
Setelah perdebatan halus tapi serius di pinggiran sawah terjadi, suasana tegang kembali merasuk saat mereka tiba di rumah.
"Apa yang sedang mereka bicarakan ya?" Ara yang duduk di dapur dengan Tristan gelisah. Pria itu tidak gelisah sama sekali. Dia justru bersikap sangat tenang sekarang. Lebih tenaga daripada biasanya.
"Jangan gelisah. Tenang saja, Ara."
"Kenapa Bapak bisa tenang dalam keadaan begini, sih?" gerutu Ara.
"Karena aku sudah mengungkapkan semua keinginanku. Pada kakek, juga pada keluargamu. Bahkan bapak dan ibu juga tahu aku siap melamar kamu."
"Jadi Bapak tidak peduli soal di terima atau enggak lamaran bapak tadi?" dengus Ara kesal. Tristan tergelak. Mengetuk dahi gadis ini pelan.
"Ternyata kamu sangat bersemangat soal pernikahan ini, ya?" ledek Tristan dengan senyum menggoda.
Ara mengerjapkan mata. Ia memang terlalu cemas karena bersemangat soal pernikahan. Ini wajar bukan? Meskipun bibirnya mengucap tidak apa-apa kalau kakek tidak merestui. Lalu dia akan pergi dan menjauhi Tristan. Nyatanya ... dia pasti akan menangis.
"Itu ... "
"Tidak apa-apa Ara. Jangan malu mengungkapkan kebahagiaanmu. Kamu pantas bersemangat karena ini hal yang membahagiakan. Karena aku juga bahagia bisa melamar mu."
"Kita belum pasti bisa menikah karena belum ada restu dari orangtua." Ara menekankan lagi soal ini.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi, aku tetap menikahimu," janji Tristan. Ara terdiam. Matanya menatap pria tinggi di depannya dengan lekat.
"Benarkah?" tagih Ara. Kepala pria itu mengangguk. Kemudian tersenyum seraya mendekatkan kepala Ara pada dadanya. Tristan memeluk Ara sambil mengelus kepalanya.
"Jika sudah janji aku tidak akan mengingkari." Tristan mengecup pucuk kepala gadis ini. Kemudian Tristan menangkup kedua pipi Ara membuat bola mata gadis itu melebar dan berkedip-kedip gugup. "Sabar ya ... Aku mencintaimu, Ara." Tristan akan menciumnya! Disini?!
Suara langkah kaki membuat Ara mendorong Tristan menjauh darinya.
"Aaggh!" erang Tristan yang kakinya terantuk bawah meja. Ara melebarkan mata terkejut.
"Ada apa?" Ternyata itu ibu. Setengah berlari, beliau mendekati Tristan. "Kenapa Tristan?" tanya ibu khawatir. Tristan meringis.
"Itu bukan tidak apa-apa. Hatimu berdarah," tunjuk ibu. Semua melihat ke arah kaki Tristan yang memakai sandal jepit milik bapak. Jarinya terluka. "Cepat belikan tensoplas, Ara," pinta ibu.
"Aku ada di kamar."
"Cepet ambil," ujar ibu geregetan. Ara segera melesat ke kamarnya. "Perih ya?"
"Iya, tapi enggak apa-apa, Bu. Ini hanya luka kecil. Ibu bisa tinggalkan Tristan," ujar Tristan. Ara muncul dengan sebiji plester.
__ADS_1
"Ayo, duduk Pak. Saya pasang plesternya," kata Ara. Kepala Tristan menggeleng. Ia meminta plester itu untuk di pasang sendiri. Ara menyerahkannya.
"Bapak minta kamu ke depan. Biar Ara tetap di sini," kata ibu. Ara dan Tristan saling berpandangan. Ada apa gerangan?
"Iya," sahut Tristan. Setelah memasang ester pada jari kakinya yang terluka, Tristan bergegas ke ruang tamu.
"Ada apa, Bu?" tanya Ara penasaran.
"Melakukan yang harus di lakukan," kata ibu membuat Ara mengerutkan kening tidak paham.
"Kok enggak ngomong secara langsung gitu, Bu." Ara protes. Mata ibu mendelik. Bibir Ara menutup. Dia tidak boleh beratnya lebih jauh kalau tidak mau ibu ngomel.
***
Setelah menunggu mereka bicara, Tristan muncul lagi di belakang. Dia terkejut melihat ibu yang duduk sambil duduk. Ara langsung memberi kode untuk tenang. Gadis ini mengajak pria ini ke halaman belakang karema takut mengganggu ibu.
"Pembicaraan apa tadi, Pak? Kok saya enggak boleh ikut?" tanya Ara sangat penasaran.
"Aku mau ijin untuk kembali ke kota, Ara. Kakek meminta ku pulang. Sepertinya aku tidak boleh membangkang lagi kali ini." Tristan mengucapkannya dengan lembut.
__ADS_1
"Oh, itu." Meski tadinya ia membiarkan pria ini pulang, tapi saat tiba waktunya, dia merasa tidak rela. Ada sedih dan sakit di hatinya.