KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 19


__ADS_3


Dari keterangan yang dikatakan oleh Jarvis, Tristan jadi tahu dengan anak magang baru bernama Maya.


"Dia yang bernama Maya dari kantor keuangan, Tuan. Karyawan magang yang baru yang Anda cari," kata Jarvis menunjukkan foto yang ada di berkas pria ini.


"Dia?" tanya Tristan heran.


"Iya," sahut Jarvis yakin. Namun dia tidak tahu dengan benar tujuan direktur ini mencari karyawan magang bernama Maya.


"Apa menurutmu dia mirip dengan seseorang?" tanya Tristan membuat Jarvis mengerjapkan mata tidak paham.


"Siapa Tuan?"


"Wanita yang berkencan denganku waktu itu," ungkap Tristan akhirnya. Jarvis terdiam.


"Kenapa Anda berpikir seperti itu?" tanya Jarvis ingin tahu.


"Tidak. Tidak ada." Tristan memilih menutup mulut lagi soal itu.


Melalui kesempatan yang langka, pria ini bisa berada dalam situasi bisa bicara dengan gadis itu dengan bebas. Ketika gadis itu berada di lorong yang kebetulan sepi.


Namun kening Tristan mengerut saat bertemu langsung dengan gadis itu.


"Dia, yang bernama Maya?" tanya Tristan.


"Benar Tuan," sahut Jarvis. Gadis itu membungkuk saat melihat dua orang berpakaian rapi dan elegan lewat. Meskipun tidak begitu tahu persis siapa mereka, melihat sekilas saja semua orang tahu bahwa Tristan dan Jarvis merupakan orang penting di perusahaan ini.


"Selamat sore," sapa gadis bernama Maya itu.


"Sore. Kamu yang bernama Maya?" tanya Tristan tanpa basa-basi membuat gadis itu gugup dan sedikit takut.


"I, iya Pak."


"Apa benar kamu yang makan siang di balkon gudang dokumen?" Pertanyaan Tristan membuat Jarvis melirik ke arah atasannya dengan tatapan aneh.


"B-benar, Pak." Maya makin gugup karena merasa merasa melakukan kesalahan dengan makan siang di tempat itu. "Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau tidak boleh makan di sana. Saya ..."


"Sudah. Cukup." Tristan memotong gadis itu yang terus saja bicara karena ketakutan. Maya mengangguk mengerti. Jarvis diam saja karena tidak mengerti ada apa sebenarnya. Dia hanya menemani. "Saya tidak bertanya dan menyalahkan soal itu. Saya hanya ingin bertanya, apakah kamu yang menyebut namaku saat makan siang di sana dengan lantang?" tanya Tristan sambil menyipitkan mata.


Jarvis mengerjap lagi. Memanggil namanya? Kenapa? tanya Jarvis di dalam hati. Dia masih tidak mengerti.


"N-nama Anda, Pak? M-maaf, nama Bapak siapa?" tanya gadis dengan tubuh kurus itu polos. Tristan terkejut. Jarvis juga demikian. Bahkan pria ini harus menahan tawa. Tristan melirik dingin ke arah sekretaris nya. Jarvis menahan dengan benar agar tawanya tidak keluar.


Dia anak baru. Jadi mungkin wajar tidak tahu namaku. Tristan menenangkan dirinya sendiri dengan logika yang layak. Tidak ingin terbawa emosi karena merasa bisa segera menemukan perempuan di kencan itu, tapi nyatanya tidak.


Melihat raut wajah kecewa pria di depannya, Maya menunduk takut.


"Kamu anak baru, jadi belum tahu siapa yang sedang bicara denganmu," kata Jarvis yang sudah bisa mengatasi rasa gelinya.


"I, iya." Maya seperti mendapat pertolongan.


"Dia adalah direktur perusahaan tempat kamu magang," jelas Jarvis membuat gadis itu sangat terkejut.


"Oh, maaf. Saya benar-benar tidak tahu." Maya menunduk sambil menyesali dirinya.


"Tidak masalah. Jadi jika kamu tidak tahu siapa aku, siapa yang ..." Tristan terdiam. Dia merasa ada yang ia temukan.


"Maaf, Pak. Saya tidak sendirian di sana. Saya bersama teman saya. Dia anak magang juga. Ara namanya. Kalau dia mungkin tahu nama Bapak. Bahkan dia tahu siapa Bapak yang sebenarnya."

__ADS_1


"Tahu saya yang sebenarnya?" tanya Tristan mendesis ingin marah. Jarvis melebarkan mata terkejut. Mulut Maya langsung diam. Karena gugup dan takutnya, dia bicara sembarangan. Kepala gadis ini menunduk sangat bersalah. Ia jadi makin takut.


