
Jenny gelisah di dalam ruang ganti. Setelah berhari-hari di kurung dan selalu dalam pengawasan orang-orang papanya, kini ia harus menjalani pernikahan yang tidak diinginkannya.
"Aku harus bertemu Ara. Aku harus bertemu dengannya. Mmm ... aku juga ingin bertemu Tristan," ujar Jenny mondar-mandir. "Tapi bagaimana aku bisa bertemu dengan mereka jika aku di kurung di sini?" Jenny berpikir keras mencari cara untuk keluar dari pernikahan ini. Ia tetap tidak ingin menikah. Meskipun mama sudah menunjukan foto Tristan padanya, dengan alasan ia ingin melihat wajah pria itu sebelum menikah nanti karena rindu. "Dia memang tampan, tapi aku tidak ingin menikah dulu. Aku masih ingin bebas."
Suara derap langkah orang di luar ruangan terdengar. Jenny menggeram karena kegelisahannya semakin besar.
"Ruangan mempelai pria ada di samping. Setelah keduanya sudah di make up, kita bisa mempertemukan mereka." Terdengar suara MUA pernikahan ini di luar.
"Ruangan Tristan di sebelah? Aku harus menemuinya sekarang." Jenny membuka pintu dan mendapati dua orang pengawal yang senantiasa berjaga di pintu depan. Jenny masih dalam tahanan sebelum pesta pernikahan usai.
"Anda tidak boleh keluar dari ruangan ini, Nona," kata pengawal merentangkan satu tangannya menahan Jenny untuk tidak keluar ruangan dengan tegas.
"Aku tidak akan keluar. Aku tidak akan kabur," sangkal Jenny sambil memasang wajah masam. Namun dia pria itu tetap bersiaga. "Di sebelah ruang make up, Tristan?" tanya Jenny menunjuk ke samping. Pengawal itu sedikit kebingungan. "Cucu tuan Haga yang akan menikah denganku," jelas Jenny.
"Ya. Tuan Tristan, berada di ruangan ini," jawab mereka. Jenny mengangguk.
"Aku ingin ke sana," kata Jenny.
"Tidak boleh, Nona," cegah mereka. Jenny menipiskan bibir. Menghela napas kemudian.
__ADS_1
"Aku tidak akan kabur. Aku hanya akan menemui pria yang jadi calon suamiku. Apa itu salah?" tegur Jenny sebal. Mereka berdiskusi sebentar. "Lapor saja sama papa, jika kalian ingin mendapat ijin. Di larang bertemu dengan calon suami itu sangat menjengkelkan," gerutu Jenny.
Setelah berbisik diskusi, kedua pengawal itu memberi ijin Jenny menemui Tristan.
***
Berbeda dengan depan ruang ganti Jenny yang di jaga oleh dua pengawal, pintu ruangan Tristan tidak ada penjaga sama sekali
Tok! Tok!
Tristan yang sedang duduk di dalam ruangan dengan menggunakan ponselnya tidak peduli.
Tok! Tok!
Setelah memutar kenop pintu, Tristan terkejut melihat seorang wanita memakai gaun pengantin berwarna putih di depan pintu. Dan lebih terkejut saat melihat wajah asing di depannya.
"Si ..." Belum selesai Tristan bertanya, Jenny langsung memaksa masuk. Karena tidak sedang dalam mode siaga, Tristan tidak bisa menghindar. Ia akhirnya iku masuk ke dalam dengan kebingungan. Jenny pun menutup pintu dengan cepat. "Siapa Anda?" tanya Tristan lagi setelah kebingungannya lenyap.
Kaki Jenny berhenti. "Aku Jenny. Perempuan yang akan di nikahkan denganmu. Calon istrimu," sahut Jenny tanpa basa-basi. Tristan diam. Matanya melihat ke arah Jenny dengan tajam. Meneliti wajah asing di depannya.
Oh, pria ini memang tampan. Persis di foto dan sesuai dengan deskripsi yang Ara katakan.
__ADS_1
"Jangan bercanda," ujar Tristan dengan datar.
"Aku tidak sedang dalam mode bercanda, Tristan. Kita memang belum pernah bertemu. Jadi wajar kamu tidak tahu siapa aku." Saat Jenny menyebutkan namanya, itu membuat Tristan melebarkan mata sekilas.
"Jadi, kenapa Anda bicara seolah mengenal saya? Bahkan mengaku sebagai calon istri saya ..." desis Tristan geram.
"Hmm ... Cara bicaramu lumayan kaku," ejek Jenny yang mendadak mengomentari cara bicara pria ini. Ia tidak pernah mendengar bahwa cara bicara pria ini begitu.
"Bahkan dengan tidak sopan, Anda membahas tentang cara saya bicara," geram Tristan.
"Oh, maaf." Jenny lupa bahwa ia sedang berada dalam situasi darurat. Mendadak ia ilfeel karena Tristan bicara dengan formal. Menurutnya itu terlalu berlebihan. Ia tidak suka. "Abaikan kalimatku yang tidak penting. Dengarkan aku Tristan. Kita tidak harus menikah." Jenny langsung pada intinya.
"Berkali-kali Anda bicara soal menikah dengan saya. Perlu saya tekankan lagi, bahwa Anda bukan calon saya. Saya tidak mengenal Anda. Tolong jangan membuat saya marah. Silakan keluar!" Tristan tidak tahan dengan kalimat menikah yang di ulang-ulang. Jenny merasa kehilangan kata-kata untuk bicara. Ia tidak bisa lagi membuat pria ini yakin bahwa ia adalah calon yang akan di nikahinya.
"Oke. Aku tidak akan bicara banyak. Karena sepertinya kamu tidak akan percaya." Jenny hilang akal untuk menjelaskan. Ada suara seseorang di luar sedang berbicara samar-samar.
.......
.......
.......
__ADS_1
......................