
Saat itu, Tristan yang juga hendak pulang bersama Jarvis melihat gadis ini yang berganti-ganti ekspresi karena sedang bicara di telepon.
"Kamu sudah memberi dia kompensasi soal motornya yang aku tabrak itu?" tanya Tristan pada Jarvis yang duduk di depan. Jarvis berdecak di dalam hati.
"Maaf Tuan. Saya belum melakukannya. Maafkan Saya ... Secepatnya saya akan ..."
"Tidak perlu. Aku akan bicara dengannya sendiri," potong Tristan.
"Oh, baiklah." Jarvis melirik lambat-lambat ke arah kaca di atasnya. Mencoba melihat raut wajah tuannya. Dia sangat heran dengan pria. Dia akan menangani hal sepele itu? Hal yang tidak berhubungan sama sekali dengan pekerjaan? tanya Jarvis penasaran.
"Dia akan menjadi pegawaiku sebentar lagi. Pekerjaan sampingan untuknya. Jadi aku ingin kita lebih akrab untuk menyempurnakan drama,' ungkap Tristan merujuk pada perkara kekasih sementara untuk membungkam kakeknya agar tidak terus saja menjodohkan. Pria ini merasakan rasa penasaran sekretarisnya.
Jarvis langsung memindah pandangannya dari kaca di atasnya. direkturnya ini tahu sedang di amati.
"Berhenti di depan. Aku ingin bicara dengannya," kata Tristan lagi saat mobil hendak dekat dengan gadis itu.
"Iya, Tuan."
**
Ara sudah sampai pada motor maticnya. Namun tangannya masih pada ponsel yang di tempelkan pada telinganya. Ia masih bicara dengan Jenny.
“Apa tujuannya, Ar?” tanya Jenny ingin tahu.
“Dia tidak membahas. Aku hanya bicara sebentar. Entahlah. Dia sudah gila mungkin. Bukannya dia mengiyakan menikah tanpa mengenal aku sama sekali, tapi dengan mudah membatalkan pernikahan setelah tahu bahwa itu kamu. Kurasa pernikahan baginya bukanlah hal sakral. Seenaknya saja dia mengiyakan dan membatalkan.” Ara membicarakan Tristan tanpa tahu bahwa pria itu sudah berada di belakangnya.
“Itu soal aku?” tegur Tristan membuat Ara berjingkat kaget dan setengah berteriak.
“Ahhh!” Ponsel android lamanya jatuh ke lantai parkir tanpa terkendali. Namun ia langsung menutup mulutnya saat tahu itu Tristan. Badannya membungkuk otomatis sambil meringis melihat ponselnya yang malang.
Sungguh menyedihkan memang. Namun apalah daya, ia yang barusan saja kepergok membicarakan orang penting ini, pastilah gugup. Tidak mungkin ia sibuk mengambil ponsel sementara direktur perusahaan ini sedang di depannya.
__ADS_1
Tistan melirik ke arah ponsel gadis ini yang tergeletak tidak berdaya di lantai. Pria ini membungkukkan badan.
“Jangan!” teriak Ara membuat gerakan Tristan berhenti. Lalu berdiri tegak.
“Apa?” tanya Tristan dengan wajah datar.
“Anda tidak perlu mengambilkan handphone saya. Saya akan mengambilnya sendiri,” kata Ara. Tristan melirik ke arah ponsel gadis ini lagi.
“Tidak. Aku bukan mau mengambil handphone mu. Aku mau melepas isolasi yang entah kenapa melekat di bawah sepatuku,” kata Tristan menunjuk ke arah sepatunya. Manik mata Ara mengikuti kemana telunjuk itu menunjuk. Benar juga. Ada isolasi yang melekat di sana.
Sialan. Ia menyesal sudah ge-er duluan. Dia salah mengira kalau pria ini akan mengambilkan ponselnya yang terjatuh.
“Segera ambil handphone mu,” perintah Tristan. Ara bergerak mendekati ponselnya. Meringis lagi karena melihat ponsel malangnya. Bersamaan itu Tristan mengambil isolasi yang melekat di sepatunya.
