
Apartemen terlihat lengang awalnya, tapi saat Tuan Haga muncul di depan pintu, Tristan mulai kesal. Kedamaiannya beristirahat mulai terganggu.
"Buka pintu, Tristan! Kakek tahu kau ada di dalam!" teriak tuan Haga tetap bertahan meskipun cucunya tidak membukakan pintu untuknya. Tristan menggeram kesal. Namun ia terpaksa membukakan pintu untuk si kakek tua. "Jangan kau pikir mau menahanku untuk masuk ke apartemen ini, Tristan." Tuan Haga melesat ke dalam dengan tatapan lelah Tristan. Lalu beliau duduk di sofa.
"Aku tidak pernah menahan kakek kemana saja. Apalagi hanya apartemenku. Bukankah kakek selalu menempatkan orang untuk mengawasi ku?" sindir Tristan. Yang ia maksud adalah orang yang mengikuti Ara.
"Ehem!" Tuan Haga berdeham keras. Beliau tidak mau menjawab. "Kakek ingin bertanya tentang keputusan kamu membawa seorang wanita saat kamu sedang ada janji temu dengan Aurora. Apa maksud kamu Tristan?" Kakek selalu punya cara untuk menyamarkan kesalahannya. Padahal itu kesalahannya sendiri menjodohkan Tristan tanpa peduli cucunya setuju atau tidak.
"Kakek ingin minum apa?" tanya Tristan tanpa menjawab pertanyaan Tuan Haga.
"Kamu tidak menjawab pertanyaan kakekmu."
"Sebaiknya aku siapkan dulu sebuah minuman jika kakek benar-benar ingin bertanya banyak hal," kilah Tristan.
"Teh hijau," sahut tuan Haga kemudian. Tristan punya segala macam minuman demi mendapat kunjungan dari kakeknya seperti ini.
"Akan aku buatkan." Tristan bergerak ke pantry-nya. Tristan mulai menyelesaikan minuman yang ia buat.
"Kenapa kakek membawa seorang perempuan untuk di jodohkan denganku lagi?" Tristan justru memberikan sebuah pertanyaan untuk kakeknya.
"tentu saja. Kakek ingin kamu segera menikah. Titik."
__ADS_1
"Aku akan menikah dengan pilihanku sendiri kakek."
"Kamu yang gila kerja tidak akan segera menikah jika tidak aku jodohkan."
"Soal wanita yang aku bawa itu dia adalah ..." Sejak awal Tristan yakin, kalau kakek tua ini datang kemari adalah karena Ara. Karena itu dia sudah siap.
"Siapa dia?" tanya tuan Haga tidak sabar. Memotong kalimat cucunya dengan tujuan menggerutu.
"Dia kekasihku," sambung Tristan seraya memberikan cangkir teh hijau pada tuan Haga.
"Kamu? Kamu punya kekasih?" Sedikit terdengar mencela saat kakek bertanya. Tristan menatap kakeknya dan menipiskan bibir. Ia sadar bahwa memang itu aneh. Dia punya kekasih?
"Jangan mencoba membohongi kakek." Peringatan secara langsung untuk Tristan.
"Kakek tahu siapa kamu. Jadi tentu aku ragu jika dia kekasihmu." Tuan Haga benar. Tristan gila kerja. Pria ini jarang sekali bisa dengan cepat dekat dengan seorang perempuan. Jadi sangat mustahil jika tiba-tiba Tristan punya kekasih.
Sial. Kakek tidak langsung percaya bahwa Ara kekasihku. Mungkin aku memang harus melaksanakan rencana itu.
"Dia akan tinggal denganku," ujar Tristan.
***
__ADS_1
Keputusan Tristan membuat tuan Haga tercengang. Ini pertama kalinya pria ini serius. Namun beliau masih sangsi.
"Kakek akan lihat bagaimana kalian nantinya." Beliau tidak menolak, tapi kalimatnya lebih kepada menantang keputusan cucunya.
**
Tristan tidak main-main dengan kata-katanya. Ia tidak ingin kakek terus saja membuatnya mendatangi perjodohan. Dengan nekat, ia memberi perintah pada Jarvis untuk memboyong Ara ke apartemennya. Ini hari libur. Jarvis terpaksa tidak libur demi menjalankan tugas atasannya. Tidak ada drama apapun saat Jarvis mengajak Ara ke apartemen Tristan. Gadis ini, yang hanya mengerti kalau dia adalah bawahan yang harus patuh, ikut saja dengan Jarvis.
Bola mata Ara melihat ke sekeliling. Ini pertama kalinya ia memasuki apartemen seorang pria.
"Kamu sudah datang?" tanya Tristan yang muncul dengan pakaian santainya. Ara mengerjap melihat sosok lain Tristan. Pria ini tetap tampan dengan pakaian santainya. Kepala Ara hanya mengangguk saja tanpa suara. Apalagi saat pria itu duduk tepat di depannya. "Tidak perlu basa-basi. Jarvis, bawakan dokumen perjanjian kontrak kita."
Ara melirik ke arah Jarvis yang berdiri di dekat Tristan. Pria itu mengeluarkan sebuah berkas dengan cover tebal berwarna hijau metalik dari tas kerjanya. Ara jadi tahu jawabannya. Kenapa Jarvis tetap membawa sebuah tas kerja meskipun ini hari libur.
"Baca dan tandatangani kontrak ini," kata Tristan saat Jarvis meletakkan surat kontrak itu di atas meja.
"Jadi ini kontrak yang di katakan Jarvis itu?" gumam Ara lirih. Ara membaca dan mengernyitkan kening. "Apa ini? Anda meminta saya tinggal di apartemen? Apartemen Anda?" tanya Ara terkejut. Tristan diam sambil menatap lurus ke arah gadis ini. Ara jadi paham kalau pria ini serius dengan kata-kata di dalam kontrak. "T-tapi bagaimana bisa ..."
"Lakukan kontrak ini tanpa banyak bicara. Bukan hanya aku, kakek juga bisa menuntut mu dengan modus penipuan karena kencan buta waktu itu. Karena kamulah otak kekacauan gagalnya pernikahan yang di rancang kakekku," ancam Tristan membuat Ara menipiskan bibir kesal.
"Kenapa terus saja mengancam dengan kejadian itu ...," sungut Ara.
__ADS_1
"Terserah." Tristan melipat tangan. Dia membiarkan gadis ini pusing kepala. Karena dia tahu, tidak ada pilihan lagi bagi gadis ini untuk tidak setuju.
**