KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 97


__ADS_3

"Kenapa tidak bisa?" tanya tuan Haga membuat Ara yang tadinya kebingungan karena takut tuan Haga salah paham, mengerjap heran.


 


"Itu ..." Ara tidak melanjutkan. Dia tidak bisa bicara soal berkunjung ke rumah beliau lebih panjang lagi.


 


"Tinggal datang saja, apa yang sulit?" tanya tuan Haga terus menerus membuat Ara terkejut.


 


"Iya. Benar. Itu tidak sulit," ujar Ara sambil tersenyum kaku. Ia hanya membenarkan walaupun dalam hati tidak mengerti.


 


"Benar kan?" Tuan Haga menegaskan. Ara hanya mengangguk.


 


Bukan soal datangnya, tapi soal ijinnya. Memangnya masih ada ijin untuk Ara datang ke sana.


 


"Tuan Haga ingin kamu datang ke rumah beliau kalau ingin atau kangen dengan orang rumah," ujar Antoni yang langsung membuat kakek tua ini membalas dengan tatapan tajam padanya.


 


Antoni tidak sabar melihat percakapan bertele-tele dan penuh gengsi ini. Ia tahu maksud tuan besar.


 

__ADS_1


Ara melihat ke Antoni.


 


"Ingin datang?" tanya Ara merasa pendengarannya keliru. Antoni hanya mengangguk menjawab pertanyaan gadis ini tanpa suara. "Benarkah?" tanya Ara lagi. Dia tidak langsung mengerti karena dia merasa itu tidak masuk akal.


 


"Ehem." Kakek berdeham.


 


Antoni memberi isyarat pada gadis ini untuk bertanya pada tuan Haga, bukan dirinya. Ara mengerjap. Dia lupa kalau tidak seharusnya bertanya banyak pada Antoni. Namun untuk bertanya pada kakek Tristan ini, sungguh tidak mungkin. Dia terlampau takut.


 


"Tanya apa kamu ke Antoni?" tanya Kakek yang berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Ara barusan.


 


 


Ara mengatakan itu dengan sesekali melirik pada Antoni. Tuan Haga manggut-manggut merespon kalimat Ara.


 


"Menurut saya itu tidak mungkin," ujar Ara selanjutnya. Tuan Haga yang tadinya sudah berwajah damai, kini kembali kaku.


 


"Apanya yang tidak mungkin?!" seru kakek dengan suara agak meninggi. Ara terkejut. Antoni melirik. Tuan Haga sadar akan nada bicaranya yang meninggi. Dia menutup mulutnya karena terkejut juga. "Apanya yang tidak mungkin?" ulang Tuan Haga setelah melepas tangannya. Kali ini dengan nada suara yang biasa.

__ADS_1


 


"Bukannya ... Tuan Haga melarang saya datang?" tanya Ara hati-hati. Soal itu masih menjadi masalah yang sensitif di antara mereka berdua.


 


"Kalau aku melarangmu datang, seharusnya kamu datang saja ke rumah tanpa memberitahu," gerutu kakek. Ara mengerjap. Tidak paham maksud beliau. "Jika kamu datang mendadak, tentu saja aku tidak akan menyuruhmu pulang. Aku akan membiarkanmu berkunjung," tandas kakek dengan wajah di buat kesal.


 


Ara melebarkan mata. Lalu melirik ke Antoni. Pria itu tersenyum tanpa suara seraya mengangguk.


 


"Jadi ... maksud Anda, saya bisa berkunjung walau tidak di undang begitu?" tanya Ara lebih lanjut masih dengan kehati-hatian yang sama.


 


"Siapa yang bilang tidak di undang? Datanglah tanpa di suruh datang. Datang mendadak tanpa memberitahu. Perhatikan baik-baik kalimat yang aku ucapkan barusan ..." Kakek menegur Ara. "Begitu saja tidak paham," kata kakek gusar.


 


Antoni kembali tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan. Merasa terhibur dengan tingkah kakek tua yang lucu ini. Dia tahu apa yang sedang terjadi di sini. Hanya saja dia berusaha tenang. Karena sejak tadi ia ingin segera menghentikan semuanya.


 


Suara pintu di belakang mereka terbuka.


 


"Ada apa ini? Kenapa kakek ada di sini?" tegur Tristan yang muncul dari balik pintu.

__ADS_1


 


_____


__ADS_2