
Ara kembali dari toilet setelah merasa akan mual saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya.
"Sudah kamu keluarkan semua makanan tadi?" tanya Tristan tepat sasaran.
"Tidak semua, Pak. Hanya sebagian," jawab Ara jujur. Lalu Ara duduk di tempat semula. Ia siap mendengarkan semua yang akan di katakan pria ini.
"Kekasih sementara itu pekerjaan saat kakek datang ke kantor. Namun saat tidak ada, kamu tetap bersikap biasa sebagai karyawan magang. Jangan bertingkah macam-macam karena aku mempekerjakanmu sebagai kekasih. Semuanya harus menjadi rahasia termasuk pada teman kerjamu di sini. Juga pada putri keluarga Andromeda itu," tukas Tristan. Ara menelan ludah. Bukannya ia sudah bicara pada Jenny? "Mengerti?" tanya Tristan lagi karena Ara yang sibuk dengan pikirannya sendiri tidak menjawab.
Ara mengangguk mengerti. Rahasia? Sulit sekali harus merahasiakan semuanya dari biang gosip Rose.
"Tidak ada kompensasi yang aku berikan karena ini adalah timbal balik dari perbuatanmu sendiri, bukan pekerjaan sampingan yang menghasilkan uang. Ingat itu," ancam Tristan.
Sesuai dengan apa yang ia pikirkan, pekerjaan ini tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali janji tidak akan di keluarkan dari perusahaan.
***
Mobil tiba di pasar tradisional paling besar di kota ini. Mobil hanya bisa sampai di depan pasar. Karena kegiatan pasar ini justru ramai saat malam hari, mereka tidak bisa memaksakan mobil masuk ke dalam.
"Sampai di sini saja, Pak. Mobil tidak bisa masuk ke dalam. Pasar sangat ramai," kata Ara saat Tristan hanya diam saja melihat ke arah pasar yang ramai tanpa menyuruh dirinya turun.
"Kamu memang harus berjalan sendiri. Aku tidak ingin mengantarmu sampai sana," kata Tristan seakan pemikiran Ara keliru kalau beranggapan bahwa ia akan mau mengantar dia sampai di depan rumah. "Aku bukan sopir kamu," imbuh pria ini.
Ara menipiskan bibir. Ia juga tahu soal itu, tapi siapa yang punya niat untuk mengantarkannya tadi? Bukannya dia sendiri?
__ADS_1
"Hei!" panggil Tristan setelah Ara keluar dari mobil. Badan Ara berbalik. "Pastikan handphone mu aktif saat aku membutuhkanmu. Jangan menolak panggilanku karena ingin mangkir dari tanggung jawab ini," kata Tristan mengingatkan.
"Saya tahu Pak." Ara mengangguk paham.
"Jarvis akan menyerahkan motormu, jika sudah selesai," kata Tristan mengakhiri percakapan mereka malam ini. Lalu meninggalkan deru mobil yang halus untuk menjauh dari area pasar.
"Hh ... memang tidak ada uang yang bisa di dapat dengan instan tanpa melalui kesulitan lebih dulu. Aku memang bisa melunasi tagihan dengan cepat, tapi itu juga membuat aku harus terlibat dengan pria itu. Hidupku jadi enggak sebebas biasanya. Hh ..."
................
Keesokan harinya Ara kebingungan berangkat kerja. Ia lupa bahwa motornya ada pada Jarvis. Jadi ia tidak bangun lebih awal untuk naik angkot. Meskipun ide naik ojek muncul, ia tetap kesal. Decakan terus keluar dari bibirnya. Terpaksa ia harus keluar dari gang dulu untuk ke jalan besar. Karena tukang ojek akan kesusahan masuk ke dalam pasar jika ia memaksa tetap di dalam rumah.
"Ara," panggil seseorang. Gadis ini menoleh. Ara mendelik melihat wajah tidak asing di depannya. Itu Teo. Pria yang sempat membuatnya mabuk kepayang. Pria yang tidak sengaja bertemu dengannya di festival band waktu lulus sekolah dulu. Ternyata sekarang dia adalah kekasih Faby sepupunya yang kaya. Bahkan satu kampus dengannya.
"Mana motor kamu? Kok jalan?" Teo melihat ke sekitar gadis ini untuk mencari motor matic Ara.
"Emm .. di bengkel," jawab Ara segera mencari alasan.
"Rusak?" tanya Teo perhatian seperti biasa.
"Servis," jawab Ara singkat. Teo mengangguk paham.
"Mau berangkat magang?" tanya Teo lagi. Ara mengangguk. "Aku antar."
__ADS_1
"Enggak. Kamu enggak antar Faby?" tanya Ara panik. Dia tidak ingin pria ini berada di sekitarnya.
"Sudah. Dia pagi tadi berangkat magang. Jam 7. Ayo. Naik motorku," ajak Teo.
"Enggak. Aku naik angkot," tolak Ara lagi. Kali ini harus gigih. Jika tidak, ia harus bisa dengan pintar menyembunyikan debaran di dadanya saat bersama Teo.
"Enggak apa-apa. Sekalian aku juga jalan ke arah yang sama. Bukannya kamu ke perusahan besar itu?" tanya Teo masih belum paham jika ia tidak enak sama sepupunya.
"Faby akan marah jika kamu mengantarku," ujar Ara.
"Tidak. Dia akan mengerti."
"Aku enggak mau," kata Ara terus terang.
"Enggak mau? Kamu tidak lagi mau berteman denganku?" tanya Teo seperti heran. Cih! Ara berdecih di dalam hati.
"Aku sudah pesan ojek. Aku berangkat, Teo." Ara segera pamit dan pergi.
................
.......
.......
__ADS_1
...B E R S A M B U N G...