KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 46


__ADS_3

Ara terbangun karena mimpi buruk. Ia seperti sedang di tekan dengan sak berisi pasir berpuluh-puluh ton. Dalam mimpi dia berencana membuat rumah besar untuk dirinya, tapi tertindih sak pasir.


Sinar matahari menyerobot masuk. Itu pertanda ini sudah siang. Ara langsung bangkit dari tempat tidur dengan tergopoh-gopoh. Selain dia harus ke kantor untuk berkerja, dia juga harus memasak karena Tristan sudah menggajinya di depan.


Dia langsung melesat ke kamar mandi dan keluar dengan cepat.


Suasana apartemen ternyata lengang. Ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan pria itu. Sedikit curiga. Ia segera mendekat ke pintu kamar Tristan dengan mengendap-endap. Memang tidak ada suara apapun didalam saat ia mencoba menempelkan telinga di sana.


"Jadi kemana orang itu?" Tubuhnya berjingkat saat ponsel yang berada di saku piyamanya bergetar. "Tristan?" baca Ara terkejut. Ia segera mendekatkan ponsel ke daun telinganya. "Ya, halo Pak."


"Kamu sudah bangun?"


"Ya, Pak. Anda dimana?"


"Aku sudah di kantor." Bola mata Ara langsung melebar saat melihat jam digital di ponselnya. Ini sudah jam setengah 9!


"M-maafkan saya, Pak. Saya terlambat bangun. Saya tidak bisa memasak buat Anda dan juga tidak berangkat kerja. Maafkan saya." Kepala Ara mengangguk-angguk berulang kali seperti bicara dengan Tristan langsung.


"Aku sudah menyuruh Jarvis untuk mengijinkanmu."


"Kenapa Anda tidak membangunkan saya, Pak? Jadi saya bisa menyelesaikan tugas saya semuanya." Ara benar-benar merasa butuh pertolongan untuk membangunkannya sekarang.


"Jadi ... aku boleh masuk ke kamarmu dan membangunkanmu?"


"Eh?" Ara terkejut Tristan bicara seperti itu. "Emmm ... maksud Saya, Anda bisa mengetuk pintu kamar saya. Begitu." Ara meralat.


"Jadi begitu, ya ..." Kenapa Ara malu sendiri dengan kalimat Tristan? Seperti sedang di goda. Sepertinya jiwanya belum terkumpul karena terkejut bangun kesiangan. Mungkin. "Aku tahu kamu kelelahan karena sudah memasak dan membuat kue untuk kakek. Kamu terlalu sibuk mengurusi acara pertemuan dengan kakek jadi belum istirahat. Sekarang kamu bisa istirahat seharian."


"Terima kasih, Pak."


"Terima kasih juga buat kamu. Kakek sepertinya kesenangan dengan roti buatanmu."

__ADS_1


"Benarkah? Syukurlah."


***


Ara benar-benar tidak di perkenankan untuk memasak dan sebagainya oleh Tristan. Setelah pulang dari kerja, pria itu pergi entah kemana. Hingga pagi ini ia tidak bisa menemukan pria itu. Kemungkinan Tristan tidur di luar.


"Kemana saja kamu kemarin?" tanya Rose ingin tahu. Ara lupa bertanya ia tidak masuk dengan ijin apa.


"Saya kurang enak badan, Kak." Ara asal saja menjawab. Namun ia berharap benar. Rose menganggukkan kepala saja saat mendengarnya. Itu berarti dia tidak salah. Kemungkinan Jarvis mengijinkannya dengan alasan sakit. Orang-orang bagian Ara magang sempat bertanya soal ijinnya. Namun mereka tidak terlalu bertanya dengan detail hingga masih aman.


Antoni lewat tepat di depan Ara. Namun karena di batasi oleh dinding kaca gelap, pria itu tidak bisa melihat. Ara menghela napas lega saat pria itu sudah menghilang. Untung saja. Namun mungkin memang sudah takdirnya mereka bertemu. Antoni yang tadinya sudah pergi, kini kembali lagi saat Ara berada di luar ruangan karena di suruh membuat kopi.


"Nona Ara." Antoni memanggil dengan terkejut. Ara mengerjakan mata tertangkap basah. "


"Oh, halo Antoni," jawab Ara menyembunyikan keterkejutannya.


"Anda ingin menemui tuan Tristan?"


"Jangan malu. Tidak apa-apa, karena kalian kan sepasang kekasih."


"Ah, Ya ... begitulah." Senyum Ara mengembang dengan terpaksa. Ada beberapa karyawan dari ruang tempat ia magang yang akan melintas. Ara menyeret Antoni untuk sembunyi.


"Ada apa nona?" tanya Antoni bingung.


"Kamu kesini sendiri atau dengan kakek?"


"Kebetulan saya sendiri. Tuan Haga ada di rumah. Saya hanya mengantar dokumen untuk tuan Tristan." Mendengar itu Ara menghela napas lega. "Ada perlu dengan tuan Haga?"


"Tidak," jawab Ara cepat.


"Jadi kalian berdua suka berbisik-bisik dan berbicara dengan sembunyi-sembunyi?" tegur Tristan mengejutkan.

__ADS_1


"Maafkan Saya, Tuan." Antoni langsung membungkuk meminta maaf. Tristan muncul dengan sorot mata tajam ke arah keduanya. Jarvis yang berdiri di samping Tristan melirik ke arah karyawan yang sudah melewati mereka. "Saya tidak bermaksud seperti itu." Antoni merasa bersalah. Ara tidak enak hati melihat Antoni di marahi.


"Itu bukan salah Antoni." Ara bermaksud membela. Tristan hanya diam.


"Lebih baik ke ruanganku," ajak Tristan tiba-tiba. Ara meringis di dalam hati. Tristan pasti marah. Tunggu. Kenapa dia marah? Tidak ada alasan untuk itu.


**


"Dia menemukanmu?" tanya Tristan saat mereka tiba di ruangannya.


"Ya."


"Apa dia tahu kalau kamu magang di sini?"


"Saya rasa tidak."


"Aku sengaja mengajakmu ke sini agar dia tidak curiga. Aku yakin kamu bilang ingin menemuiku," ujar Tristan percaya diri. Tentu saja. Karena di mata Antoni Ara adalah kekasih Tristan. "Pulang nanti buatkan aku makanan. Aku yakin kamu sudah beristirahat penuh bukan?"


Ara lupa kalau dia tidak bertemu dengan pria ini lumayan lama. Sejak pulang kerja kemarin, pria ini tidak ada di rumah. Hingga baru saja ia bisa bertemu.


"Tadi malam, Anda tidur di mana? Karena tadi pagi saya tidak menemukan Anda di apartemen." Sesaat Ara sadar bahwa ia tidak berhak bertanya soal itu setelah kalimat tadi meluncur.


"Kamu mencemaskan aku?" tanya Tristan kembali membuat Ara malu. Ia menundukkan pandangan. Memilih melihat ubin di kakinya.


Itu tidak mungkin.


.......


.......


.......

__ADS_1


......................


__ADS_2