
Ara sedang makan siang di balkon gudang penyimpanan berkas-berkas keuangan dengan teman magang yang baru saja datang dari universitas lain. Namun gadis itu baru saja pergi karena ingin ke toilet. Ara tahu soal balkon tersembunyi ini dari kak Ghea. Beliau bilang, tempat ini indah. Benar juga, kita bisa melihat keseluruhan jalanan kota tanpa terlihat oleh yang lain.
Ara mencoba menelepon Jenny, tapi tidak bisa. Nomor Jenny tidak bisa di hubungi.
Apakah Jenny sedang bulan madu? Tidak. Tristan saja sudah berkerja lagi setelah acara resepsi yang di katakan itu. Lalu ada apa dengan Jenny hingga tidak bisa di hubungi?
Gadis ini menutup ponselnya dengan kesal. Lalu kembali menyuapkan nasi dari bekal yang di bawanya dari rumah.
"Ada apa denganmu, Jenny? Kamu tidak mau menerima teleponku? Kamu malu karena ternyata kamu setuju menikah dengan Tristan setelah menyuruhku menjadi pengganti mu di kencan itu?" Ara mengomel sendiri. Suaranya lumayan keras karena sebal.
Dia tidak tahu ada Tristan di gudang penyimpanan. Merasa mendengar namanya disebut, pria itu mengernyitkan kening.
"Siapa yang menyebut namaku?" tanya Tristan. Tristan yang memegang dokumen di tangannya menajamkan telinga. Seperti benar-benar di panggil oleh seseorang, Tristan menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun saat ini jelas sekali bahwa ia sedang sendirian di sana.
"Oke! Tidak apa-apa Jenny tidak mau dihubungi. Yang penting sekarang aku bisa tenang dengan uang yang banyak di rekening. Ya. Aku bisa tenang beberapa bulan ke depan!" kata Ara lantang. Mungkin karena merasa sendirian, ia dengan tenang bertingkah di sela makan siangnya.
Tristan mendengar dengan pasti suara itu.
"Ada seseorang di luar. Seseorang yang sepertinya menyebut namaku." Tristan menutup dokumen di tangannya dan segera keluar.
Saat membuka pintu gudang dokumen, Jarvis muncul di depan pintu karena akan masuk.
"Aku ada perlu. Jangan mengikuti ku," kata Tristan membuat Jarvis yang akan mengatakan sesuatu, langsung diam. Kaki Tristan bergerak memutar dan menuju pintu keluar menuju balkon.
Mungkin seseorang menyebut namanya bukanlah suatu hal hebat, tapi itu menjadi menakjubkan saat seseorang menyebut namanya dengan nada berani seperti itu. Apalagi si area perusahaannya ini. Bukan hanya itu, suara barusan terdengar tidak asing baginya. Suara lantang dan penuh keberanian itu mengingatkan dia pada seseorang. Ya. Seseorang yang mendadak menghilang setelah dirinya mengatakan akan menikahinya.
Langkah Tristan menuju ke balik dinding ruangan dokumen itu dengan pasti. Dia menuju balkon. Kakinya berhenti saat mendapati karyawan magang itu ada di sana. Duduk sendiri sambil menikmati makan siangnya.
__ADS_1
"Dia ...?" tanya Tristan heran. Kepalanya melihat sekitar. Tidak ada siapa-siapa disana selain karyawan magang itu. Tristan hendak balik kembali masuk ke dalam, tapi urung. Dia tetap maju. Melangkah maju ke depan hingga membuat Ara yang sedang menyiapkan nasi dari kotak bekalnya terkejut.
"Bapak?" tanya Ara tergagap. Tangannya menggantung di udara. Nasi dan lauk yang ada di atas sendok sebenarnya sudah siap ia masukkan ke dalam mulut, tapi karena kemunculan pria ini disana, ia gagal menyantapnya. Tangannya turun dari segera menutup bekal yang ia bawa.
Meskipun Ara sudah menyapanya dan berdiri menyambut kedatangannya, Tristan tetap mengedarkan pandangan ke sekitar balkon dengan taman kecil di sana. Mencari suara yang ia anggap tidak asing itu.
