KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 52


__ADS_3

Ara selalu menyempatkan membuat sesuatu saat mau berangkat ke rumah tuan Haga. Sudah suatu adat di kampung jika datang berkunjung wajib membawa oleh-oleh meskipun tidak seberapa.


"Buat apa lagi sekarang Ara? Bukannya aku sudah makan pagi?" tanya Tristan melihat Ara masih sibuk di dapur saat sarapan pagi sudah usai.


"Oleh-oleh untuk tuan Haga," sahut Ara mendongak sekilas, lalu fokus lagi pada adonannya.


"Jangan terlalu peduli dengan kunjungan ke rumah kakek. Kamu tidak perlu melakukan banyak hal untuk hubungan palsu ini." Ara berhenti.


"Saya tahu kalau semua ini hubungan palsu yang tidak penting bagi saya, tapi saya tidak bisa membiarkan diri saya menjadi buruk di depan kakek. Saya harus tetap menjadi diri saya sendiri walaupun sebenarnya saya bukan kekasih Anda sebenarnya." Tristan terdiam mendengar itu. "Bapak tidak perlu khawatir saya minta upah tambahan untuk apa yang saya lakukan sekarang. Saya benar-benar ikhlas kok."


"Bukan itu. Aku hanya ingin kamu tidak melakukan pekerjaan yang melelahkan itu."


"Mungkin membuat kue ini terlihat melelahkan bagi yang tidak suka, tapi bagi saya ... ini seperti sedang bermain, pak. Apalagi mood saya sedang baik."


"Ini membuat mu senang?" tanya Tristan. Ara mengangguk yakin dengan wajah sumringah.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Teruskan. Setelah itu bersiaplah."


"Baik, Pak."


"Aku hanya tidak ingin kamu lelah," gumam Tristan seraya melangkah menuju ke kamar.


***


Setelah Ara di antar Tristan ke rumah tuan Haga, pria itu pamit ada perlu di luar. Sedikit mendebarkan karena ini pertama kalinya ia berada di rumah tuan Haga sendirian. Kepala pelayan mengantar Ara menuju ke kebun. Kakek sedang memanen kentang.


"Tristan ada perlu, Kek."


"Selalu saja ada perlu. Dia boleh sibuk bekerja karena kita butuh kerja, tapi dia itu tidak pernah meluangkan waktu untuk keluarga. Kakek tidak suka itu." Tuan Haga mengomel. Ara hanya mengangguk-angguk saja. "Tolong kamu nasehati dia. Karena kamu itu gadis pertama yang ia ajak untuk bertemu denganku. Kakek yakin Tristan akan mendengarkan perkataan mu. Benar begitu?" tanya Kakek meminta pendapat kepala pelayan. Beliau mengangguk setuju.


Sangat membanggakan, tapi sayang ... ini hanya palsu.

__ADS_1


"Apa itu? Kamu membawa roti kesukaan kakek lagi?" tanya kakek melihat bungkusan salam dekapan Ara.


"Ah, iya." Ara menyodorkan bungkusan rapi kepada tuan Haga.


"Sebaiknya kita makan roti ini dulu baru melanjutkan panen kentang. Kamu bisa memanen kentang, Ara?" tanya kakek saat berjalan menuju pohon rindang tempat kemarin mereka makan. Panen kentang? Ara merasakan rasa was-was. Dia bukan tidak tahu bagaimana memanen kentang, tapi ... tuan Haga mengajaknya memanen kentang sebentar lagi?


"Ya. Saya bisa kok memanen kentang."


"Kamu?" tanya tuan Haga terkejut. Ara mengangguk. Sepertinya tuan Haga bermaksud mengerjai kekasih cucunya, tapi tanpa di duga gadis ini justru menerima tantangannya.


Ara meringis di dalam hati. Sepertinya ini yang membuat Tristan jarang membawa gadis ke rumah kakeknya. Bisa saja Tristan hanya beralasan tidak punya kekasih demi melindungi kekasihnya dari kerja rodi seperti memanen kentang ini. Namun ia sengaja mengenalkan dan membiarkan dirinya datang ke rumah kakek, karena ia tidak peduli dirinya di paksa bekerja.


Dengan terik matahari yang menyengat, Ara menggali kentang bersama tuan Haga dan beberapa pegawainya setelah makan roti buatannya. Mungkin ketekunan kakek pada sebuah pekerjaan menurun pada Tristan. Mereka rajin dan tekun.


"Minumlah jika haus, Nak! Terik matahari akan membuatmu dehidrasi!" teriak tuan Haga seraya tertawa. Tanpa di suruh pun Ara terus saja minum dari botol yang sudah di siapkan kepala pelayan. Dia paham benar soal berkebun karena ia orang kampung yang dulu suka membantu keluarga. Bahkan ia rela membantu tetangganya demi mendapatkan uang.

__ADS_1


__ADS_2