
"Serius? Kamu tahu apa itu serius?" tanya ibu.
"Ya. Saya ingin melamar Ara," jawab Tristan membuat Ara terus-terusan terkejut dengan kalimatnya.
"Kamu tahu artinya melamar, kan? Itu bukan sekedar menyukai lalu pacaran."
"Ya. Saya berniat menikahi Ara."
"Hei ..." Ara langsung angkat bicara. Dia tahu itu tidak mungkin. Karena kakek tidak akan setuju. Ibu menoleh dan meminta putrinya diam. Ara pun tidak bisa ikut bicara.
"Aku tidak tahu bagaimana hubungan kalian, tapi ... jika memang kamu berniat menikahi putriku, datang dengan keluargamu. Bukan datang sendiri seperti ini. Harus ada orang tua yang bisa di ajak bicara soal ini," kata ibu.
Ara melihat ibu dengan tatapan tidak percaya.
Tristan melebarkan mata.
"Ibu ... setuju?" tanya Tristan ragu.
"Putriku sepertinya juga menyukaimu. Kamu sudah bekerja, lalu apa?" Ibu tampak tidak berpikir panjang. Ini membuat Tristan tersenyum tipis merasa bahagia. Ara terdiam seraya menunduk. Dia memejamkan mata sekejap. Ada beban berat.
Meskipun Tristan mengatakan serius ingin menikahiku, kakek tetap tidak akan berubah pikiran.
Ibu melirik ke arah mereka berdua.
"Ingat, keluarga adalah hal penting lainnya jika ingin menikahi putriku. Walaupun kalian saling mencintai, jika keluargamu tidak setuju ... semua akan batal. Ibu tidak akan memaksakan kehendak kepada orang lain yang tidak menyukai putriku." Ibu menjeda kalimatnya seraya menoleh pada Ara. "Ibu juga yakin putriku juga mengerti soal itu. Dia tidak mau memaksa orang lain untuk menyukainya."
__ADS_1
Ibu sepertinya juga paham, soal keluarga Tristan yang tidak menyetujui hubungan mereka. Makanya beliau memberi peringatan keras untuk Tristan menjauh jika putrinya di tolak oleh keluarganya.
Ara menatap Tristan yang menunduk. Ia mencintai Tristan, tapi jika kakek tidak setuju ... dia tidak akan terus memaksakan diri untuk meminta di terima. Ibu sudah paham soal itu. Makannya dia tidak membantah saat ibu bicara. Semua sudah terwakilkan oleh kalimat ibu.
"Beri saya waktu untuk bisa membawa keluarga saya meminta Ara secara resmi." Tristan juga paham maksud ibu.
"Ibu bisa memberi waktu. Hanya saja itu juga ada batasnya. Putriku tidak bisa menunggu sampai kamu benar-benar bisa membawa keluargamu ke hadapan ibu. Lakukan itu secepat mungkin." Ibu benar-benar langsung mengambil keputusan serius.
"Ya. Terima kasih ibu masih mau memberi saya waktu."
"Bersiaplah untuk sarapan pagi. Di rumah ini wajib sarapan." Meski tadi bicara dengan serius dan menimbulkan atmosfer menegangkan, ibu langsung berubah kembali seperti semula.
***
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Ara pelan saat berdua bersama Tristan di ruang tamu.
"Tentu saja."
"Takut aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan ibu?"
"Hhh ... Aku tidak menduga ibu seserius itu." Ara menyilangkan tangan seraya mengerjapkan mata.
"Aku rasa ibu memang harus begitu." Tristan justru senang. Ara melirik pria ini.
"Bapak tidak mungkin serius saat mengatakan ingin menikah, kan?"
__ADS_1
"Kamu terlalu meremehkan aku, Ara. Juga telinga ini tidak pernah mendengarkanmu dengan baik." Tristan menjewer pelan telinga Ara. Membuat gadis ini terkejut dan memukul pelan tangan Tristan.
"Kenapa jadi menjewer telingaku, sih?" gerutu Ara.
"Aku serius soal menikah. Jangan-jangan kamu sendiri yang tidak serius menikah denganku." Tristan curiga. Ara diam. Kali ini menyandarkan punggungnya pada kursi tamu.
"Di lamar pria tampan dan kaya adalah impian banyak wanita. Termasuk aku. Namun itu jadi sebuah beban berat karena aku tahu semuanya tidak akan terwujud dengan mudah. Masih banyak rintangan di depan. Aku sedikit tertekan." Ara mendesah.
Tristan mengulurkan tangan mengusap kepala Ara.
"Tidak banyak rintangan Ara. Hanya kakek. Hanya cukup meyakinkan beliau saja jalan kita menuju ke pelaminan." Tristan tersenyum menenangkan.
"Rintangan yang 'hanya' itulah yang membuatku tertekan." Ara menoleh dengan sorot mata tajam saat Tristan masih mengusap kepalanya. "Justru itu yang terberat."
"Kamu hanya perlu menunggu dengan tenang Ara. Kamu tidak perlu berpikir. Biar aku saja yang berpikir mencari jalan keluar." Sorot mata Tristan bersungguh-sungguh.
"Jadi aku bisa santai tanpa cemas?" tanya Ara penuh harap.
"Tentu saja. Doakan aku. Diam di tempat aku bisa menemukanmu. Lalu aku akan berjalan ke arahmu." Ara mendengus lucu saat Tristan mengatakannya.
"Belajar darimana kata-kata itu?" ledek Ara. Ibu melongok sebentar ke arah ruang tamu. Kemudian mengerjapkan mata.
.......
.......
__ADS_1
.......