
Mendengar sahutan di seberang adalah suara seorang pria, Ara sangat terkejut. Apalagi pria itu mengaku bahwa dirinya bukanlah Jenny. Ara menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat ke layar ponsel siapa gerangan yang barusan meneleponnya.
Tristan?! Mendadak Ara merasa ngeri saat tahu siapa yang sedang meneleponnya sekarang. Dia sudah mau memutuskan teleponnya, tapi entah mengapa ia kembali menempelkan ponsel itu di dekat telinganya.
"Rupanya kamu masih berani menerima telepon dariku, meski awalnya kamu pikir aku adalah orang lain," puji Tristan dengan senyum miringnya. Namun itu tidak membuat Ara bahagia. Kalimat itu membuatnya menelan ludah dan gemetar. Tengkuknya terasa dingin. Tristan membuat bulu kuduknya berdiri. Ara merinding. Tangannya bergerak menekan tombol warna merah untuk menutup percakapan.
Klik!
"Hahhh ... Sial. Kenapa dia meneleponku lagi, sih?" kata Ara kesal dan takut bercampur aduk. Dadanya berdegup kencang.
"Halo? Halo?" Tidak ada jawaban di sana. Hanya ada nada sambungan telepon yang di putus. "Dia ... memutus teleponku?" tanya Tristan pada ponselnya. Jarvis yang sedang berdiri di dekatnya menipiskan bibir melihat Tristan bicara sendiri. Ia yang baru saja mendapat telepon dari Tuan Haga, melihat tingkah Tristan yang mengerutkan kening dengan geram tergelak dalam hati.
Apa ... gadis itu adalah Jenny palsu? tebak Jarvis di dalam hati. Ia melihat dengan seksama sosok karyawan magang yang berdiri tidak jauh dari mereka. Namun pandangannya jadi terhalang saat penjaga bermunculan dan mendekat ke arah Tristan yang masih berdiri di lorong. Karena tingkah Tristan yang menggelikan, Jarvis lupa memberitahu sesuatu pada Tristan.
"Kami datang ingin mengamankan Anda," kata salah seorang dari mereka. Tristan tampak tidak senang.
"Tuan Haga yang menyuruh mereka datang, Tuan," jelas Jarvis. Mendengar ini Tristan menoleh dengan cepat.
__ADS_1
"Kamu bersengkongkol dengan kakek?" tanya Tristan. Jarvis diam. Artinya iya. Tanpa menunggu persetujuan Tristan, mereka berusaha melindungi keberadaannya. Ya. Saat ini Tristan sedang di buru wartawan perkara batalnya pernikahannya dengan Jenny, putri keluarga Andromeda. Mereka ingin mewawancarai direktur ini.
Ara hendak pergi lewat pintu belakang. Tristan melihat itu. Dia ingin menahan langkah kaki Ara tapi tidak bisa. Ia mencoba menerobos pengawal dan ingin mengikuti gadis itu.
"Jangan Tuan. Anda harus kembali ke lantai atas. Tuan Haga meminta Anda tidak boleh kemana-mana dulu, Tuan. Anda diminta untuk tetap di dalam gedung dulu," kata Jarvis.
"Aku di kurung?" desis Tristan. "Jika aku tidak mau?"
"Saya hanya mengikuti perintah, Tuan. Maafkan saya."
"Kamu melarang ku?" tanya Tristan.
"Hentikan gadis itu, Jarvis," perintah Tristan akhirnya.
"Prioritas di sini adalah Anda, Tuan. Saya akan mengejar gadis itu, tapi Anda harus segera kembali ke lantai atas. Karena di depan apartemen Anda saat ini juga banyak reporter."
"Brengsek! Baiklah." Dengan terpaksa, Tristan merelakan Ara berhasil menghilang dari pandangannya. Kaki Tristan berjalan kembali ke lift.
................
__ADS_1
Sesampainya di lantai atas. Kakek Tristan menelepon.
"Kamu sudah di lantai atas?" tanya kakek.
"Kenapa bertanya? Bukankah kakek punya banyak mata-mata di sini? tanyakan saja apa aku sudah sampai di lantai atas atau belum ..."
"Kamu itu! Gara-gara kamu membatalkan pernikahan yang sudah terpublikasi, semuanya jadi kacau!" Kalimat per kalimat keluar dari mulut sang kakek. Beliau pasti sangat gusar mendengar kabar pernikahan cucunya yang sudah siap sedia semuanya batal. Tristan diam. Dia tidak mengatakan dengan jelas alasan di balik batalnya pernikahan itu.
Aku yakin dia adalah gadis yang ada di cafe waktu itu. Memang sedikit berbeda karena dia mempunyai penampilan yang lebih berani daripada saat ia melihatnya tadi. Tampilan sederhana tapi kuat adalah sosok yang sepetinya sering dipakai gadis itu di sini.
"Aku harus segera bisa menemuinya," tekad Tristan kuat.
.......
.......
.......
......................
__ADS_1