
Ara mengerjapkan mata berulang-ulang. Ini pertama kalinya di peluk seorang pria. Tampan pula. Jantungnya berdegup kencang. Detaknya makin terdengar keras. Kepala Ara mendongak. Pria itu masih mencoba melindunginya dari ketahuan orang-orang tuan Haga yang katanya ada di luar.
Dia memang tampan.
Ara mengakui berulang kali soal tampang Tristan. Ini makin membuatnya berdebar-debar.
Orang tuan Haga hanya menoleh sekilas ke arah rumah sewa Ara. Hendak mendekat ke pintu, merasa tidak enak karena terlihat tidak ada orang. Hanya pintu saja yang terbuka. Mungkin takut di anggap pencuri jadi orang-orang itu menjauh dari sana.
"Pak ... Sepertinya mereka sudah pergi."
"Ya." Meskipun menyahuti dengan iya, tapi lengan Tristan masih merengkuh tubuh Ara. Ini membuat Ara belum bebas bergerak. Ia hanya terdiam dengan keheranan.
"Bapak ... bisa lepaskan saya?" Saat pertanyaan ini terlontar, Tristan menundukkan pandangan. Tampak bola mata Ara yang bulat menatapnya dari bawah.
"Ah, iya. Maaf." Tristan langsung melepaskan tubuh Ara dengan tergesa-gesa. Ara langsung masuk ke dalam melanjutkan bersih-bersih. Sementara Tristan keluar. Orang-orang itu memang sudah tidak ada. Hhh ... Tristan menghela napas. Seperti sudah melakukan kesalahan. Lalu dia menoleh ke dalam rumah. Melihat dengan seksama Ara yang sedang menyelesaikan tugas. "Kenapa aku yang berdebar? Lihatlah ... Dia terlihat biasa-biasa saja. Bodoh," gumam Tristan dan mendengus kecil. Menertawakan dirinya sendiri.
***
Jarvis muncul dengan napas tersengal-sengal.
"Ada apa Jarvis? Kau belum membeli makanan?"
"Sudah Tuan." Jarvis mencoba mengatur napasnya. Ada tas makanan di tangannya. "Saya melihat orang-orang tuan Haga berkeliaran di pasar Tuan. Saya mempercepat langkah untuk memberi tahu Anda."
"Terlambat. Mereka sudah lewat sini tadi," kata Tristan.
Jarvis terkejut. "Mereka menemukan Anda?"
__ADS_1
"Tidak."
"Syukurlah." Jarvis menghela napas lega. "Saya sudah membelikan makanan yang Anda pesan, Tuan."
"Baiklah. Ajak Ara makan."
"Ya?"
"Panggil Ara. Dia ada di belakang." Tristan menunjuk dengan dagunya. Jarvis mengangguk. Tristan seperti enggan memanggil gadis itu. Setelah di panggil oleh Jarvis, mereka bertiga makan. Suasana hening tidak seperti biasanya. Jarvis merasa aneh. Mulut mereka yang berdebat dengan lancar seperti saat makan siang di kantin sekarang bungkam. Hanya fokus pada piring kertas dari resto masing-masing.
Bahkan saat mereka berdua berjalan menuju mobil di luar pasar, tidak ada satu katapun yang muncul untuk memeriahkan suasana. Karena Jarvis membawa mobil sendiri karena ia mengantar Ara tadi, sekarang Tristan satu mobil dengan gadis itu.
Jari Tristan mengetuk kemudi pelan-pelan. Rasa canggung tiba-tiba saja menyergap.
Sial. Kenapa aku jadi canggung. Bukannya tadi itu tidak sengaja? Benak Tristan penuh dengan pemikiran itu. Sepertinya bukan pelukan yang spontan yang ia pikirkan, melainkan rasa berdebar yang tiba-tiba saja dirasakannya. Jika ia bisa berdalih pelukan spontan itu karena tidak ingin ketahuan orang-orang kakek, ia bisa berdalih apa untuk debaran yang ia rasakan? Mungkin karena inilah pertama kali ia memeluk seorang wanita?
"Ara." Secara bersamaan mereka mengeluarkan suara.
"Ah, tidak. Silakan Anda bicara, Pak." Ara langsung memotong dan mempersilahkan pria itu bicara.
"Bicaralah lebih dulu, aku siap mendengarkan." Tristan juga mengalah.
"E ... tapi ..."
"Bicaralah," paksa Tristan. Ara mengangguk mengalah.
"Tuan Haga menelepon saya."
__ADS_1
"Kakek?!" Tristan terkejut. Kemudi langsung di banting ke pinggir jalan. Untung saja tidak ada mobil yang lewat dari belakang mereka. "Kakek meneleponmu?" ulang Tristan tidak percaya.
"Ya, Pak."
"Kenapa kakek menelepon mu bukan aku?" Ara menggeleng. "Lalu darimana kakek tahu nomor telepon mu?"
"Mungkin Antoni, Pak," terka Ara asal. Dia juga tidak tahu karena tiba-tiba saja ada nomor tidak di kenal saat ia berada di belakang tadi. Saat mereka masih berada di rumah sewa.
"Kamu harus menolak."
"Saya sudah bilang iya, Pak." Ara merasa bersalah. Bibir Tristan berdecak. "Bukannya kita pernah kesana, Pak. Jadi saya rasa tidak apa-apa."
"Bukan soal itu." Tristan melembutkan suaranya. "Aku ada perlu besok." Ara mengangguk.
"Antoni bisa menjemput saya jika Bapak sibuk."
"Kamu ingin bersama Antoni?" tanya Tristan.
"Dia memang masih berumur empat tahun di atas saya, Pak, tapi saya bukannya ingin dengan Antoni. Kakek sendiri yang mengusulkan."
"Tidak. Aku akan mengantarmu besok."
"Kalau Bapak sibuk, tidak apa-apa saya dengan Antoni."
"Sudah aku katakan, besok aku mengantarmu Ara," tegas Tristan tidak bisa di bantah.
"Baik." Ara langsung setuju.
__ADS_1