
Dari pantry, Jarvis bisa melihat kesedihan Tristan. Ia menghela napas. Tidak menyangka keberadaan Ara yang secuil itu, mampu mengoyakkan pertahanan Tristan yang selama ini kokoh.
Sepertinya aku memang harus angkat topi untuk gadis itu. Dia bukan perempuan biasa.
"Ada jadwal apa saja hari ini Jarvis?" tanya Tristan setelah menutup kertas dan memasukkan lagi ke dalam amplop. Jarvis segera mengeluarkan ponselnya. Ia menyebutkan beberapa jadwal hari ini. "Lakukan semua pertemuan hari ini." Jarvis terkejut.
"Anda ... tidak mencari Ara dulu Tuan?" Dengan keberanian yang ada, Jarvis bertanya soal Ara.
"Tidak," jawab Tristan tegas.
Dia membunuh sedih dengan berkerja terlalu keras. Sebaiknya aku mengikuti keinginannya.
"Anda harus sarapan dulu, sebelum berangkat." Jarvis sudah menyiapkan sarapan yang ia bawa tadi.
"Ya. Bawa ke sini."
Sepertinya aku harus menenangkan diri dulu sebelum menemuimu, Ara. Aku tidak boleh gegabah. Maaf jika kamu harus menunggu agak lama. Memang hari-hariku akan menyebalkan, tapi ... aku harus mempersiapkan diri terlebih dahulu. Kamu bisa menungguku?
"Siapa yang berani membocorkan surat perjanjian yang mau aku bakar itu, Jarvis?" desis Tristan. Jarvis terkejut.
"Saya tidak tahu, Tuan."
"Bagaimana kamu tidak tahu? Bukankah surat itu ada di ruangan mu?!" Suara Tristan meninggi.
__ADS_1
"Tuan Haga memang sempat ke ruangan saya sebelum ke ruangan Anda," ungkap Jarvis akhirnya. Tristan menutup matanya. Ia berusaha meredam kemarahannya yang memuncak.
"Mundurlah. Kamu bisa pergi dari sini sekarang. Aku akan bersiap-siap untuk berangkat," perintah Tristan.
"B-baik Tuan."
**
"Bagaimana keadaan Tristan?" tanya tuan Haga pada Antoni.
"Menurut informan yang ada di luar, tuan Tristan tampak bekerja seperti biasa."
"Dia tidak kabur untuk mencari anak itu?" tanya tuan Haga merasa heran.
"Apa itu tidak terasa aneh Antoni?"
"Melihat kemarahan Tuan Tristan saat mengetahui nona Ara pergi, ini sangat mustahil, tapi ... sepertinya ini lebih baik kan Tuan?" tanya Antoni.
"Lebih baik? Oh, aku bisa menjodohkan dia segera tanpa hambatan maksudmu?" tanya beliau seraya menoleh pada bawahan terpercayanya ini.
"Mungkin begitu, Tuan."
"Benar. Kamu benar. Kenapa aku repot-repot memikirkan keanehan cucuku. Aku akan makan dengan nikmat sekarang. Ayo, kamu bisa makan bersama ku."
__ADS_1
"Tidak, Tuan. Terima kasih."
"Ini hari baik, Antoni. Kamu harus makan." Beliau menunjuk kursi makan yang kosong. Antoni patuh pada akhirnya. "Siapa saja yang bisa menghambat Tristan, jika aku tidak ada kelak?" tanya tuan Haga mencondongkan tubuhnya pada Antoni.
"Ada beberapa nama, Tuan."
"Sebutkan." Antoni meletakkan sendok yang sudah berisi nasi dan lauk untuk dimakan. Lalu Antoni membuka ponselnya, kemudian menyebutkan beberapa nama orang. Tuan Haga mengangguk mengerti.
**
"Kamu makan dengan benar juga, Ara?" Tristan mengirim pesan pada nomor Ara yang tidak bisa di hubungi. Dia tidak peduli semua pesannya sampai atau tidak. Yang penting ia ingin menulis semua keluh kesahnya.
Tristan menemukan Jenny melintas di depan cafe yang ia datangi. Tristan bangkit dari tempat duduknya dan keluar cafe dengan cepat.
"Jenny!" panggil Tristan. Gadis itu menoleh mencari tahu siapa yang sedang memanggilnya. Saat tahu bahwa itu Tristan, Jenny ingin kabur. Namun tidak bisa, karena Tristan sudah tiba di sampingnya. "Aku ingin bicara. Soal Ara."
Tanpa di beritahupun apa yang akan di bicarakan pria ini, Jenny tahu itu pasti soal teman karibnya itu.
.......
.......
.......
__ADS_1
......................