"Mungkin maksudnya tahu kalau Anda adalah direktur perusahaan ini, Tuan. Temannya itu tahu dengan benar siapa Anda di bandingkan karyawan ini." Jarvis berusaha meluruskan selurus-lurusnya. Dia tidak ingin ada bencana. Tristan menggeram sekilas.


"Jadi kemungkinan ... teman kamu itulah yang menyebut nama saya?" tanya Tristan setelah bisa meredakan emosinya. Maya mengangguk dengan takut.


**


Setelah bertemu dengan Tristan, Maya bercerita pada Ara apa yang terjadi tadi.


"Siapa yang menyebut namanya, begitu?" tanya Ara terkejut. Maya mengangguk.


"Iya. Pak direktur berpikir akulah yang menyebut namanya. Padahal namanya saja aku tidak tahu. Bahkan wajahnya aku tahu hari ini." Maya tidak habis pikir. Dia mengungkapkan betapa dia heran dengan tingkah atasannya itu.


Sementara itu Ara termenung. Menyebut namanya?


"Beliau mendengar ada seseorang di luar ruangan tengah menyebut namanya. Makanya beliau keluar dari ruang dokumen dan mencari siapa orang itu ..." lanjut Maya membuat Ara menelan salivanya sendiri.


"Jadi dia ada di balik ruang dokumen yang ada balkonnya itu?" tanya Ara memperjelas dengan lambat. Bahkan raut wajahnya terlihat tegang.


"Iya."


"Lalu? Lalu kamu menjawab apa?" kejar Ara menggebu.


"Em ..."


"Katakan. Katakan apa yang kamu bicarakan saat dia bertanya soal itu?" paksa Ara sambil mengguncang-guncangkan lengan gadis ini.


"I-iya. Aku akan katakan. Kamu membuatku takut. Lepaskan tanganku." Maya merengek.


"Oh, sori." Ara langsung melepas pegangan tangannya pada lengan Maya yang kurus.


"Karena aku gugup, aku mengatakan bahwa mungkin itu kamu. Karena kamu lebih tahu direktur itu daripada aku," ungkap Maya


"Kenapa? Bukankah itu benar?" Maya bersikap polos. Ara mengangguk-anggukkan kepala sambil meringis. Itu memang fakta. Namun itu tidak di benarkan karena ia ingin menghapus kenyataan bahwa mereka pernah bertemu di luar kantor.


Ara ingin pria itu lupa pada perempuan yang menjadi pengganti Jenny. Karena nyatanya sekarang mereka sudah menikah. Jadi kenangan itu biarlah berlalu tanpa ada pembahasan lagi. Biarlah Jenny bahagia dengan pria yang di jodohkan dengannya itu.


"Lalu dia percaya padamu?" tanya Ara lagi.


"Emm ... Aku tidak tahu. Karena beliau hanya bergumam tidak jelas," sahut Maya. Semoga dia tidak bisa mengingatku.


"Ngomong-ngomong, direktur itu ... tampan ya," lanjut Maya sambil tersenyum senang. Ara hanya merespon dengan lirikan saja. "Karena bicara lumayan panjang, aku jadi bisa benar-benar melihat wajahnya," Maya masih membahas ketampanan pria itu.


Dia memang tampan. Sangatlah tampan. Sampai aku sendiri masih ingat saat kencan itu. Tristan.


**


Jadi kemungkinan gadis itu yang memanggil namaku? tanya Tristan di dalam hati. Apa dia yang berani menyebut namaku dengan lantang? Jarvis melirik ke arah atasannya. Pria itu sedang bergumam. Seperti sedang berdialog dengan dirinya sendiri.


Saat ini mereka sedang berada di dalam lift.


Aku memang sempat berpikir ia mirip dengan seseorang. Namun apakah mungkin? Itu cafe mewah. Gadis dengan motor butut itu tidak akan terpikir untuk kesana. Karena ia akan berpikir ulang untuk membeli sesuatu di cafe mewah yang pastinya menjual makanan dan minuman dengan harga mahal.


Apalagi tampilan perempuan itu sangat berbeda. Dan gadis bermotor butut itu tidak terlihat sebagai seorang player. Dia bersih.


Apakah telingaku hanya sedang berpura-pura mendengar suara seseorang? Berangan-angan untuk bertemu seseorang yang sudah berani membohongi dan mempermainkan aku? Sialan.


Jarvis merasakan hawa dingin dan menakutkan. Ia yakin itu berasal dari pria bertubuh tinggi tegap di depannya. Tristan.

__ADS_1


Apa yang sedang ada dalam pikirannya, hingga tubuhnya menguarkan aura menyeramkan itu? Jika itu bukan hal baik, segera menyingkirlah. Aku tidak mau menjadi korban kemarahannya yang tidak aku ketahui. Cukup sudah ia marah besar karena masalah itu. Masalah yang tidak terduga itu. Jarvis merapal doa di dalam hati.


