KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 11


__ADS_3

Beberapa jam sebelum Tristan muncul di cafe.


"Kemana perempuan itu? Dia sudah menolak panggilanku berulangkali." Tristan meletakkan ponselnya dengan kesal di atas meja. "Kenapa dia muncul di acara kencan jika ada janji dengan pria lain." Tristan berpikir lagi. "Perempuan itu rumit. Lebih melelahkan daripada bekerja." Tristan menghela napas.


"Bekas?" gumam Tristan saat istirahat di apartemennya. Ia teringat lagi kata-kata Jarvis. "Jadi jika aku menikahinya aku akan mendapatkan bekas?" Kepala Tristan menunduk untuk melihat tangannya meraih cangkir espresso. Lalu menyeruputnya dalam ketenangan. "Persetan dengan itu. Jika dia memang wanita yang seperti itu, bukankah akan menjadi lebih baik. Karena aku hanya membutuhkan semacam hubungan bisnis, tanpa cinta apapun. karena itu akan melemahkan otakku saat bekerja." Tristan tetap pada pendiriannya.


Pria ini masih belum punya keinginan menikah. Yang ada di dalam otaknya hanya kerja dan kerja. Ia mulai berpikir untuk menikahi calon perempuan di perjodohan ini hanya karena kalimat kakeknya yang sangat mengena di hatinya, yaitu soal orangtuanya. Menurutnya apa yang di katakan kakeknya siang itu di ruang kerjanya adalah benar. Kakek tua itu akan makin tua dan mati. Mungkin akan menjadi penyesalan terbesar di dalam hidupnya jika ia tidak menuruti keinginan pria tua itu.


Seringkali ada banyak beban di pundaknya, jika kakek itu sudah bicara soal dirinya yang sudah tua dan orangtuanya yang sudah lebih dulu meninggal. Bagaimanapun, kakek tua itu hanya ingin melihat kebahagiaan dirinya. Yang dimana sangat bertentangan dengan kebahagiaan yang ia ingin sebenarnya.


Bukan tidak ingin menikah, tapi Tristan belum ingin menikah. Bukan tidak menemukan perempuan yang bisa membuatnya luluh dan jatuh cinta, melainkan dia tidak mau mencari jadi takdir tidak ingin mempertemukan dia dengan jodohnya.


Ponsel di tangannya bergetar. Ada seseorang mengirimkan pesan untuknya. Sedikit mengejutkan karena itu adalah orang yang di carinya. Jenny! Apalagi saat membaca isi pesan itu, yaitu membuat janji untuk bertemu.


"Jadi dia tidak bisa dihubungi dan justru menghubungiku sendiri," gumam Tristan sembari mendengus pelan dan tersenyum miring.

__ADS_1


***


Mereka bertemu lagi dengan inisiatif dari Ara. Dia harus membereskan ini karena tidak ingin upah di kembalikan.


"Aku pikir kamu kabur setelah kencan waktu itu," kata Tristan menanggapi kemunculan Ara dengan masker menutupi wajahnya.


"Itu bukan kencan. Itu hanya pertemuan biasa," ralat Ara. "Dan ... kenapa kamu langsung membuat rencana pernikahan sebelum mendapat jawaban iya dariku?" tegur Ara. Tristan diam. Menatap Ara lurus.


"Bukankah tujuan kita bertemu waktu itu adalah pernikahan?"


"Aku tidak bisa melakukannya. Itu kuasa Kakekku. Jadi jika ingin batal, bicaralah dengan kakekku."


"Tuan Haga? Tidak mungkin." Ara mendelik.


"Padahal kamu tidak tahu namaku, tapi justru ingat nama kakekku."

__ADS_1


"I-itu tidak penting." Ara mengibaskan tangannya. "Aku tidak ingin menikah, Tristan. Dan aku yakin kamu juga sama. Kita tidak ingin terikat pernikahan yang tidak di inginkan."


"Kenapa berpikir aku tidak mau menikah denganmu?"


"Tentu saja tahu. Mana mungkin kamu membiarkan aku bertemu pria lain saat aku adalah calon istrimu. Kamu tidak akan biasa-biasa saja dengan itu."


"Mungkin saja aku pria yang baik. Jadi membiarkan calon istrinya bermain dengan pria lain sebelum benar-benar resmi menjadi suami istri."


"Mustahil. Jangan bicara konyol." Ara kembali mengibaskan tangannya. "Kamu pria waras. Kebebasan akan musnah jika kamu ..."


"Aku juga suka kebebasan," potong Tristan.


"Ya. Bagus itu." Ara menjentikkan jarinya puas.


"Walaupun begitu, bukankah kita wajib menikah karena sudah di atur?" kata Tristan membuat Ara menipiskan bibir.

__ADS_1


Sudah di atur? Jadi pria ini tidak peduli siapa yang sedang dijodohkan? Dia akan menikah dengan wanita mana saja yang di jodohkan saat ini? Pasrah sekali. Seperti tidak laku saja, gerutu Ara di dalam hati.


__ADS_2