Dari tempat Jarvis berdiri, ia heran melihat kedua orang itu saling membungkuk di tanah. Mungkin ia melihat bahwa ponsel karyawan magang ini terjatuh, tapi ia tidak paham kenapa tuannya juga melakukan hal yang sama?
Tangan Ara mengusap-usap ponselnya dengan sayang. Itu termasuk benda berharganya. Ia sangat menyayangi ponsel itu layak keluarga.
Cih! Seenaknya saja mengatakan handphone ku kuno dengan wajah datar dan tidak berperasaan itu.
“Maaf. Saya punya banyak tanggungan untuk di bayar. Jadi mengganti handphone itu tidak penting,” ujar Ara menahan kesal. Karena ponsel terjatuh. Tanpa sengaja panggilan Jenny terputus.
Untung saja poselnya terlatih untuk hal mengejutkan ini. Meskipun ada goresan dan retak di ujung, tapi ponselnya masih hidup.
“Tinggalkan motormu,” kata Tristan menunjuk motor butut Ara dengan dagunya. Manik mata Ara melebar dengan wajah panik.
“Ini adalah milik Bapak Saya. Anda tidak boleh menyitanya karena saya sudah membohongi dan membodohi Anda,” cegah Ara panik. Alis Tristan naik. Ia melihat perempuan yang sedang memeluk sepeda motornya itu dengan menghela napas.
“Aku tidak butuh motor butut itu. Harga marahku karena kamu sudah membohongiku, tidak semurah itu,” desis Tristan. Ara menipiskan bibir sambil melepas pelukannya pada kepala motor matic-nya perlahan. Lalu jarinya merapikan anak rambut yang sempat jatuh di pipinya.
“Jadi ... Apa maksud Anda menyuruh saya untuk meletakkan motor saya disini? Bukannya ini sudah jam pulang kerja? Saya harus pulang.” Ara berdiri tegak sambil menautkan kedua tangannya.
__ADS_1
“Bukannya aku berjanji untuk bertanggung jawab? Aku sudah menabrak motormu waktu itu.” Ara ingat Tristan memang pernah mengatakannya.
"Ah, itu. Benar. Saya masih ingat."
"Tinggalkan motormu untuk di beri perawatan khusus," kata Tristan. Ara terdiam. Dia memikirkan lagi perkataan Tristan. "Sepertinya body motormu sudah tidak bagus lagi."
"Benar. Kamu memang harus memperbaikinya," ujar Ara setuju. Lalu secepatnya ia tersadar lagi bahwa cara bicaranya tidak sopan. Tangannya menutup mulutnya. Membungkam mulutnya agar tidak bicara sembarangan. Rupanya Tristan tidak terlalu mendengarkan. Karena dia tidak bereaksi karena itu.
"Naik ke mobil," perintah Tristan lagi. Ini lebih aneh daripada tadi.
"K-kenapa Pak?" tanya Ara mendadak takut.
"Jika motor kamu di letakkan disini, bukannya kamu harus pulang sendiri? Jadi aku sedang berbaik hati untuk mengantarmu pulang," kata Tristan sangat mengejutkan
"Mengantar? T-tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri," tolak Ara cepat.
"Jadi kamu menolak?" Tristan mengerutkan keningnya. Ara merasa tidak tenang karena raut wajah itu. "Aku akan bicara soal pekerjaan tambahan mu juga."
Ini pasti soal kekasih sementara itu. Oke. Aku harus menolaknya.
"Soal itu ..." Ara mengehentikan kalimatnya karena Tristan menghilang dari hadapannya. Pria itu mendekat ke mobilnya. Lalu menoleh ke belakang dan meminta Ara masuk ke mobilnya dengan dagunya.
Dia pasti mengabaikan penolakanku.
Akhirnya Ara mendekat dan meninggalkan motor bututnya di area parkir.
.......
.......
...B E R S A M B U N G...
__ADS_1