
Setelah mengatakan hal yang membuat Ara memerah lagi, pria ini justru menarik kursi dan duduk dengan santai.
"Aku ingin makan bubur," kata Tristan.
"Bapak sudah sembuh," kata Ara hendak membelok ke meja dapur. Namun Tristan menahannya.
"Aku belum sembuh. Periksalah." Dengan cepat, Tristan menarik tangan Ara dan mendekatkan telapak tangan kecil itu ke atas keningnya. Ara melebarkan mata. Napasnya tercekat. Ia kebingungan dengan tingkah luar biasa pria ini. "Apa yang kamu pikirkan? Kamu benar-benar memeriksa keningku kan?" tanya Tristan mengerutkan dahinya karena gadis ini seperti sedang bengong. Seperti baru tersadar dari mimpi, Ara melepas tangannya dengan paksa.
"Y-ya. Saya memeriksanya. Bapak masih panas." Jujur. Ara tidak tahu suhu tubuh Tristan masih panas atau tidak. Dia hanya kebingungan menahan degup jantungnya yang tidak beraturan. Jadi ia cukup mengiyakan kata-kata Tristan.
"Beri aku bubur yang sudah kamu buat tadi. Aku ingin sehat, jadi harus makan bubur buatanmu." Tristan menunjuk ke arah panci kecil di atas kompor dengan dagunya. Ara mengangguk dan berjalan mendekat kompor.
**
Ara meletakkan mangkuk bubur Tristan di depannya. Ara terkejut saat pria ini hendak langsung memakannya.
"Ini masih panas, Pak. Anda harus bersabar dulu," cegah Ara terkejut sambil menahan tangan Tristan untuk tidak memasukkan bubur ke dalam mulutnya. Bola mata Tristan melirik kearah tangannya yang di pegang Ara. "Ah, maafkan saya pak." Ara langsung melepas tangan Tristan.
Kenapa gerak reflek muncul saat begini sih? keluh Ara.
__ADS_1
"Kamu cekatan juga," puji Tristan. Ara meringis mendengar pujian yang mirip ledekan itu. "Mau kemana? Duduklah," pinta Tristan seraya menunjuk kursi di depannya.
"Saya mau membereskan semua perkakas."
"Tidak. Duduklah." Tristan membuat keputusan yang tidak bisa di gugat. Ara diam dan duduk dengan pasrah. Saat itu Tristan justru berdiri. Ara hanya bisa memperhatikan dengan ketidaktahuan. Pria itu kembali dengan sebuah mangkuk yang sama dengan Miliknya tadi. Meletakkan mangkuk berisi bubur itu di depan meja.
"Saya ... enggak sakit, Pak. Saya sehat." Ara heran dia juga di beri bubur ayam itu. Meskipun sebenarnya lezat karena itu resep dari ibu, dia heran pria ini memberinya juga.
"Makan bubur tidak harus sakit kan?" Tristan memilih berpendapat sendiri. Ia duduk kembali. Ara melihat ke arah mangkuk.
"Ini bubur untuk yang sakit soalnya. Jadi biar sehat gitu."
"Bapak sakit ya ke dokter. Terus yang merawat itu ya perawat rumah sakit." Ara berdebat. Ia membiarkan mangkuk itu.
"Terlalu ribet jika harus kesana. Lalu ... kamu menolak menemani aku makan?" tanya Tristan. Kali ini dengan menatap lurus perempuan ini. "Aku hanya butuh teman. Sejak orangtuaku meninggal, aku selalu makan sendiri. Hanya kakek." Ara tahu soal itu. Dia pun merasa iba. Tangannya bergerak mengambil sendok. Tristan menaikkan alisnya tanda menang. "Ini enak."
"Memang enak. Karena ini resep dari ibu."
"Ibu menurunkan banyak bakat berguna untukmu. Itu mengagumkan." Sebuah pujian lagi. Ara yakin bukan ledekan.
__ADS_1
"Ya." Ara tersenyum tipis. Ia jadi ingat ibunya. Kangen. Tristan melihat raut wajah muram yang menunduk itu.
"Ada yang salah?" tegur Tristan mengejutkan. Ini membuat Ara mendongak.
"Apanya, Pak?"
"Kamu. Raut wajah mu muram." Kedua siku Tristan berada di atas meja.
"T-tidak, Pak." Ara merasa tidak begitu. Dia hanya merasa rindu ibu dan keluarga di kampung. Setelah kedatangan ibu di apartemen yang seperti hanya sekedar bertamu, Ara merasa sedikit sedih. Karena ia tidak mau.
"Ekspresi tidak bisa berbohong." Tristan mengerti ada yang di pikirkan Ara.
.......
.......
.......
......................
__ADS_1