
"Sebaiknya Bapak cepat lepaskan saya sekarang. Takut kalau orang kampung datang. Bisa kena razia, kita." Ara memberi nasehat.
Tristan langsung setuju. Dia sadar sekarang tidak boleh lama-lama bermesraan. Mereka mulai jongkok di atas tanah untuk memanen kentang. Meski kaku, Tristan berusaha untuk bisa. Ini menjadi keseruan sendiri bagi Ara. Hingga ia tertawa berkali-kali melihat Tristan.
Sementara itu Tristan sendiri ikut tersenyum melihat tawa bahagia Ara.
***
Tristan muncul di rumah Ara dengan memanggul karunb berisikan kentang. Ara sudah bilang pada Tristan tidak perlu di bantu. Dia sudah biasa, tapi pria ini bersikeras untuk membawanya sendiri.
"Aku malu kalau bapak lihat kamu yang membawa karung, sementara aku berjalan dengan santai." Begitu Tristan bicara. "Lagipula aku kuat menggendongmu, kenapa aku tidak kuat membawa karung ini."
"Baiklah."
Meski kasihan karena kemeja Tristan jadi kotor, Ara membiarkan. Di rumah bapak sudah menunggu kedatangan kita berdua. Ibu juga sudah bersiap-siap karena di beritahu bapak.
"Pak! Ara datang! Bantuin Ara!" teriak ibu yang melihat Ara dan Tristan di jalan. "Cepetan Pak!"
"Iya." Bapak yang mau minum kopi tidak jadi. beliau langsung keluar menghampiri ibu.
__ADS_1
"Itu lihat. Bossnya Ara yang bawa karung kentang. Kasihan Pak. Cepat Bapak kesana buat bantu." Ibu yang melihat Tristan yang bawa karung, panik.
"Iya, iya." Bapak mendekat ke mereka berdua. Tristan terkejut.
"Ara, kenapa boss kamu yang bawa? Sini. Bapak yang bawa," pinta beliau. Ara merengut. Lagi-lagi dia kena salah karena Tristan.
"Bukan Ara, Pak. Saya yang meminta untuk membawanya." Tristan bicara untuk membela Ara.
"Ya jangan. Tamu kok di suruh angkat-angkat. Cepat, berikan ke saya." Tangan Bapak menjulur ke depan meminta karung di bahu Tristan.
"Tidak. Biar saya yang bawa." Tristan menolak. Ara melihat perebutan karung kentang itu dengan geregetan.
Pria itu mau membawa karung kentang lewat ruang tamu. Padahal lebih dekat lewat belakang. Namun karena Tristan sudah berada di depan pintu depan, Ara tidak jadi meminta Tristan lewat belakang. Karena justru memutar.
Ibu yang membawa nampan berisi sirup dingin dari belakang, terkejut melihat pria berkemeja bersih ini muncul dengan karung di bahunya.
"Ya ampun, Ara!!" jerit beliau tidak percaya. Ibu langsung meletakkan nampan dan menghampiri Tristan. Hendak merebut karung itu. "Turunkan di sini saja. Nanti bapak yang bawa ke belakang."
"Jangan Ibu. Biarkan saya yang membawanya." Tristan bersikukuh membawa sendiri karung itu. Ara muncul. Ibu mendelik. Lagi-lagi Ara kena salah. Ara menipiskan bibir.
__ADS_1
Kena lagi nih?
Tristan terkejut dengan pelototan itu. "Saya sendiri Bu, yang meminta membawanya." Tristan membela Ara.
"Ayo, ayo ke belakang. Kenapa lewat sini ... Tambah jauh kan ... Ara enggak kasih tahu tadi ya ..." Ibu geregetan pada putrinya. Bapak yang muncul belakangan juga ikut di pelototin ibu. Dua tersangka itu menipiskan bibir. Tahta pertama dalam rumah, tentu di pegang oleh ibu. Jadi mereka diam saja meski di salahkan oleh beliau.
Setelah melewati rintangan karena harus membawa karung kentang lewat dalam rumah, akhirnya Tristan sampai di halaman belakang.
"Ara! Bawa gelas sirupnya. Kasihan boss kamu ini kepanasan!" teriak ibu dari belakang. Ara yang sudah hendak minum, gagal. Bapak tergelak mendengar teriakan ibu. Maksudnya mencibir Ara yang kena teriakan ibu.
"Ya!"
.......
.......
.......
......................
__ADS_1