KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 50


__ADS_3

"Rumah ini sempit dan kecil." Komentar Tristan membuat Ara menipiskan bibirnya geram.


"Saya ini miskin, Pak," sahut Ara.


" ... Namun terlihat nyaman," lanjut Tristan. Ara melihat sekitar. Tidak ada yang bikin nyaman selain uang di rekening. Dia yakin Tristan sedang menyindir.


"Sungguh aneh Anda bilang nyaman. Di sini tidak ada yang bikin nyaman selain gaji yang saya terima dari Bapak." Ara mulai menggeluti kegiatannya lagi. Tanpa di sadari oleh gadis itu, Tristan tampak mengikutinya di belakang.


"Jadi jika ada uang, kamu enggak bakal sakit hati?" tanya Tristan membuat langkah Ara terhenti. Dan itu membuat punggungnya terantuk dada Tristan karena berhentilah mendadak. Ara terkejut dan berbalik seraya mundur. Gadis ini ingin tidak menjawab karena tidak penting, tapi tatapan Tristan seakan perlu jawaban.


"S-sepertinya begitu."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena saya ... " Mendadak ia ingat dengan Teo. Jika membahas sakit hati, mungkin juga soal itu. Tidak ada sakit hati yang ia ingat sekarang kecuali soal Teo yang disukainya menjadi kekasih sepupunya. Sakit hati sepihak yang tidak berlangsung lama. Ia cukup mudah membuang rasa itu. Tristan menunggu kelanjutan kalimat Ara yang menggantung. "Karena saya jarang sakit hati," ucap Ara mantap. Ia sudah punya stok cuek banyak untuk hal-hal yang menyakitinya. Ia siap.


"Hebat," ujar Tristan. Ara menaikkan alisnya dengan wajah bangga. "Jangan diam saja. Teruslah bersih-bersih," perintah Tristan tiba-tiba. Ara membalikkan badan dan melanjutkan kegiatannya dengan ngedumel di dalam hati.


Padahal dia sendiri yang mengajak ngobrol.


"Jangan seperti Jarvis, Pak. Bapak hanya perlu duduk. Saya tidak butuh orang untuk membantu ini." Ara terkejut dan kebingungan melihat Tristan ikut membersihkan. Ia tidak nyaman. Rumah ini sudah lama tidak di huni. Jadi debu menempel dengan tebal.


"Diamlah dan jangan mengaturku," kata Tristan. Ara tidak bisa membiarkan orang kaya ini membawa sampah ditangannya. Ia bertekad merebutnya. Tangan Ara menarik tas kresek berwarna hitam itu. Tristan juga tidak mau kalah dan ikut menarik kresek itu. Karena keduanya ngotot ingin membawa kresek berisi sampah. Hingga kresek itu terkoyak dan terbelah jadi dua. Sampah-sampah yang terdapat di dalamnya berhamburan keluar.

__ADS_1


Bola mata Ara melebar melihat rumahnya makin kotor karena sampah. Tristan juga ikut terkejut. Ara mendesis geram. Namun apalah daya dia. Pria ini adalah atasannya. Yang memberi dia banyak uang. Jadi Ara hanya menghela napas dan mulai membersihkan sampah yang berserakan.


"Sepertinya aku mengacau," kata Tristan mengaku. Ara melirik tajam. "Aku atasanmu Ara," protes Tristan. Ara menipiskan bibir kesal.


"Lebih baik Bapak duduk saja. Jadi saya tidak perlu membersihkan dua kali," ujar Ara.


"Iya, aku tahu." Tristan memilih duduk seraya memperhatikan Ara. "Tunggu Ara!" seru Tristan seraya mencekal tangan Ara dan menarik tubuh gadis itu. Akibatnya, tubuh Ara terpelanting ke dada Tristan. Plastik sampah terlempar begitu saja di luar pintu.


Ara melebarkan mata kaget. Ia tidak bisa berkata apa-apa saat lengan Tristan merengkuh tubuhnya.


"P-pak ..." Ara terbata.

__ADS_1


"Ada orang-orang kakek," ujar Tristan pelan. Bola mata Ara melebar. Karena pintu terbuka, mereka bersembunyi di dinding dekat pintu yang lebarnya hanya selebar rentangan tangan Ara. Mereka tidak bisa berjalan masuk ke dalam atau menutup pintu, karena orang-orang itu sedang berdiri di luar.


__ADS_2