
Ara pulang masih dalam mode blank. Otaknya konslet.
"Ayo turun," ajak Tristan. Namun gadis ini tidak langsung menjawab. Bengong. "Ar," panggil Tristan lembut. Ara menoleh. "Kita masuk atau kamu masih ingin di mobil? Kita pergi saja lagi, lalu pulang setelah kamu mau."
Ara masih tidak menjawab. Namun ia tetap keluar dari mobil. Bahkan sekarang dengan kening yang mengerut.
"Tunggu, Pak. Sepertinya ada yang keliru. Tadi itu. Bapak kan ..." Ara mendadak berhenti bicara. "Emmm ..." Ara kebingungan.
"Apa? Soal aku mencium mu?" tanya Tristan membuat telinga Ara langsung memerah karena malu.
"Jangan bicara soal itu dengan tenang, Pak," protes Ara. Kini bukan hanya telinga saja yang merah. Wajahnya mulai panas.
"Kenapa? Sekarang kamu tidak tenang?"
"T-tentu saja. Apa bapak bisa tenang setelah mencium perempuan? Oh, tentu saja begitu. Bukankah ini bukan pertama kalinya ..." Ara mendengus. Mencela Tristan. Mendadak hujan turun.
"Masuk Ara!" Tristan segera menghampiri Ara dan menarik lengan gadis ini. Mengajaknya berlari untuk segera masuk ke gedung apartemen. "Sebaiknya segera naik. Di sini dingin." Ara tidak jadi meneruskan pembicaraannya.
**
__ADS_1
Penghangat ruangan sudah di nyalakan. Ara sedang berada di dapur membuat minuman hangat untuk mereka berdua. Sebenarnya Ara masih canggung, tapi dia berusaha mengabaikan.
"Minumanku, sudah?" tanya Tristan yang muncul dari kamar. Ara menoleh dan mengangguk. Dia mengambil nampan dan membawanya mendekat ke meja di depan tv. Ara hendak pergi, tapi Tristan memintanya duduk. "Duduklah." Ara patuh. "Soal ciuman tadi ... " Ara meremas nampan tadi dengan erat karena Tristan membahas soal ciuman.
Tristan melirik. Dia mencondongkan tubuhnya dan meraih nampan di tangan Ara. Tentu saja ini membuat Ara tersentak kaget.
"Kamu salah jika mengira aku sudah mahir berciuman dengan wanita. Karena ini pertama kalinya." Tristan menjelaskan. Ara diam. "Mungkin terdengar mengada-ada, tapi aku bicara apa adanya. Bukan tidak normal. Aku hanya terlalu fokus bekerja."
"Itu tidak normal," gumam Ara lirih.
"Aku dengar itu," tunjuk Tristan. Ara menipiskan bibir. "Jika kamu penasaran kenapa aku tetap tenang? Tidak. Aku tidak tenang Ara. Sekarang aku justru ingin memelukmu, tapi aku tahan." Ara terkejut mendengar pengakuan berikutnya. Ia langsung gugup.
"Saya rasa ini tidak benar, Pak."
"Kita."
"Aku suka itu. Itu kata baru dalam kamusku," kata Tristan sambil tersenyum. Ini membuat Ara gelisah. Jari-jarinya bertaut. Ia salah tingkah dengan senyuman pria tampan ini.
"Anda terlalu mewah untuk saya yang ekonomi rendah." Ara tidak hiperbola soal ini. Mereka berdua sangat bertentangan. Tristan orang kaya, dia orang miskin. Soal kesenjangan itu tidak boleh di abaikan.
__ADS_1
"Jadi aku di tolak?" tanya Tristan.
"I-itu mustahil," sahut Ara cepat. Tristan tergelak. Ara menggeram kesal karena terlalu kentara menunjukkan keinginannya.
"Syukurlah. Aku sempat gelisah saat melihatmu berdiam diri terus." Tristan menghela napas lega. Dia hempaskan punggungnya ke sandaran sofa.
"Bapak gelisah?" tanya Ara tertegun.
"Ya," sahut Tristan seraya menoleh ke samping dan tersenyum lemah.
"Bapak kan orang tampan dan kaya," ujar Ara lambat. Masih dengan ketidakpercayaannya.
"Aku tidak tahu. Saat aku terbuka menunjukkan aku menyukaimu, aku berharap kamu juga merasakan yang sama. Melihatmu tidak bereaksi banyak selain tidak percaya, aku ragu pada diriku sendiri. Aku ini manusia, Ara ... Sama seperti kamu. Aku juga punya rasa takut dan cemas di tolak."
Ara terdiam mendengar penjelasan Tristan.
.......
.......
__ADS_1
.......
......................