
Saat melihat di log panggilan tidak terjawab ternyata itu dari Kakek dan Jarvis. Saat tiba di resto tempat mereka membuat janji, kakek sudah menunggu Tristan.
"Aku datang dengan Ara, Kek. Maaf, jika kami terlambat," ujar Tristan. Kakek hanya menghela napas.
Meski sempat terkejut saat Tristan datang dengan Ara, kakek tidak bereaksi banyak. Namun Ara masih takut-takut.
"Ayo, duduk. Kakek tidak akan memakanmu," ujar Tristan berkelakar. Dengan bimbingan tangan Tristan pada pundaknya, Ara tersenyum canggung. Kakek tidak peduli.
Ara masih tidak nyaman. Akhirnya dia berinisiatif bicara. "Maafkan saya, Kek. Saya itu ..."
"Kamu pasti belum makan. Sebentar lagi makanan datang. Jadi makan siang saja sebentar lagi," kata Kakek memotong kalimat Ara dengan datar.
Gadis ini menoleh pada Tristan. Dia terkejut dengan kalimat Kakek. Bibir Tristan tersenyum. Dia tahu, Ara pasti sangat terkejut dengan sikap kakek yang mulai terbuka meski bicaranya di buat datar.
***
__ADS_1
"Kakek itu kebingungan untuk bersikap bagaimana padamu, Ara," ujar Tristan di sela-sela makan siang mereka di mulai. Padahal kakek tidak membicarakan dirinya, tapi justru Tristan yang bicara.
Ara mendelik meminta Tristan berhenti bicara soal tuan Haga.
"Kakek tidak masalah aku membicarakannya," ujar Tristan merespon reaksi Ara. Kepala Ara menggeleng mendengar pria ini bicara. Dia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk membuat Tristan diam membicarakan kakek. "Justru Kakek ingin bicara denganmu, Ara. Seperti saat kamu mengunjunginya dulu."
"Uhuk! Uhuk!" tiba-tiba kakek tersedak.
"Kakek!" jerit Ara dan Tristan hampir bersamaan.
Masih dengan batuk yang tersisa, tuan Haga meneguk minuman. Akhirnya batuk karena tersedak itu mulai berhenti.
"Kakek tidak apa-apa?" tanya Ara cemas.
"Kakek pasti tidak apa-apa, Ara," ujar Tristan menenangkan Ara, tapi gadis ini tidak mempedulikannya. Ara malah memfokuskan pandangannya pada kakek. Tristan tersenyum melihat itu.
__ADS_1
"Hhh ..." Kakek menghela napas karena lega. Beliau meletakkan gelas di tangannya. "Makanlah. Kakek sudah tidak apa-apa," kata tuan Haga yang tahu Ara sangat mencemaskannya.
"Oh, syukurlah." Ara akhirnya menghela napas lega juga. "Kakek juga bisa tambah makannya, tapi tidak boleh terburu-buru."
"Kakek ini tidak makan terburu-buru. Kakek hanya kesal kalian ini membicarakan kakek tanpa mengajak kakek bicara. Sopan santun macam apa itu," gerutu kakek yang di sambut gelak tawa oleh Tristan.
"Apa Kakek benar-benar ingin bicara dengan Ara?" tanya gadis ini ingin tahu. Kakek mendehem.
"Jangan membohongi diri kakek. Katakan saja apa mau kakek yang sebenarnya. Aku tidak akan memaafkan kakek, jika Ara pergi karena sakit hati sama sikap kakek," ancam Tristan.
"Kamu itu benar-benar bukan cucu yang baik, Tristan," geram tuan Haga.
Setelah tadi menoleh pada Tristan, kini kakek tua ini menoleh pada Ara. "Jangan menanyakan hal yang sudah jelas, Ara. Sejak kamu bicara denganku di ruangan Tristan, bukannya aku menyambutmu dengan baik? Lalu saat ini, aku tidak mengusirmu. Jadi apalagi yang kamu tanyakan? Semua ini sudah jelas bukan?" tanya kakek marah. "Hanya begitu saja tidak paham. Aku tidak tahu anak-anak jaman sekarang ini berpikir dangkal begitu, huh," cibir Kakek.
Ara takjub. Ara tertegun. Bola matanya langsung menatap Tristan dengan meneteskan airmata. Ara menangis.
__ADS_1
"Ha? D-dia menangis?" tanya Kakek terkejut. Tidak menyangka kalimat-kalimatnya membuat gadis di depannya itu meneteskan air mata.