KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 102 Tamat


__ADS_3

Tristan berdiri dan memeluk Ara. Kakek masih tertegun melihat gadis ini menangis.


 


"M-maafkan Ara. Aku hanya ..." Ara masih menangis. Hingga suaranya tertelan oleh tangisan.


 


"Sudah, sudah. Tidak apa-apa. Jangan menangis. Memangnya ini perlu di tangisi?" Tristan mengelus kepala Ara dengan lembut.


 


"Dia ... Dia kenapa?" tanya Kakek  kebingungan.


 


"Dia terharu kakek mau bicara dengannya. Ara kan takut kakek tetap memperlakukannya seperti saat kakek meminta Ara menjauh dariku," jelas Tristan.


 


Kepala tuan Haga mengangguk-angguk. Ia paham.


 


"Maaf soal itu Ara," kata kakek menyesal. Ara terkejut mendengar permintaan maaf dari tuan Haga. Ia langsung meminta Tristan melepaskannya.


 


"Jangan meminta maaf, Kakek. Seharusnya Ara yang meminta maaf sudah membuat kakek tidak nyaman dengan keberadaan Ara. Maafkan Ara." Ara langsung meminta maaf juga.  Tidak baik membuat orangtua harus meminta maaf pada seorang anak.


 


"Tidak. Kakek yang bersalah sudah bicara macam-macam. Kakek menyesal."


 


"Tidak. Ara yang salah sudah masuk ke dalam kehidupan kakek yang nyaman."


 


"Kamu itu tidak mau mengalah, ya? Biarkan kakek ini meminta maaf. Jangan terus mengambil kesempatan kakek meminta maaf," gerutu kakek membuat Ara menutup mulutnya. Tristan tergelak.


 


"Maaf," lirih Ara seraya melirik ke Tristan.


 


"Semua sudah melunak. Jadi ... Kakek akan mengatakannya sekarang atau aku yang harus mengatakannya sendiri?" tanya Tristan membuat Ara yang masih mengusap sisa airmata di ujung mata bingung.


 


"Tunggu. Biarkan Kakek dulu yang bicara. Setelah itu terserah kamu," kata Kakek.


 


"Baiklah. Ayo, kamu duduk dengan benar. Minum dulu kalau mau." Tristan memberi saran.


 


"Kakek mau bicara. Aku harus mendengarkan," tolak Ara. Tidak baik membiarkan kakek menunggu untuk bicara jika ia ingin minum.


 


"Minum saja dulu. Kamu habis menangis. Pasti kerongkonganmu kering," kata kakek ikut menyarankan. "Aku bisa menunggu."


 


Kepala Ara mengangguk. Tristan menyerahkan minuman untuk Ara.


 


Setelah meneguk minuman, Ara menghadap ke kakek untuk mendengarkan beliau bicara.


 

__ADS_1


***


 


Ara menautkan jari-jarinya dengan erat. Kelopak matanya menutup. Ia cemas dan gelisah. Dengan duduk di depan cermin, ia terus mencoba tenang. Gaun putih yang ia pakai membuatnya tampak menawan.


 


Pintu kamar ganti terbuka. Membuat Ara membuka matanya.


 


"Halo teman."


 


"Jenny!" seru Ara senang. Jenny segera menghampiri Ara dan memeluknya. "Aku ikut bahagia. Selamat ya ..."


 


"Terima kasih."


 


Jenny melepas pelukannya. Ia melihat sahabatnya dengan teliti.


 


"Kamu sudah sempurna. Ini bagus. Tristan pasti akan syok melihat penampilan indahmu," puji Jenny.


 


"Bisa saja kamu." Ara tergelak.


 


"Aku tidak menduga, setelah semua hal yang terjadi pada kalian berdua, ternyata menikah adalah takdir kalian. Aku senang," kata Jenny tiba-tiba mewek.


 


 


"Aku menangis karena ternyata aku di tinggalkan oleh kamu karena menikah duluan. Aku iriii!!"


