
Ara mengambil piring Tristan dan mengisi dengan makanan. "Kamu juga makanlah," kata Ara mengangguk. Ia melirik ke arah tuan Haga. Orang tua itu akan melahap makanan yang ia masak untuk pertama kalinya. Dada Ara berdebar melihat itu.
"Seperti makanan biasa." Begitu tuan Haga berkomentar dengan wajah enggan. Tristan menipiskan bibir.
"Kau bisa menghabiskan semuanya Antoni. Kakek sepertinya tidak akan makan banyak," ujar Tristan tiba-tiba. Ia tahu pria ini sangat lahap saat makan. Antoni mengerjapkan mata karena terkejut. Dia melirik ke arah tuannya. Tuan Haga tengah memelototinya. "Tidak baik membiarkan makanan tersisa kakek. Jadi biarkan Antoni menghabiskan semuanya." Antoni tidak paham apa yang di maksud Tristan, tapi kemudian dia mengangguk saja.
"Kamu ini bawahanku atau Tristan? Aku tidak menyuruhmu untuk menghabiskan makanan, jadi jangan macam-macam." Rupanya beliau hanya berusaha tampak enggan di depan Ara, karena setelah itu beliau mengisi piringnya dengan banyak makanan. Sepertinya beliau takut Antoni yang saat ini lapar benar-benar akan menghabiskannya. Ara sampai melebarkan mata terkejut.
"Jangan berpura-pura tidak menyukai makanan jika memang masih ingin makan," sindir Tristan. Bibir kakek menipis geram mendengar sindiran cucunya. Ara tersenyum simpul. Tuan Haga bukannya tidak menyukai makanannya, tapi beliau harus bermuka masam untuk tidak menunjukkan bahwa ia suka masakan yang di buat Ara.
**
"Terima kasih atas kedatanganya, Kakek." Ara membungkuk mengantar kepulangan tuan Haga dengan Tristan di sampingnya. Setelah beliau benar-benar sudah pergi, Ara segera masuk ke dalam apartemen untuk membereskan makan siang tadi.
"Itu tadi apa Ara?" tegur Tristan dengan wajah keruh.
"Maksudnya?" tanya Ara tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menyuruhmu memasak. Kenapa kamu berusaha melakukannya?" Ara mengerjapkan mata terkejut. Tidak menduga Tristan bertanya dengan ekspresi marah.
"Saya ... hanya mencoba terlihat tidak canggung. Karena mendadak, saya tidak bisa bersandiwara seperti biasanya karena tiba-tiba saja keberanian saya hilang." Ara menjelaskan seadanya. Karena tadi ia memang merasa tidak bisa bersandiwara.
"Kamu bisa mengatakannya padaku. Jadi serahkan saja semuanya. Aku akan mengambil alih. Yang tadi bisa saja makin membuat sandiwara ini sulit jika tidak berhasil." Tristan seperti tidak senang.
"Tapi bukannya tadi berhasil, Pak?"
"Itu hanya faktor keberuntungan saja," kata Tristan tidak ingin debat berlanjut.
"Maaf jika itu tidak berkenan. Saya berusaha menyesuaikan diri sebagai kekasih yang bisa menyambut kedatangan kakek Anda. Maaf." Ara tidak menduga pria ini sebenarnya tidak setuju. Kepalanya tertunduk seraya membersihkan piring bekas makan siang tadi.
"Saya harus membersihkannya sebelum kembali ke kantor." Ara terus mencoba membersihkan piring dan perkakas yang lain.
"Lepaskan kataku, Ara!" seru Tristan sambil mencekal tangannya. "Lihatlah kaki mu!" Mendengar seruan Tristan, gadis ini menunduk. Luka di atas tumitnya masih terbuka dan kini malah berdarah.
"Kakiku," ujar Ara baru menyadari lagi rasa sakit kakinya.
__ADS_1
"Basuh tanganmu dan jangan membantah." Karena Tristan masih mencekal tangannya, ia tidak bisa membantah.
"Tolong lepaskan dulu tangan saya," pinta Ara. Tristan melepaskannya dan berjalan menjauh. Ara membasuh tangannya yang terkena busa sabun dan menjauh dari bak cuci. Tak lama setelah itu Tristan muncul membawa kotak obat. Lalu duduk di sebelahnya dan mengeluarkan obat merah.
"Aku mengontrakmu untuk menjadi kekasihku, bukan menyiksamu," kata Tristan seraya mendekatkan tangannya untuk mengobati luka Ara.
"B-biar saya saja, Pak." Ara terkejut dan mundur karena ingin menolak.
"Diam saja dan jangan banyak bergerak," gertak Tristan dengan sorot mata tajam. Ara diam pada akhirnya. Ia membiarkan pria ini mengobati lukanya. Setelah plester di pasang, Tristan menegakkan tubuhnya lagi. "Selesai. Tidak perlu membersihkan sisa makan siang tadi. Aku akan memanggil orang dari perusahaan kebersihan untuk membersihkannya."
"Lebih baik saya sendiri yang membersihkannya, Pak. Bukannya apartemen ini jarang di datangi banyak orang? Itu mungkin akan membuat Anda tidak nyaman." Ara merasa tidak harus membuat pria ini kesusahan.
"Apartemen ini sudah di datangi banyak orang setelah aku memintamu tinggal. Jadi jangan khawatirkan itu." Ara memilih diam lagi.
.......
.......
__ADS_1
.......
......................