Ara mengikuti gerakan Tristan yang sibuk mencari sesuatu di area ini.
"Mencari apa pria ini ...," gumam Ara pelan dengan raut wajah tidak paham. Setelah yakin apa yang ia cari tidak ada dimana-mana, barulah Tristan melihat ke arah Ara. Kepala gadis ini mengangguk untuk bersikap hormat karena sekarang atasannya ini mulai menyadari keberadaannya.
Tristan terdiam saat melihat Ara di sana
"Kamu sendirian?" tanya Tristan lupa bahwa ia tidak terbiasa dengan seorang wanita. Karena rasa penasarannya perkara suara yang tidak asing itu, ia lupa cara bicara kakunya.
"Oh, ya Pak," sahut Ara tersentak tidak menduga cara bicara direkturnya seperti ini. Biasanya pria ini memanggil Saya dan Anda, tapi mendadak cara bicara resmi dan kaku itu lenyap. Membuat Ara terkejut karena itu adalah hal baru. "Oh, tidak. Saya bersama Maya, anak magang juga, Pak."
"Maya?" tanya Tristan mengerutkan dahi.
"Lalu kemana dia? Kemana teman kamu yang bernama Maya?" tanya Tristan dengan begitu menggebu.
"Dia ada di toilet, Pak," jelas Ara. Kepala Tristan menoleh dengan cepat ke arah toilet. Ia berharap perempuan bernama Maya itu segera muncul. Namun tidak.
"Apakah dia masih lama?" tanya Tristan begitu aneh.
"M-maaf, Pak. Saya tidak tahu," ujar Ara meringis tidak enak hati. Namun itu tentu pertanyaan aneh menurutnya. Bagaimana mungkin Ara tahu Maya ingin lama atau tidak di toilet.
Tolong pergilah. Jika tidak, aku tidak akan bisa makan siang dengan tenang di sini ... rengek Ara di dalam hati. Maya, cepatlah datang. Ara melirik kotak bekalnya yang di tutup ala kadarnya karena terburu-buru melihat kedatangan Tristan.
Anak magang itu tidak segera muncul. Tristan yang merasa ada perlu dengan gadis itu tidak segera pergi dari sana, hingga membuat Ara tidak bisa bergerak leluasa. Gadis itu jadi tidak melanjutkan makannya karena masih ada direktur di atas sini.
__ADS_1
"Kamu karyawan magang bagian apa?" tanya Tristan.
"Keuangan, Pak."
"Oke. Terima kasih." Setelah mengatakan itu, Tristan pergi.
"HH ..." Ara menghela napas lega setelah kepergian pria itu. Terduduk lemas sejenak, kemudian bersemangat lagi untuk melanjutkan makan. Maya muncul. "Kok lama?" tanya Ara setengah gemas.
"Maaf." Gadis baru ini duduk di sebelah Ara dan membuka tempat bekalnya.
"Barusan di cari pak direktur," kata Ara memberitahu.
"Direktur? Ada apa?" tanya Maya terkejut. Sangat terkejut. Ara heran karena keterkejutan itu.
"Enggak tahu. Aku pikir kamu tahu karena sepertinya dia kenal kamu," kata Ara. Maya menggelengkan kepala. "Aneh juga sih, dia mencari-cari kamu yang jadi anak magang baru. Karena dia itu sangat jarang terlihat berkomunikasi dengan karyawan lainnya."
"Dia direktur yang dingin, ya? Seperti di drama-drama begitu," tebak Maya.
"Haha ... Mungkin. Dia juga direktur yang aneh menurutku." Ara tergelak. "Bicaranya kaku dan sangat baku."
"Bagaimana kamu tahu? Bukannya ia jarang bicara dengan karyawannya? Apalagi kita anak magang ..." kata Maya membuat Ara berhenti tertawa.
"Oh, itu hanya bercandaan saja. Ya. Dia memang jarang bicara dengan karyawannya. Aku hanya bercanda," ralat Ara yang merasa ketahuan. Dia tetap tidak ingin ada orang tahu bahwa dia pernah kencan dengan pria itu. Kencan bohongan dengan upah yang banyak.
.......
.......
.......
__ADS_1
......................