Pintu lift terbuka. Karena pria itu sepertinya masih berpikir keras, Tristan tidak menyadari bahwa pintu sudah terbuka.


"Tuan," tegur Jarvis hati-hati. Sangat hati-hati. Tristan tidak mendengar teguran Jarvis. "Tuan," tegur Jarvis lagi. Bersamaan itu, ia mendekat ke arah pintu dan menahannya. Tristan mengerjap mendapat teguran itu setelah kedua kalinya. Kepalanya mendongak. "Pintu lift sudah terbuka, Tuan." Jarvis mengingatkan. Tristan kembali ke alam nyata setelah tadi berada di dalam alam berpikir.


Pintu lift memang terbuka. Tristan langsung keluar setelah melirik tangan Jarvis berada di pintu lift mencegahnya tertutup. Jarvis menghela napas setelah melepas pegangannya pada pintu lift. Tuannya sedang melamun tadi.


"Tidak ada jadwal bertemu klien lagi hari ini, Jarvis?" tanya Tristan yang berjalan di depan pria itu.


"Tidak, Tuan."


"Jadi aku free sekarang?"


"Ya. Selama tidak ada halangan, Anda free. Karena tidak ada jadwal pekerjaan yang bisa menghalangi Anda." Jarvis bangga bahwa semua pekerjaan sudah selesai. Ia juga akan beristirahat.


"Aku justru ingin sibuk. Lebih sibuk dari biasanya," kata Tristan setengah menggeram. Jarvis menipiskan bibir menelan rasa senangnya. Pria ini adalah maniak bekerja. Dia keliru jika berpikir bahwa Tristan akan senang ada waktu luang untuknya.


Ada suara keributan yang samar-samar terdengar dari arah luar. Tristan sudah ingin melihat ke sana, tapi perhatiannya teralihkan karena ponselnya berdering. Pria ini melihat ke layar ponselnya. Terdengar ******* lelah dan decakan kesal dari bibir Tristan. Dia tidak ingin menerima panggilan itu. Ponsel itu kembali pada saku jas lagi.


Langkah mereka makin mendekat ke lobi perusahaan. Suara keramaian kembali terdengar. Kini semakin jelas daripada tadi. .


Kali ini dering ponsel Jarvis terdengar.


"Jarvis di sini Tuan," kata Jarvis membuat Tristan melirik.


"Apakah Tristan bersamamu?" tanya tuan Haga.


"Benar, Tuan." Sambil mengikuti langkah Tristan, Jarvis menerima telepon dari Tuan Haga.


"Berikan ponselmu padanya. Aku ingin bicara dengannya," kata kakek Tristan ini. Rupanya karena panggilannya di tolak, beliau menghubungi sekretarisnya.


"Baik." Jarvis tidak bisa menolak. "Maaf Tuan. Kakek Anda ingin bicara." Jarvis mensejajarkan langkahnya dengan Tristan, lalu menyodorkan ponselnya pada atasannya itu.


"Katakan padanya bahwa aku tidak ingin bicara," tolak Tristan tegas.


"Maaf Tuan besar. Tuan Tristan tidak ingin bicara." Jarvis menyampaikan pesan yang di katakan Tristan.


"Kurang ajar! Jadi dia tetap akan menjadi pembangkang, hah?!" teriak tuan Haga marah. Jarvis sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Tristan tetap tidak peduli.


"Gunakan mode loud speaker," perintah tuan Haga.


"Baik, Tuan." Jarvis mengganti ponselnya dengan mode loud speaker. "Tuan Haga akan bicara." Jarvis mencegah langkah Tristan dengan berhenti tepat di depan pria ini sambil menyodorkan pisau.


"Dengar, Tristan. Saat ini berita tentangmu terkuak. Aku sudah memperingati mu soal ini. Jadi dengarkan aku. Lebih baik jangan keluar sebelum semuanya mereda."


Tristan menipiskan bibir geram. Kakeknya sangat gigih ingin bicara dengannya. Jarvis hanya terdiam mendengar dan melihat cucu dan kakeknya ini akan berdebat.


"Aku tidak ingin bicara soal itu," bantah Tristan.


"Kau tahu itu akan membuat citra mu buruk. Begitu juga citra perusahaan. Hentikan sifat kaku mu itu dan dengarkan kakek mu ini, bocah!" Tuan Haga sangat marah.


Saat itu Ara melintas. Bola mata Tristan langsung membuat lingkaran target demi membuat gadis itu tidak bisa lepas dari pandangannya.


"Dia ...," desis Tristan.


.......


.......

__ADS_1


.......


......................


__ADS_2