
"Aku bertemu Tristan," kata Jenny yang muncul di rumah orang tua Ara. Dia sengaja muncul karena ingin tahu kabar sahabatnya.
"Tristan? Kamu memberitahu dia kalau aku ada di sini?" Kelihatan sekali kalau gadis ini juga ingin bertemu. Jenny diam sejenak.
"Tidak."
"Oh tidak ya ..." Ara jadi melemah. Dia merasa kecewa.
"Tristan sempat bertanya kamu menangis atau enggak saat pulang dari rumah kakek ke rumah sewa."
"Dia mencariku kesana?" tanya Ara yang di jawab dengan anggukan oleh Jenny. Ara menggigit bibirnya lembut.
Dia bahagia pria itu sempat berusaha mencarinya. Namun kembali lagi pada benaknya yang berpikir pada kenyataan.
"Itu berarti dia sudah bertemu dengan kakek." Kepala Ara tertunduk. Meskipun Tristan sempat mencarinya. Bukan berarti mereka bisa kembali seperti semula. Tidak.
"Dia akan di jodohkan?" tanya Jenny.
__ADS_1
"Sepertinya." Ara seperti mau menangis saat mengatakan ini.
"Lupakan saja dia kalau bisa. Karena sudah beberapa hari dia tetap tidak menemuimu. Dia tidak sungguh-sungguh. Kamu tahu orang kaya yang seperti itu. Tidak mudah, tapi coba saja." Benar kata Jenny. Tidak ada kabar lagi dari pria itu. Ara tersenyum tipis.
***
Petok! Petok!
Terdengar suara ayam berkelahi di depan halaman belakang rumah Ara.
"Aduh, ayam ini ... " ujar Ara gemes. Dia ngeri. Niatnya mau jemur pakaian di tali jemuran yang terbentang di sana, tapi ayam yang lagi gelut itu menghambatnya. Jadi dia hanya bisa menunggu dengan ember berisi pakaian basah.
Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya waktu damai datang. Dua ayam jago yang gelut itu berpencar. Ara ingat lagi soal Tristan. Ia mendesah lelah.
Kisah asmaranya yang hanya sekejap bagai mimpi. Semua seperti ia baru bangun dari tidur, mimpi itu lenyap tak bersisa. Yang masih terasa adalah ciuman itu. Ara mendengus jika mengingatnya. Membuat hatinya berbunga-bunga, juga bersedih.
"Tristan maaf. Aku jadi kangen kamu ..." Ada airmata di ujung matanya. "Kenapa mendrama sekali," ejek Ara pada dirinya sendiri seraya mengusap butiran air mata yang mau menetes itu.
__ADS_1
Siang ini terik matahari menyengat ubun-ubun kepala. Ara mengusap dahinya yang berkeringat. Ia bukan sedang sauna. Dia berada di ladang. Demi mengisi kekosongan harinya karena kabur dari magang, Ara membantu orangtuanya di kampung.
Jika tadi pagi-pagi mengantar ibu ke pasar sekaligus membantu memasak, siang ini dia membantu ayah memanen kentang di ladang.
Belum hilang rasa pusing karena tadi malam terus menerus menangis, kini Ara harus mengingat lagi soal memanen kentang di rumah tuan Haga.
"Mungkin terlalu indah jika aku berharap bisa punya kekasih seorang Tristan. Sekarang saja aku berada di ladang. Pasti sekarang ia sudah berada di restoran mahal dengan calon pengantin." Ara mengeruk tanah dengan tangan untuk memanen kentang.
"Apa Tristan makan dengan baik, ya? Jika lihat kesetiaan Jarvis, kemungkinan dia akan datang ke apartemen Tristan untuk mengurusi makannya. Namun apa Tristan mau? Pria itu kaku sekali. Jarang-jarang bisa dekat dengan orang. Huh." Ara melempar kentang yang sudah berhasil ia keruk dari dalam tanah ke kumpulan kentang yang sudah di panen tadi.
"Aku memang tidak bisa dekat dengan sembarang orang," ujar sebuah suara dari belakang. Ara menoleh ke asal suara.
"Tristan?!"
.......
.......
__ADS_1
.......
......................