KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab 27 Ruangan direktur


__ADS_3

Lalu ia duduk di sofa. Karena gugup, Ara tidak memberikan dokumen dalam dekapannya kepada Tristan. Pria ini menghela napas. Lalu berdiri mendekat ke arah sofa. Melihat Tristan mendekat, Ara terkejut. Tubuhnya waspada.


"Berikan." Jari Tristan bergerak.


"A-apa, Pak?" Ara benar-benar tidak fokus. Dia tegang, takut, dan gugup.


"Dokumen dalam dekapanmu," tunjuk Tristan jelas. "Apa yang kau pikirkan?" desis Tristan karena Ara menjauhkan tubuhnya.


"M-maaf, Pak." Ara lalu berdiri ingin menyerahkan dokumen itu. Namun tidak di sangka, ujung sepatunya yang lancip menyangkut di bawah kaki sofa. Dalam sekejap Ara limbung dan hendak menabrak Tristan.


Dalam satu tangkapan, Ara berhasil di selamatkan. Tubuhnya menempel tepat di dada milik Tristan.


"Ya ampun!" Ara berteriak lagi saat menyadari dia sedang menempel pada tubuh pria ini. Tristan melepaskan tangannya dari lengan Ara. Gadis ini segera menjauh dari tubuh Tristan. "Maaf. Maafkan saya ..." Ara mengangguk-anggukkan kepala meminta maaf untuk kesekian kalinya. Tristan diam. Dia tidak menanggapi kegugupan Ara. Juga tidak merespon kata maaf yang di ucapkan dengan gerakan canggung dan takut.


"Ck," decak Tristan. Ara mendengar decakan kesal itu. Itu membuatnya meringis takut. Masih dalam posisi membungkukkan badan, Ara melihat ke depan pelan-pelan.


"Berikan dokumen itu padaku," tagih Tristan terdengar tidak sabar. Ara hendak menyerahkan dengan posisi yang sama, tapi Tristan menggertak, "Berdirilah dulu baru kau bisa serahkan dokumen itu." Ara sadar dia sempat tidak sopan barusan. Dia langsung berdiri dengan wajah sangat malu. Menyerahkan dokumen dengan tepat dan tanpa kesalahan seperti tadi.


"Aku seperti melihat wanita lain sekarang. Bukan seperti Jenny palsu di cafe waktu itu," tukas Tristan terus terang. Ara kembali meringis di dalam hati.


Tentu saja beda. Waktu itu aku adalah Jenny. Gadis yang kaya raya. Sementara sekarang aku adalah Ara, gadis yang bersusah payah bekerja sambilan demi mencukupi kebutuhan hidup dan kuliah di kota.


Dia memang sudah mengaku bahwa wanita yang jadi teman kencan di cafe itu adalah dirinya, tapi ... Jenny pasti bicara banyak tentangku. Buktinya Tristan sudah berhasil menemukannya.

__ADS_1


"Duduk. Aku ingin bicara denganmu." Tristan bicara seraya menggerakkan jarinya menyuruh Ara duduk di sofa lagi. Gadis ini patuh. Lalu dia melihat ke Ara dengan wajah serius.


Ara menggigit bibir menanti detik-detik dirinya di keluarkan dari kegiatan magangnya. Saat ini dia adalah pelaku yang berani mempermainkan direktur perusahaan besar seperti Tristan. Tentu itu bukan kesalahan kecil.


Aku akan di keluarkan atau bagaimana ...??


**


Ara duduk dengan mencoba nyaman meskipun hatinya tidak karuan. Apa yang akan di katakan pria ini pada Tristan. Sebuah kejutan yang membahagiakan? Itu tidak mungkin. Karena Tristan sudah mengatakan kemarahan soal batalnya pernikahan mereka di awal. Berarti kemungkinan besar adalah amarah.


Sambil memegang dagu dan menyilangkan kakinya, Tristan memperhatikan gadis di depannya. Beberapa detik. Lalu menghela napas sendiri.


"Baiklah ...," kata Tristan


"A-anda akan membuat laporan bahwa saya tidak berkompeten sebagai pemagang?" tanya Ara takut-takut. Ia mendadak sedih.


"Ya. Oh, tidak Pak. Saya tinggal sendiri," jawab Ara gugup. Meskipun aneh, dia tetap harus menjawab.


"Tinggal di apartemen ya ..."


Apartemen? Bibir Ara menipis mencela dirinya sendiri.


"Bukan apartemen, Pak. Hanya sebuah rumah sewa yang sangat kecil," ungkap Ara tanpa malu. Justru dia malu saat Tristan menyebut rumah sempit yang di sewanya adalah apartemen.

__ADS_1


"Oh, ya ..." Tristan tersadar lagi kalau gadis ini banyak kekurangan pada keuangannya. Jarinya menggosok alisnya pelan. Lalu berdecak lirih kemudian. "Bisakah, jadi kekasihku sementara?" tanya Tristan. Ara mendongak, lalu menoleh ke sekitarnya. Merasa Tristan sedang bicara dengan seseorang. Kening pria ini mengernyit melihat tingkah Ara. "Kamu mengabaikan ku?" tegur Tristan membuat Ara terkejut.


"T-tidak Pak," bantah Ara seraya menggelengkan kepala.


"Lalu itu apa? Lihat orang yang mengajakmu bicara. Bukan melihat ke kanan dan kiri seperti itu!" tukas Tristan menggeram.


"Maaf."


"Kamu dengar apa yang aku katakan tadi?" tanya Tristan. Manik mata Ara mengerjap. Ia tidak paham maksud pria tampan di depannya. Tristan sadar Ara tidak benar-benar mendengarkannya tadi. "Aku ingin kamu jadi kekasihku sementara," ucap Tristan mengulang kalimat permintaannya tadi. Baru sekarang Ara mendengar dengan jelas dan yakin bahwa Tristan sedang bicara dengannya. Bola mata gadis ini mendelik karena sangat terkejut. Lalu menunduk. Kemudian mendongak lagi.


"Anda sedang bercanda Pak? Atau Anda sedang mencemooh saya?" tanya Ara heran. Ia tidak menduga pertanyaan aneh itu untuknya.


"Tidak. Aku serius."


"Saya tidak paham." Ara benar-benar tidak percaya.


"Kamu tidak perlu paham. Saat ini posisi kamu sedang ada di ujung tanduk. Kamu hanya cukup mengiyakan atau tidak. Jika pilih tidak, kamu bisa melihat apa yang aku lakukan karena kamu berani mempermainkan aku," tukas Tristan yang membuat Ara mengatupkan rahangnya untuk diam. Tristan mengamati Ara yang tidak punya pilihan lagi selain setuju. "Kita setuju. Kamu terikat kontrak denganku."


Itu hanya kamu Tristan. Hanya kamu yang setuju. Aku ada pada posisi terjepit karena salah. Jadi aku tidak bisa apa-apa karenanya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...B E R S A M B U N G...


__ADS_2