KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 63


__ADS_3

"Selamat ulang tahun cucuku!" Suara kakek Haga terdengar bersemangat dengan gulungan kertas di tangannya. "Ini kado dari kakekmu." Masih dalam kebingungan, Tristan menerima gulungan kertas. Kakek memeluknya erat. Ternyata beberapa orang penting dalam perusahaan Haga berkumpul. "Bagaimana pesta ini? Kamu suka?" tanya tuan Haga bangga.


Bola mata Tristan beredar.


"Kakek ingin mengadakan pesta besar untuk cucuku yang sedang berbahagia ini, tapi kekasihmu ini bilang untuk membuat pesta yang sederhana saja. Bukan begitu, Ara?" tanya Kakek pada Ara di samping Tristan. Gadis ini mengangguk dengan takut-takut.


Tristan hendak bertanya pada Ara, tapi tamu undangan sudah mendekat dan mengajaknya ngobrol. Ara menjauh. Ada Jarvis ternyata. Ara mendekat.


"Halo Jarvis," sapa Ara.


"Ya. Aku tidak mengira kalau kamu di ajak diskusi soal ulang tahun ini oleh tuan Haga. Padahal selama ini tidak ada perayaan ulang tahun untuk Tuan Tristan. Dia lebih suka menyendiri saat hari kelahirannya." Jarvis bicara sambil menatap ke arah pria yang sedang tersenyum menerima ucapan selamat dari banyak orang.


"Benarkah?" Ara merasa telah melakukan kesalahan. "Tapi ini bukan ideku. Ini ide kakek. Aku hanya menyarankan soal perayaan yang sederhana ini."


"Bukankah banyak EO yang bisa menyiapkan semuanya dengan beres? Kenapa harus kamu?" tanya Jarvis. Kemungkinan dia cemburu. Di mata Jarvis, Ara adalah seorang karyawan. Sama seperti dirinya. Ia yang sudah lama mendampingi Tristan tidak pernah di ajak diskusi apapun soal ulang tahun.


"Soal itu, jangan tanya aku. Aku tidak paham. Atau mungkin ... karena aku adalah kekasihnya?" tanya Ara sengaja menggoda Jarvis.

__ADS_1


"Jangan bangga. Itu hanya sementara," sahut Jarvis. Ara tertawa pelan. Lalu menatap lurus ke depan. Ke arah pria itu.


"Sepertinya aku enggak bisa kalau di suruh enggak bangga. Menjadi orang yang bisa dekat dengan Tristan kan memang hebat." Melihat pria itu dari tempatnya berdiri, terasa sangat jauh. Lalu Ara menoleh pada Jarvis di sebelahnya.


"Walau dalam hati sekalipun aku enggak bisa kalau dilarang untuk bangga. Tristan terlalu keren untuk di anggap sebagai orang biasa. Setelah semua usai, aku pasti akan terus bangga bahwa aku pernah ada di sampingnya. Maaf, Jarvis aku enggak bisa mengabulkan permintaanmu." Ara menepuk pundak Jarvis.


"Ehem!" deheman keras terdengar memecah perbincangan mereka. Tristan sudah bisa lepas dari para tamu. Jarvis segera menggeser tubuhnya dari Ara. "Kita perlu bicara." Setelah mengatakan itu, Tristan berjalan menjauh. Ara segera mengikutinya dari belakang.


Langkah mereka menjauh dari keramaian.


"Kamu bersengkongkol dengan kakek?" tanya Tristan setelah mereka tiba di ujung lorong rumah. Dimana sangat jauh dari acara pesta yang sedang berlangsung. Ara menundukkan kepala sedikit.


"HH ... Jadi kamu juga ingin merayakan ulang tahunku sampai harus bersengkongkol dengan kakek?"


"B-bukan seperti itu. Tuan Haga sendiri yang tiba-tiba ingin merayakan ulang tahun Bapak. Beliau bilang sudah lama sejak Anda kecil, tidak ada perayaan ulang tahun lagi."


"Hanya itu?"

__ADS_1


"Ya ... Beliau tidak bicara apa-apa selain itu. Karena menurut saya, mungkin saja Anda akan bahagia saat kakek yang menyayangi melakukannya."


"Kamu tahu kenapa aku tidak lagi merayakan ulang tahun seperti ini?" tanya Tristan dengan sorot matanya yang berubah sendu. Ara menggelengkan kepalanya. "Hari itu adalah hari dimana orangtuaku meninggal."


Mata Ara melebar. Menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. Ia terkesiap.


"M-maafkan saya Pak. Saya tidak tahu soal itu. Maafkan saya ..." Ara segara membungkuk merasa bersalah.


"Itu bukan salahmu, Ara."


"Tapi tetap saja saya bersalah. Maafkan saya, Pak. Maafkan Saya ...." Ara berulang kali meminta maaf hingga membuat Tristan kesal.


"Sudah cukup, Ara!" sengit Tristan. Ara terdiam. Tubuhnya langsung membeku mendengar teriakan Tristan. Ini pertama kalinya ia di bentak. Meskipun biasanya ia kuat dengan semua ancaman Tristan, kini ia lemah. Ara merasa sudah membuat pria ini masuk ke dalam hal yang paling ingin di hindari. Karena itu mengingatkannya pada orang tuanya yang sudah tiada.


.......


.......

__ADS_1


.......


......................


__ADS_2