 


"Jangan begitu. Sebentar lagi kamu akan menikah juga kok. Lagian kita tidak akan terpisah meski aku sudah menikah." Ara mencoba menenangkan temannya.


 


Pintu kamar terbuka lagi tanpa mereka sadari.


 


"Bicara gampang. Aku belum punya pasangan. Dan Tristan pasti tidak akan mengijinkan kamu terus bermain denganku." Jenny terus menangis.


 


"Tentu saja aku tidak akan mengijinkan Ara terus saja bermain denganmu, Jenny. Karena itu membahayakan," ujar Tristan yang mendengar kalimat Jenny barusan.


 


"Tristan?" tanya Jenny terkejut. Ara juga ikut terkejut.


 


"Kenapa kamu kesini? Bukannya pengantin pria harus menunggu diluar sebelum waktunya tiba?" tanya Jenny yang menyeka air matanya dengan punggung tangan.


 


Ara yang tiba-tiba gugup langsung menunduk.


 


"Tidak ada peraturan seperti itu. Aku rindu pada istriku," kata Tristan. Ara merasakan wajahnya langsung memerah hingga daun telinganya.

__ADS_1


 


"Dia belum menjadi istrimu, tahu," protes Jenny. Tristan tidak peduli. Dia mendekat ke Ara yang menunduk.


 


"Ara," panggil Tristan lembut. Perlahan Ara mendongak. Tristan tampak sangat tampan dengan setelan jas berwarna putih gading. Bagai seorang pangeran yang datang menjemput kekasihnya. "Aku tidak bisa menunggu lama untuk bertemu denganmu."


 


"Bukannya itu sebentar lagi?" tanya Ara pelan.


 


"Tidak, tidak. Sebentar lagi itu sangat lama untukku. Aku harus menemuimu. Jika tidak, aku akan menggila di sana."


 


Tristan langsung memeluk Ara. Mereka membiarkan Jenny yang keberadaannya bagai udara hampa.


 


"Bisa aku menciummu sekarang?" tanya Tristan.


 


"S-sekarang? Disini?" tanya Ara terkejut. Saat ini Jenny sedang berada di dalam ruangan yang sama dengan mereka.


 


"Ya," kata Tristan yang tidak peduli lagi Ara meragu. Ia langsung mellumat bibir Ara. Hingga suara napas mereka terdengar meresahkan di telinga Jenny yang berada di sana.


 


"Hei! Kalian sangat tidak sopan berciuman dengan penuh gairah di depan jomlo!" seru Jenny protes. "Aku, sangat-sangat iri tahu?!" Jenny kabur dari ruangan ganti yang mulai memanas oleh cumbuan itu. "Dasar mereka tidak tahu diri," omel Jenny di depan lorong setelah menutup pintu kamar ganti.


 


"Permisi ... Apa ini kamar ganti pengantin wanita?" tanya seseorang dengan sopan. Jenny menatap pria itu. Ia terpana. "Nona?" tegur pria itu lembut.


 


"Ah, ya. Maafkan aku. Anda ini siapa?" tanya Jenny segera menghalau pemikirannya.


 


"Saya sekretaris tuan Arga Hendarto. Saya di beri perintah untuk menanyakan dulu apa benar kamar ini kamar ganti pengantin perempuan? Istri beliau ingin bertemu dengan calon istri tuan Tristan."


 


"Y-ya, benar, boleh, tapi ... Tunggu sebentar. Akan saya beritahu dulu dia. Karena sekarang di dalam sedang ... “


 


“Baik. Akan saya sampaikan. Beliau akan datang ke sini sebentar lagi.” Pria itu langsung mengangguk mengerti.


 


“Ya,” sahut Jenny masih menatap pria itu dengan kagum. “Dia tampan dan sopan.”


.......


.......


.......


...T A M A T...



Baca cerita yang lain ya ...



__ADS_1


 


__ADS_2