KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 23 Ke rumah Jenny


__ADS_3

"Bicara di tempat aman. Papamu akan marah jika tahu temanmu datang. Beliau lagi bad mood sejak kamu bikin masalah di pernikahan. Mama masuk ke dalam dulu. Ingat. Jangan keluar rumah hanya di depan saja."


"Iya. Aku tahu ..." ujar Jenny ingin segera mamanya pergi dan masuk ke dalam rumah.


Tidak lama, Jenny muncul dan menarik Ara untuk pergi ke sisi yang lolos dari cctv.


"Ara ..." peluk Jenny bahagia.


"Jenny ..." Mereka pun berpelukan mirip serial televisi anak. "Bagaimana kabar kamu? Berulang kali aku menelepon kamu tapi handphone mu enggak pernah aktif. Aku khawatir tahu. Apalagi aku mendengar berita pernikahan kami yang gagal itu."


"Yah ... Papa marah saat aku menolak untuk menikah."


"Jadi itu kamu? Bukan Tristan yang memutuskan untuk tidak menikah?" tanya Ara.


"Dia yang pertama memutuskan untuk tidak menikah. Lalu aku ikut menyetujuinya. Sebenarnya kita sama-sama menolak dengan tiba-tiba," cerita Jenny.


"Karena ..."


"Karena kita sebenarnya enggak pernah punya rasa cinta. Apalagi ... Tristan marah karena aku bukan orang yang sama dengan saat dia datang di cafe itu. Saat kalian kencan waktu itu ..."

__ADS_1


"Dia mengatakan semuanya tentang aku yang berpura-pura menjadi dirimu?" tanya Ara berdebar karena takut.


"Tidak. Dia lumayan mengerti situasi ku. Dia hanya mengatakan tidak ingin menikah."


"Hhh ... Syukurlah. Tunggu. Lalu? Lalu bagaimana dia bisa meloloskan mu begitu saja? Bukannya kamu sudah membohonginya degan menyuruhku menggantikan mu di kencan itu?" Ara yang hendak bernapas lega tidak jadi.


"Ya. Dia marah, tapi ... Sepertinya dia lebih marah padamu yang sudah mempermainkannya," ungkap Jenny takut-takut.


"Aku? Benarkah?" pekik Ara tertahan. Bola matanya melebar karena terkejut dan panik. Kepala Jenny mengangguk dengan rasa bersalah. " Jadi sebab itu, dia mengamati ku? Dia sudah tahu itu aku? Kamu memberitahukannya soal aku?" tanya Ara makin panik.


"Tidak. Aku selalu setia menjaga rahasia kita." Jenny menyakinkan Ara bahwa dirinya masih melindunginya. Namun Jenny melupakan soal kemungkinan Tristan menyimpan nomor kontak telepon Ara.


"K-kenapa bisa? Bukannya waktu itu kamu ber-make up bold. Itu sangat jauh dari kamu biasanya."


"Meskipun begitu, itu tetap wajahku. Dia menyadari itu. Bahkan dia masih mencoba menghubungiku." Ara mengatakan dengan wajah meringis kesal dan panik.


"Apa?" Jenny terkejut.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ara meminta pendapat.

__ADS_1


"Aku ... Aku tidak tahu. Ayo. Sebaiknya kamu masuk," ajak Jenny.


"Tidak. Aku tidak mau. Aku takut."


"Karena kamu adalah salah satu penyebab aku gagal menikah dengan Tristan?" tebak Jenny sedang menggoda temannya. Ara meringis. "Hihihi ... Ayo. Mumpung papa tidak melihat kamu." Jenny menyeret tangan Ara dan mengajaknya masuk ke dalam rumah lewat jalan belakang. Tentu dengan bantuan penjaga.


**


Jenny masih belum tahu soal kedatangan keluarga Haga. Mereka tidak tahu bahwa di rumah ini ada Tristan. Jenny menyeret Ara berjalan menuju ke kamarnya. Sementara di ruang tamu, mama Jenny terkejut dengan kemunculan Tristan dan kakeknya.


"Oh, Tuan Haga. Selamat datang," sapa mama Jenny menundukkan kepala menghormati kakek tua itu. Tristan ikut menundukkan kepala dengan sopan kepada manatan calon mertuanya ini. Sementara itu, Anggara, papa Jenny tersenyum melihat istrinya muncul. "Maaf, aku tidak tahu kalau Anda datang berkunjung." Beliau yang baru saja dari butik bersama putrinya masih membawa tas belanjaan.


.......


.......


.......


...B E R S A M B U N G...

__ADS_1


__ADS_2