
Ara bimbang. Mau masuk atau tidak. Ini sangat ... mendebarkan.
"Ara. Bukannya kita harus cepat?" Kepala Tristan muncul tiba-tiba dari balik pintu. Ara terkesiap. Ia tidak menduga pria itu akan mengagetkannya seperti ini. Sampai tubuh Ara berjingkat kaget.
"Y-ya." Dengan menggeram di dalam hati, Ara ikut masuk pria itu. Namun wajah Ara tetap menunduk.
"Kenapa telingamu memerah?" tanya Tristan mulai menggoda. "Kamu pasti berpikir aku belum berpakaian ya?" Mendengar ini, Ara mendongak.
"T-tidak," jawab Ara cepat. Ternyata pria ini sudah berpakaian. Hanya saja kancing kemeja belum selesai seluruhnya.
Sial! Aku sempat berdebar memikirkan hal yang tidak-tidak. Pria ini mengerjaiku sepertinya.
"Bantu aku mencari padu padan setelan jas ini," pinta Tristan yang tidak melanjutkan menggoda Ara. Kepala gadis ini celingukan. "Di lemari itu," tunjuk Tristan. Ara mendekat ke lemari yang di tunjuk. Ia mengambil warna abu-abu gelap. "Bantu aku mengancingkan ini," pinta Tristan seraya menyodorkan ujung lengan kemejanya. Ara meletakkan jas di atas sofa single.
Dengan patuh Ara mengancingkan ujung lengan.
"Kamu ... benar-benar manis hari ini," puji Tristan membuat Ara kacau sejenak. Dia pun tidak merespon. "Ara ..." tegur Tristan seraya mendekatkan wajahnya. Gadis ini terkejut hingga sempat berjingkat dan oleng. Namun Tristan dengan tanggap menangkapnya. "Hati-hati." Ara mengangguk dan segera bangkit dari tangkapan Tristan. Kemudian melanjutkan mengancingkan lengan Tristan yang sebelahnya.
__ADS_1
"Kenapa banyak diam? Tidak seperti tadi saat kamu gigih mengajakku ke rumah kakek," kata Tristan.
"Maafkan saya ..." Tristan tergelak mendengar Ara justru meminta maaf.
"Kenapa malah meminta maaf? Kamu ini ..." Tristan menggerakkan tangannya menepuk pucuk kepala Ara. Ini membuat Ara makin gugup.
Ni orang seenaknya saja membuat aku gugup tidak karuan.
"Mmm ... Bapak sudah menemukan calon kekasih sesungguhnya, Pak?" tanya Ara membuat senyum Tristan hilang perlahan.
"Bukannya waktu kontrak saya akan habis. Jadi saya rasa, sebaiknya Anda segera mencari pasangan. Jadi kakek ..."
"Soal itu biar aku yang mengurusnya Ara. Kamu cukup mengikuti apa yang aku perintah sesuai kontrak," potong Tristan tegas. Ara yang sempat mendongak karena terkejut kalimatnya di potong Tristan, mengerjap.
"Baik, Pak." Ara menundukkan pandangan lagi. "Sudah." Ara melepas ujung kemeja Tristan. Sebelum Ara berjalan menjauh, Tristan kembali menangkapnya.
"Ara ..." Gadis ini terkejut seraya melihat ke arah tangannya yang di tangkap. "Jika aku tidak ingin mencari kekasih lagi, apa yang akan kamu lakukan?" Pertanyaan aneh yang membuat Ara bingung.
__ADS_1
"Saya tidak tahu, Pak," jawab Ara polos.
"Kenapa tidak tahu?" tanya Tristan kesal.
"Karena itu urusan Bapak. Bukan urusan saya. Bukannya saya orang lain yang tidak boleh mencampuri urusan Bapak?" Lagi-lagi jawaban polos. Itu pun merujuk pada kalimat Tristan tadi. Ara tidak salah. Gadis ini benar. Urusan kekasih, memanglah urusan Tristan sendiri. Namun ini membuat Tristan menggeram kesal.
"Sudahlah. Kita segera ke rumah kakek." Tristan melepas sendiri cekalan tangannya. Ara lega. Karena ia sudah berpikir macam-macam lagi saat Tristan menangkapnya. Detak jantungnya berubah cepat. Debaran di dada naik dengan keras. Hingga Ara merasa berisik sendiri dan takut ketahuan bahwa dirinya sedang berdebar-debar.
Ponselnya penuh dengan banyak telepon dari Antoni. Pasti kakek cemas dan khawatir bahwa Ara tidak bisa membawa Tristan ke rumah beliau. Karena banyak hal yang harus di urusi tadi_termasuk urusan dadanya yang berdebar, Ara lupa memberitahu.
.......
.......
.......
......................
__ADS_1