
Ara mempercepat langkahnya menuju belakang dengan segala sirup. Tristan sedang berjalan ke depan dengan di dampingi ibu.
"Cepat, kasih minumannya," perintah ibu tidak sabar.
"Nih." Ara menyodorkan segelas sirup dingin.
"Terima kasih," ujar Tristan dengan senyum menawan. Ara mengusap rambutnya karena tersipu.
"Sebentar lagi makan, ya ..." Ibu meninggalkan mereka berdua.
"Ayo minum dulu. Jangan liatin aku terus," ujar Ara gemas. Tristan tidak segera minum sirup yang sudah di tangannya, justru tersenyum sambil menatap Ara. Tristan mengangguk dan meneguknya. "Sini gelasnya," pinta Ara. Tristan menyodorkan gelasnya yang sudah tandas.
Ara mengelap keringat Tristan yang meleleh.
"Sepertinya bajuku mirip serbet saja. Sejak tadi untuk mengelap keringat Bapak," ujar Ara.
"Maaf. Aku pasti terlihat kotor dan buruk," ujar Tristan merajuk. Pria ini bagai bocah saja.
"Sudah saya katakan, Bapak ini tidak mungkin terlihat buruk dalam keadaan apapun. Saat bawa karung kentang tadi aja terlihat keren dan tangguh." Ara menurunkan lengannya. Tristan tersenyum.
"Ini hanya secuil ketangguhan ku. Kamu belum tahu aku tangguh dalam hal lain." Kalimat itu terasa ambigu apalagi di tambah senyuman miring milik pria ini. Otak Ara melanglang buana. Itu membuatnya memerah tanpa sadar.
"Sepertinya kita harus masuk ke dalam. Ibu sudah menunggu." Ara menggaruk pelipisnya dan mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Tristan tersenyum melihat Ara yang kelabakan.
"Ya. Kita masuk ke dalam setelah aku cuci tangan dan kaki." Tristan menepuk pelan kepala Ara.
**
__ADS_1
"Maaf Pak soal tadi. Pasti gara-gara Ara dan Bapak ini." Ibu langsung meminta maaf.
"Iya tidak apa-apa, Bu."
"Ayo makan dulu," ajak Bapak. Meja makan sudah penuh dengan masakan kampung. Ara menggeser kursi untuk Tristan. Pria ini mendekat dan duduk.
"Saya jadi merepotkan Ibu dan Bapak."
"Tidak apa-apa. Ada tamu ya harus repot. Masa tamu di biarkan saja," kata Bapak. "Lagipula Bapak, ini atasan Ara. Kita ya harus siap repot."
"Panggil Tristan saja. Saya masih muda jika harus di panggil, Pak," ujar Tristan. Ara melirik. Bisa saja nih Boss. Ibu memberi kode putrinya untuk menyiapkan piring dan sendok untuk Tristan.
"Masa boss nya Ara kita manggil nama saja. Ya enak lah, ya kan Bu?" Bapak melempar pertanyaan pada istrinya.
"Iya benar." Ibu setuju.
"Panggil namanya saja, Pak." Ara akhirnya mengeluarkan suara.
"Nak Tristan, begitu?" kata bapak membuat Ara melebarkan mata mendengarnya.
"Ya, itu lebih baik. Terdengar akrab," sahut Tristan menanggapi seraya tersenyum. Ara ganti melebarkan mata ke arah Tristan. Apa-apaan mereka? Di pandang seperti itu Tristan hanya menaikkan alisnya.
"Ayo makan dulu." Karena piring Tristan sudah siap dengan nasi sekaligus lauknya, ibu mempersilakan. "Maaf jika makanannya tidak mewah."
"Tidak. Menurut saya ini cukup mewah, karena ibu sendiri yang membuatnya. Masakan ibu enak." Tristan yang sudah dengar soal ibu yang pandai memasak dari mulut Ara, bicara dengan lancar.
"Aduh, begini saja mewah. Ibu jadi malu." Ibu tertawa dan di ikuti Bapak.
__ADS_1
**
Sore menjelang petang. Tristan masih ada dirumah Ara. Bahkan pria ini sudah mandi meskipun ia tidak ganti baju.
"Kapan Bapak pulang?" tanya Ara heran.
"Entahlah," sahut Tristan santai.
"Kenapa enggak jelas? Bukannya Bapak besok masih harus berkerja?"
"Tidak. Aku bilang pada Jarvis untuk ambil cuti."
"Cuti? Cuti apa?" tanya Ara heran.
"Cuti karena sudah lama tidak bertemu denganmu." Ara menipiskan bibir mendapat jawaban itu. "Jadi ... mungkin aku akan tinggal di sini." Ara membelalakkan mata.
"Jangan main-main, Pak."
"Aku sudah berhenti bermain-main dengan mu setelah aku menyatakan perasaanku, Ara," tekad Tristan. "Ini serius."
.......
.......
.......
......................
__ADS_1