sahut Ara gagap. Tuan Haga terdiam.


"Ara, tugas mu belum selesai. Kenapa kamu ..." Rose muncul membuat Ara tertolong. "Oh tuan Haga ... " Rose terkejut mendapati tuan Haga dan orang kepercayaannya di lorong. Kepala Rose menunduk memberi salam. "Ada perlu dengan pegawai saya, Tuan?"


"Tidak jadi. Bekerjalah." Tuan Haga urung bertanya lebih jauh.


"Baik Tuan. Terima kasih ..." Rose dan Ara mengangguk meminta ijin pergi.


"Apakah kamu mengenal gadis barusan?" tanya tuan Haga pada Antoni di sebelahnya.


"Saya tidak melihat dengan jelas, Tuan," sahut Antoni tidak paham.

__ADS_1


"Aku merasa mengenal dia," lanjut beliau dengan wajah heran. Antoni yang tidak mengerti terpaksa diam. Tiba-tiba Kaki Tuan Haga bergerak cepat mengikuti langkah Ara yang sudah menghilang di belokan. Antoni yang terkejut bahwa beliau menyusul gadis itu, mengikutinya di belakang.


Meskipun tua, tuan Haga masihlah bugar. Namun tentu tidak bisa mengalahkan tenaga Ara yang masih muda. Beliau kehilangan gadis itu.


"Tinggalkan aku dan cari dia."


"Baik Tuan." Antoni yang bermaksud menemani tuan Haga karena takut beliau kenapa-kenapa, kini berjalan menyeluruh ke area yang di anggap sebagai tempat menghilangnya gadis itu.


"Aku yakin dia," gumam tuan Haga berpikir. Beliau baru sadar.


**


Tristan tergesa-gesa mendatangi ruangan Ara dengan Jarvis yang ternyata belum mencari Ara tadi. Tristan masih sempat melihat kakeknya berjalan perlahan di lorong.


"Kakek belum pulang?" tegur Tristan seraya menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok Ara.


"Tidak. Kakek menemukan sesuatu."


"Apa itu?" Kepala Tristan yang masih mencari Ara kini menoleh pada kakeknya dengan cepat.


"Kekasihmu. Mungkin memang terlihat berbeda, tapi aku yakin ia kekasihmu," ujar tuang Haga bersemangat dan yakin. Tristan yakin mereka berdua benar-benar bertemu tadi.


"Kakek sangat ingin menemuinya rupanya," cibir Tristan ingin mematahkan semangat kakek untuk tidak mencari Ara di perusahaan.


"Tentu. Aku harus tahu siapa gadis yang sudah memikat hatimu itu dan menolak Aurora. Padahal sudah sekian lama kamu menolak banyak perjodohan yang kakek tawarkan. Kenapa baru sekarang memperkenalkan kekasih? Tentu ia istimewa daripada gadis lainnya."


Ya. Tentu saja Ara istimewa. Karena ia adalah penyebab gagalnya perjodohan ku dengan Jenny.

__ADS_1


**


__ADS_2