
Sesampainya di rumah, Ara mengacak rambutnya dengan kesal. "Sungguh sial. Dia mulai menyadari siapa aku." Setelah berhasil keluar dari perusahaan, dia segera pulang tanpa mampir kemana-mana. Ara tidak ingin di temukan.
Setelah membersihkan diri, Ara mencoba menghubungi Jenny. Namun dia masih belum bisa dihubungi. Gadis ini ingin kejelasan soal batalnya pernikahan temannya itu dengan Tristan. Dimana yang dia pikir sudah sukses. Namun kenyataannya justru gagal.
"Jenny kenapa sih?" ujarnya sambil melihat ke layar ponselnya dengan kesal. Namun secepatnya ia sadar. Kemungkinan menghilangnya Jenny adalah di sebabkan batalnya pernikahan mereka. Bukankah keluarga Jenny adalah orang terpandang? Apa jadinya jika pernikahan yang sudah di helat itu akhirnya batal? "Aku memang tidak pernah ke rumahnya kecuali bersamanya. Apakah aku harus kesana sendiri?" tanya Ara pada dirinya sendiri dengan tangan mengetuk kepalanya. "Oke, aku akan coba ke sana." Ara mengambil keputusan dengan cepat.
................
Saat sampai di depan rumah Jenny, Ara turun dari motor matic-nya dan mencoba menelepon Jenny. Namun tetap saja ponsel gadis itu tidak aktif. Melihat ada seorang gadis berdiri tepat di depan gerbang pintu, seorang pria mendekat.
"Non Ara ya ..." tegur pria yang jadi security di rumah Jenny ini hapal. Kepala Ara yang sedang menghadap ke jalan besar menengok ke belakang dengan cepat.
"Eh, iya Pak Gogon. Jenny ada?" tanya Ara yang menutup ponsel dan memilih bertanya pada security ini.
"Emm ... " Pria itu terlihat ragu saat akan menjawab pertanyaan Ara.
"Apa keberadaan Jenny harus di sembunyikan?" bisik Ara yang seperti mengerti situasi sekarang.
"Bukan seperti itu, tapi nona Jenny sepertinya di hukum oleh Tuan besar karena pernikahan yang gagal itu ..." bisik pak Gogon yang memang sudah akrab sama Ara. Kepala gadis ini mengangguk mengerti. Semua karena kegagalan pernikahan yang menjadi santapan media. Berita itu memang menggemparkan. Ara tahu bagaimana Tristan di kejar banyak wartawan. Itu pasti terjadi pada Jenny juga.
Mendadak sebuah lampu terang menyoroti mereka. Ara menutupi matanya dengan tangannya. Menghalau sinar lampu yang menerobos menyilaukan mata. Bersamaan dengan itu, ponsel Ara berdering. Ternyata ibunya yang ada di kampung yang menelepon. Ara membalikkan badan dan menerima telepon.
"Ya, Ibu."
Sementara itu Pak Gogon menerima tamu yang datang barusan.
__ADS_1
"Selamat malam, Tuan," sapa Pak Gogon menyapa tamu yang datang. Si pengemudi membuka kaca mobil.
"Tuan Haga datang ingin menemui Tuan Andromeda Anggara," kata sopir. Ternyata itu tuan Haga dari Haga Corporate bersama cucunya Tristan.
"Oh, Tuan Haga dan Tuan Tristan." Pak Gogon hapal dengan calon besan tuannya. Tristan dengan wajah malasnya mengangguk dengan salam yang di berikan Pak Gogon.
Manik mata Tristan sempat menoleh ke arah Ara yang masih membelakangi mereka karena sibuk mengobrol dengan ibunya. Bola matanya mengerjap. Namun dia tidak tahu bahwa itu adalah Ara.
"Silakan Tuan." Setelah membuka pintu gerbang, Pak Gogon mempersilakan tamu majikannya masuk. Tristan pun berpaling dari Ara memunggunginya. Mungkin, jika Tristan tahu motor butut milik gadis ini ... dia akan tahu bahwa itu Ara. Gadis yang dikejarnya tadi sore di perusahaannya.
Ara masih berbincang saat mobil Tristan sudah masuk ke dalam halaman rumah. "Hh ... " Ara menghela napas. "Iya ibu. Aku akan pulang kalau sudah liburan."
"Jangan sungkan bila uangmu habis," kata ibu mengerti putrinya termasuk orang yang keras. Sedikit tertutup soal hatinya pada keluarganya.
"Iya. Tamu penting."
"Siapa?" tanya Ara penasaran.
"Dia ..." Belum selesai pak Gogon bicara. sebuah mobil kembali muncul. Ternyata itu mama Jenny. Ara sedikit berpaling dari mobil mewah itu agar tidak terlalu kelihatan. Mendadak Ara takut sendiri bertemu keluarga Jenny. Mungkin karena dia merasa ikut andil dalam gagalnya pernikahan mereka.
"Ara!" pekik Jenny di dalam hati melihat temannya ada di depan gerbang. Jenny langsung bangkit dari gerak malasnya. Menunggu momen dekat dengan Ara untuk bicara. Saat mulai mendekati tubuh gadis yang sengaja menyingkir demi tidak ingin terlihat, Jenny memberi kode pada pak Gogon untuk membiarkan Ara masuk. Kepala pak Gogon mengangguk mengerti.
"Ada apa, Jen?" tanya mama yang sedang melihat ke tab-nya, tiba-tiba mendongak.
"Enggak ada," sahut Jenny. Ia tidak ingin mama lihat kedatangan Ara di sana. Beruntunglah. Mobil mewah itu masuk dengan tenang tanpa tahu keberadaan Ara. Setelah berhenti di garasi mobil, Jenny turun dan berpura-pura sedang mencari sesuatu.
__ADS_1
Di luar, Pak Gogon memberitahu Ara untuk menunggu sebentar. Memberitahu bahwa Jenny sudah tahu kedatangannya.
"Kamu ngapain di sana? Ayo masuk." Mama yang melihat Jenny kebingungan di dekat pintu mobil berhenti.
"Sepertinya mainan tasku hilang, Ma."
"Mainan tas?" tanya mama mengernyitkan alis. Jenny menunjukkan tas kecilnya tanpa mainan yang harganya juga mahal.
"Aku ingin mencarinya sebentar di depan gerbang."
"Suruh pak Gogon saja yang mencari."
"Tidak. Aku akan mencarinya sendiri."
"Hmm ... Okelah. Jangan keluar rumah. Mama tidak akan menolong kamu jika papa tahu soal itu," ingat mama akan hukuman dari papa.
"Aku tahu. Aku tahu," kata Jenny.
"Ada Ara di luar bukan?" Rupanya mama tahu keberadaan gadis itu. Jenny melebarkan mata lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Salah tingkah karena ketahuan.
.......
.......
...B E R S A M B U N G...
__ADS_1