KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 60


__ADS_3

Pesta yang di rencanakan kakek tanpa sepengetahuan Tristan di gelar hari ini di kediaman Tuan Haga. Ara di minta untuk mengajak pria ini kesana tanpa tahu pesta yang akan di gelar. Ini hari libur, ada banyak waktu Ara bertemu pria ini.


"Kakek? Kamu ingin ke rumah kakek?" tanya Tristan mengerutkan kening saat Ara mengatakan keinginannya di dekat tv.


"Iya. Bukannya kita sudah tidak pernah kesana lagi?"


"Aku tidak ada waktu luang untuk ke sana." Tristan menjawab dengan berlalu. Sial. Ara mengikuti langkah Tristan di belakang. Dia tidak boleh menyerah. Bisa berantakan pesta yang di rencanakan kakek jika orang yang berangkutan tidak muncul.


"Tidak punya waktu luang bagaimana, Pak? Bukannya sekarang Anda sedang senggang. Buktinya Anda bangun pagi, dan ... " Duk! Karena bersemangat bicara, Ara tidak bisa mengerem kakinya saat Tristan berhenti mendadak. "Aduhhh ..." Ara meringis mengusap dahinya.


"Sampai kapan kamu mau mengikutiku?" tegur Tristan.


"Sampai aku bisa mengajak Bapak ke rumah kakek," sahut Ara yakin.


"Bahkan itu ke kamar mandi?" tanya Tristan seraya menunjukkan kamar mandi yang terbuka. Ara melongok masuk ke dalam. Ternyata dia mengikuti pria ini sejak tadi. Bahkan saat Tristan mau ke kamar mandi. Ara mengerjap.


"Tentu tidak." Ara menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa jika kamu mau." Tristan justru melebarkan pintu kamar mandi, seperti sedang mempersilakan Ara untuk masuk. Bola mata gadis ini membelalak.


"Tidak Pak. Tidak. Silakan Anda masuk. Saya pergi dulu. Setelah Anda selesai, baru saya kembali meyakinkan Anda untuk ke rumah kakek. Permisi." Ara membungkuk dan menjauh.


Tristan jadi aneh. Setelah sakit, dia makin aneh. Apa dia sedang kesurupan? Ara bergidik. Tristan tersenyum geli melihat dari balik punggung gadis itu.

__ADS_1


**


Ara sedang menyiapkan sarapan saat Tristan keluar dari kamar mandi.


"Sarapan pagi sudah siap, Pak. Bapak bisa duduk dan makan." Ara dengan ceria memberitahu.


"Ini sogokan untuk membuat ku setuju ke rumah kakek?"


"Tidak. Ini memang pekerjaan ku, Pak," bantah Ara seraya membawa makanan di atas meja makan. Tristan sudah mau duduk di kursi, tapi mendadak urung.


"Kamu sudah sembuh? Bukannya kemarin kamu sakit?" tanya Tristan cemas.


"Oh, itu ... Ya Pak. Saya kalau sakit enggak lama." Bohong Ara. Ia lupa kalau kemarin pura-pura sakit.


"Syukurlah. Walaupun begitu, seharusnya kamu enggak perlu masak dulu. Sakit kemarin jadi seperti bohong saja." Tristan menepuk puncak kepala Ara pelan lalu duduk. Ara menelan salivanya sendiri. Merasa tertangkap basah. Padahal Tristan hanya mengumpamakan saja. "Ayo duduk dan sarapan."


"Aku tidak tahu apa yang kamu dan kakek kerjakan saat kamu kesana tanpa aku. Sepertinya sekarang kamu lebih mirip cucu kandung kakek daripada aku," cibiran Tristan sangat kentara.


"Ini semua demi siapa? Demi Bapak seorang." Ara tidak mau kalah.


"Demi aku?" ledek Tristan.


"Tentu saja. Siapa lagi saya berbuat seperti ini kalau bukan demi Bapak. Bahkan memanen kentang pun saya lakukan demi membuat nama Bapak baik di depan kakek."

__ADS_1


"Memanen kentang?" tanya Tristan terkejut. Kedua alisnya bertaut.


"Ya. Bukannya tuan Haga punya kebun kentang?" Ara mengatakan dengan polos. Tristan makin mengerutkan keningnya.


"Kakek menyuruhmu memanen kentang?" tanya Tristan setengah mendesis geram.


"I-iya." Ara sadar Tristan berwajah keruh. Ia merasa pria ini marah. Merasa kalimatnya keliru.


"Kenapa aku baru dengar cerita itu?"


"Itu ... " Bola mata Ara kebingungan.


"Katakan saja. Apa kakek melarang kamu menceritakan itu padaku?" kejar Tristan tidka ingin Ara menyembunyikannya.


"Bukan. Kakek tidak pernah begitu."


"Lalu?"


"Itu karena Bapak meninggalkan saya di rumah kakek dan tidak menjemput lagi. Lalu hampir seminggu tidak ada kabar. Saya jadi tidak sempat melaporkan soal itu besoknya," ujar Ara sambil sedikit menunduk. Tristan membeku. Dia ingat lagi hari itu melupakan Ara yang ada di rumah kakek.


.......


.......

__ADS_1


.......


......................


__ADS_2