
Makan siang kembali terulang. Meski tadi Ara tidak bisa di temukan Antoni karena banyaknya karyawan yang mirip dengan rambut milik Ara, akhirnya mereka berjumpa juga. Seperti sudah takdir.
Bola mata kakek terus saja mengamati gadis yang di bawa Tristan.
"Apa kita sudah bertemu sebelumnya?" tanya tuan mengulang pertanyaan yang sama.
"Ya, Kakek. Kita bertemu saat pertama kali Tristan membawa aku ke tempat ini." Dengan sopan Ara berbohong. Dia yang tahu tadi sempat di temukan oleh tuan Haga membuat jawaban yang sekiranya bisa menyamarkan kemunculannya tadi.
"Benarkah?" Bola mata tuan Haga memicing. Bibir Ara tersenyum guna menenangkan degup jantung yang berantakan. Tristan menepuk punggung Ara memberi dukungan kekuatan. "Siapa nama keluargamu?" Ara melirik pada Tristan.
"Kenapa kakek bertanya lebih jauh soal itu?" Tristan tahu dia yang harus menjawab. Karena Ara tidak harus menjawab.
"Kenapa? Ini perlu Tristan. Jika dia ..."
"Biarkan kami menjajaki dulu semuanya tanpa melibatkan keluarga, Kakek." Tristan harus mampu membelokkan pertanyaan pria tua ini.
"Kenapa? Kamu tidak berniat menikah? Jadi kamu benar-benar akan hanya berjuang sampai sini saja?" desak kakek.
"Tolong terima keputusanku kakek. Dengan penjajakan setidaknya ada harapan aku akan menikah. Tidak terus saja menyendiri dan menjadi gila kerja seperti yang kakek katakan." Alis Ara naik saat Tristan mengatakan soal dirinya sendiri yang menjadi gila kerja. Tanpa sadar Ara mengangguk. Sepetinya ia tahu kenapa kakek sangat ingin menjodohkanya dengan banyak calon. Karena beliau takut cucu kesayangannya ini akan terus saja melajang seumur hidup.
"Jadi soal keluarganya tidak penting?" Kakek terus mendesak.
"Untuk sementara ini lebih baik fokus memberi aku dukungan untuk menjalaninya kakek. Dengan begitu aku akan mengabulkan keinginan kakek untuk menikah dengan cepat." Ara takjub Tristan terus bisa memberi jawaban dengan tegas dan terkesan tidak membantah.
"Baik. Kakek akan tunggu meskipun kakek bukanlah orang yang sabaran." Setelah mengatakan itu tuan Haga mulai menyendok makanan.
"Makanlah Ara. Kakek tidak akan lagi menginterogasi mu," ujar Tristan sambil menyodorkan sendok pada gadis itu. Kepala Ara mengangguk setuju. Dia tidak perlu banyak akting hari ini. Semua pertanyaan tuan Haga di jawab oleh Tristan sendiri. Sepertinya pria ini berusaha mengatasinya sendiri. Lalu guna dia apa?
__ADS_1
Namun Ara mengerjapkan mata untuk tidak peduli. Ia cukup tertarik dengan makanan di depannya. Tristan mengambil minuman dan meneguknya. Merasa lega kakek tidak lagi banyak bertanya.
**
Ponsel Ara berdering saat gadis itu sedang berada di dalam kamar mandi. Tristan yang sedang membaca buku di balkon menoleh. Namun tidak lama, gadis itu muncul dengan sudah berpakaian keluar dari kamar mandi.
"Ya, ibu. Apa?! Itu tidak perlu. Aku baik-baik saja, jadi ibu tidak harus ke rumah sewaku." Tristan melihat perubahan mimik wajah Ara yang berubah-ubah. Setelah menyelesaikan pembicaraan dan menggenggam ponselnya, Ara mendesah lelah. "Aku harus pulang ke rumah dan bersiap-siap."
"Ada hal penting, Ara?" tegur Tristan.
"Aahhh!" Karena Ara tidak menyadari kemunculan pria ini, dia sangat terkejut saat suara Tristan menegurnya. "Bikin kaget saja," kata Ara sambil mengelus dadanya. Tristan tidak merespon keterkejutan Ara. "Ya. Ibu mau datang ke rumah sewaku. Aku harus bersiap-siap. Setidaknya aku harus menunjukkan bahwa aku memang tinggal di sana. Jika sudah tiga hari aku ada di sini, rumah sewaku akan terlihat tidak terurus."
"Jarvis akan menemanimu."
"Oh, tidak perlu. Ini bukan hal penting yang perlu di kawal. Aku akan baik-baik saja."
"Oh, itu." Ara menipiskan bibir. Ia sudah percaya diri tadi bahwa Tristan mengawalnya karena cemas. "Baiklah, baik. Silakan kawal aku jika yang kamu cemaskan adalah takut aku kabur."
"Tentu," sahut Tristan seraya mengambil ponselnya di atas meja. Ara mencibir kesal.
**
"Tidak bisa Tuan. Ara tidak bisa kembali ke rumah sewanya sementara ini. Orang-orang tuan Haga sedang berkeliaran di daerah sana. Mereka berusaha mengorek tentang gadis itu," ujar Jarvis mengejutkan.
"Kakek? Bukannya beliau bilang akan percaya padaku dan tidak akan bertanya siapa gadis itu?"
"Maaf Tuan. Namun menurut pantauan orang-orang saya, mereka terus mencoba mencari tahu siapa Ara dari pengamatan mereka yang sempat menemukan gadis itu di area pasar."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan ibu Ara yang akan datang berkunjung?"
"Maaf Tuan. Saya akan cari solusinya."
"Dia akan datang nanti. Tidak ada waktu untuk berpikir."
"Hmm ... bagaimana kalau ..."
**
Tristan menggeram kesal. Ia harus memutar otak untuk menyelesaikan masalah Ara. Karena ternyata kakeknya gigih mencari tahu siapa Ara, ia harus menemukan ide baru.
"K-ke apartemen ini?" tanya Ara saat Tristan mengutarakan idenya. "Bagaimana mungkin? Ibu ku akan menanyakan banyak hal soal aku yang tinggal denganmu!" seru Ara tidak setuju. Ya ... Ara mulai terbiasa berseru, bergumam dan berbicara dengan bebas di depan Tristan. Tidak ada lagi jarak antara atasan dan bawahan. Tristan bukan setuju, ia hanya mulai lelah untuk mengingatkan.
"Menurutmu aku setuju? Tidak. Aku hanya ingin menyelamatkan diri. Orang-orang kakek sedang berusaha menemukanmu. Jadi tidak ada pilihan selain membiarkanmu bertemu degan keluargamu di sini."
"Orang tuan Haga sedang berada di rumah sewa?" Ara terkejut.
"Belum, tapi jika kamu masih berada di sana, mereka akan menemukanmu. Itu tidak baik untukku."
"Percuma. Mereka akan menemukanku. Bukannya aku belum keluar dari rumah itu. Karena aku tidak berencana tinggal di sini selamanya, kan?" Ara tahu secepatnya ia akan di temukan.
"Tidak mungkin," sahut Tristan yakin. Ara mengerjapkan mata. Dia sadar bahwa pria ini sudah menyiapkan semua.
"Jika begitu, apa alasanku tinggal di apartemen mu?" Ara memilih setuju. Namun ia perlu bimbingan untuk melaksanakan rencana ini.
**
__ADS_1