
Tristan dan Ara sudah kembali bergabung di dalam keramaian pesta. Meskipun masih linglung karena ciuman tadi, Ara tetap harus bisa bersikap wajar.
Jarvis yang menunggu waktu yang tepat untuk bicara pada Tristan, akhirnya muncul.
"Maaf, Tuan. Kakek Anda sedang mencari Anda berdua." Jarvis menyampaikan salam dari tuan Haga.
"Ya. Aku akan kesana bersamanya." Ara menipiskan bibir dan menggigit lembut berulang-ulang. Ia merasa aneh di area itu karena sudah di sentuh Tristan. Itu aneh. Karena ini pertama kalinya. Meskipun ada sedikit rasa nyaman, Ara tetap merasa asing.
"Aku mau ke kamar mandi," ujar Ara melihat pintu kamar mandi. Ia ingin menyingkir sejenak dari sana.
"Ya. Aku tunggu di sini." Tristan melepaskan pelukannya pada lengan gadis ini. "Jarvis, mungkin ada hal yang ingin kau tanyakan?" tegur Tristan tiba-tiba selepas Ara pergi. Ini membuat Jarvis sempat tersentak kaget.
"Soal pekerjaan atau ..."
"Ara," potong Tristan. Jarvis berdebar. Dia terkejut di tegur soal Ara. "Kamu pasti bertanya-tanya soal aku menciumnya tadi." Tenyata Tristan menyadari adanya Jarvis yang bersembunyi di balik dinding tadi.
"Maaf." Jarvis menunduk.
"Mungkin aku terlihat bermain-main dengannya, tapi tidak. Aku bersungguh-sungguh. Jika tadi kamu bisa bicara bebas dengan Ara, sekarang aku tekankan ... Jaga jarak selama tidak ada hal penting dengannya. Aku tidak suka melihatmu dan Ara bicara akrab seperti tadi," desis Tristan.
__ADS_1
Jarvis mengangguk paham dan tidak paham. Paham bahwa Ara bukan orang yang bisa di remehkan sekarang. Tidak paham karena kenapa Tristan tiba-tiba menjadi se-posesif ini?
***
"Kemana saja kalian? Kakek khawatir Tristan memarahimu soal pesta ini. Jadi kalian bertengkar." Insting kakek ternyata sangat bagus. Tebakan beliau benar.
"Kita baik-baik saja," sahut Tristan yakin. Padahal Ara masih tidak baik-baik saja soal ciuman tadi. Ini sangat menggemparkan buat dirinya. Ruang hatinya masih gonjang-ganjing.
"Kenapa kamu pucat, Ara?" tanya kakek membuat Tristan terkejut.
"Pucat?" Dengan cekatan Tristan meraih dagu Ara dan mencoba menatap wajah itu dengan seksama. Tristan tampak cemas. "Kamu sakit?" Ara mengerjapkan mata terkejut, juga malu karena kakek terus saja memperhatikan dengan wajah heran.
Mungkin ini pertama kalinya Tristan menunjukkan kepeduliannya pada Ara di depan kakek secara langsung dengan hati tulus.
Tuan Haga tersenyum. "Dia gugup dengan kecemasanmu yang berlebihan, Tristan."
"Ini tidak berlebihan Kakek. Aku memang harus memastikan Ara baik-baik saja. Syukurlah jika kamu tidak apa-apa." Perlahan Tristan melepas pegangannya pada dagu Ara.
Sebenarnya, Ara pucat karena masih syok akibat ciuman Tristan. Bahkan itu dua kali untuk sebuah ciuman pertama.
__ADS_1
"Duduklah dulu dan makan Ara. Meskipun kamu bilang baik-baik saja, aku cemas. Sepertinya kakek mau bicara denganku." Dengan lembut Tristan menyuruh Ara istirahat. Gadis itu mengangguk dan berpamitan pada kakek.
"Kamu baik-baik saja?" tanya kakek.
"Soal apa?"
"Hari ulang tahunmu." Rupanya kakek sempat mencemaskan Tristan. Beliau tahu soal pria ini yang enggan ada pesta ulang tahun.
"Kalau kakek tahu kenapa harus mengadakan pesta seperti ini? Aku ingin marah tadi," ujar Tristan geram.
"Lalu kenapa tidak marah?" Kakek bertanya dengan tenang.
"Tiba-tiba aku tidak ingin melakukannya."
"Pasti karena Ara terlibat?" tebak kakek benar. Tristan hanya diam sambil mengambil minuman di depannya. "Hahahaha ... kali ini kamu benar-benar tunduk dengannya ya? Hahaha ..." Kakek tertawa puas. Beliau senang.
.......
.......
__ADS_1
.......
......................