KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 59


__ADS_3

Meskipun sudah merapalkan kata-kata penyemangat untuk dirinya, nyatanya Ara ciut saat melihat punggung tuan Haga dari tempatnya masuk. Mungkin sudah bawaan dari lahir, pria dari Keluarga Tristan terlihat gagah. Bahkan kakek juga masih terlihat gagah meskipun tua.


"Nona Ara datang, Tuan ... " Antoni yang menemaninya mengucap salam pada beliau. Kepala tuan Haga menoleh ke arah mereka. Lalu tersenyum. Namun Ara tidak merasa senang dengan senyuman itu. Namun ia mencoba mengangguk menerima senyuman yang terasa hambar untuknya.


"Duduklah," pinta tuan Haga dengan suara berat. Antoni mendapat kode untuk pergi dari sana. Ini membuat Ara makin tidak tenang. "Sepertinya kamu tegang."


Tentu saja!


Ara tersenyum.


"Maaf Kakek, Ara tidak membawa roti kesukaan kakek."


"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Maaf kalau kakek memintamu datang sendirian."


"A-ada apa, ya Kek?" tanya Ara gugup.


"Jangan gugup seperti itu. Seperti biasanya saja. Kamu pasti terkejut kakek memintamu kesini."

__ADS_1


"Hahaha ... Ya. Kakek sudah buat Ara tidak tenang." Ara tertawa kaku menanggapi tuan Haga.


"Ini soal kamu dan Tristan."


Deg! Degup jantung Ara berdetak keras. Seperti habis lari maraton. Bibirnya mendadak kering. Kita ketahuan? Aku akan di penjara karena menipu pria tua kaya dan berpengaruh ini? Ara menelan ludah yang teras sakit di tenggorakan. Ibuuu!! Maafkan Ara jika Ara sudah membohongi ibuuu ...


"Besok ulang tahun Tristan. Kakek ingin membahas rencana ini denganmu." Mendengar kakek bicara, seketika Ara meleyot. Bagaimana tidak? Saat dia pikir sandiwara yang ia lakukan dengan Tristan akan ketahuan, ternyata kakek sedang membicarakan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan itu.


"Ah, iya. Ulang tahun Tristan." Ara ikut tersenyum. Berpura-pura tahu bahwa besok adalah ulang tahun kekasihnya. Jadi dia besok ulang tahun ya ... Jadi ini rahasia. Aku sampai berpikiran macam-macam.


Kakek membicarakan soal rencana pesta itu. Wajah kakek terlihat bahagia saat mengatakannya. Bagai anak kecil yang sedang membicarakan ulang tahunnya sendiri.


Di apartemen, Tristan yang baru saja pulang dari kantor menuju kamar Ara.


Tok, tok. Mengetuk pintu pelan. Ara yang sudah pulang mendekat. Sebenarnya ia tidak ingin bangun dan berpura-pura tidur, tapi tidak jadi karena kasihan. Pintu kamar terbuka. Ara muncul dan menemukan Tristan di depan pintu membawa bungkusan.


"Ada apa, Pak?" tanya Ara dengan suara lemah. Bukan sengaja supaya terlihat sakit, tapi ia memang lelah.

__ADS_1


"Aku membawakan mu makan malam," jawab Tristan membuat Ara terkejut. Makan malam? Dia sendiri saja lupa tidak masak karena lelah pulang dari rumah kakek.


"Maafkan saya, Pak. Saya tidak masak untuk Bapak."


"Hei, kenapa minta maaf seperti itu. Bukannya kamu sedang sakit? Bisa keluar sebentar kan? Kita makan bersama." Ara tidak tahu harus bagaimana lagi. Terharu karena orang ini berbaik hati membawakan makanan karena dirinya mengaku sakit padahal bohong. Ara merutuk dirinya sendiri dan juga ... Kakek. Karena beliau, Ara terpaksa berbohong.


Ara mematut sejenak di depan cermin setelah Tristan menjauh dari pintu. Setelah itu Ara keluar dari kamar dan menghampiri Tristan yang mulai menyiapkan makanan yang ia beli di atas meja.


Dengan rasa senang membayangkan makan makanan lezat, kakinya melangkah pasti menuju meja. Namun wajahnya langsung masam saat melihat makanan apa yang di bawa pulang Tristan.


"Ayo duduklah. Kita makan ini bersama," ajak Tristan. Ara kecewa ternyata Tristan membelikannya bubur ayam. "Aku mengikuti langkahmu. Makan bubur ayam saat sakit. Kamu suka ini kan?" tanya Tristan bersemangat menunjukkan bubur ayam itu. Ara tersenyum terpaksa.


Kenapa harus bubur ayam? Aku ingin ayam pedas atau apalah. Ara meringis di dalam hati sambil menyuapkan bubur ke dalam mulutnya.


.......


.......

__ADS_1


.......


......................


__ADS_2