
Ponsel Tristan berdering. Bola matanya melirik ke arah layar. Seketika bola mata itu melebar. Pasti seorang yang mengejutkan yang menelepon.
"Siapa?" tanya Ara.
"Kakek," kata Tristan membuat bola mata Ara melebar. Gadis itu pun segera bangkit dari tempat duduknya.
"Datang? Kakek D-datang ke rumah ini?" tanya Ara langsung menjadi gugup. Tristan yang tadinya melihat ke layar ponsel, kini mendongak.
"Ya. Jarvis mengatakan keberadaan ku pada Kakek."
"Kenapa Jarvis tidak tutup mulut? Kalau begini tuan Haga akan sangat marah besar, Pak. Seharusnya Jarvis tidak memberitahu kakek soal Bapak yang datang ke sini." Ara cemas.
"Aku yang menyuruhnya mengatakan dimana aku sekarang, Ara."
"B-bapak? Bapak sendiri?" tanya Ara tidak percaya.
"Ya."
***
"Kurang ajar bocah itu. Sudah aku katakan untuk fokus pada perusahaan," ujar tuan Haga geram.
"Tuan Tristan sudah memenuhi keinginan Anda untuk menang dalam pertempuran pemilik saham tiga hari yang lalu, Tuan." Entah kenapa Antoni ingin mengatakan itu meski tidak diminta.
"Apa yang kau katakan, Antoni?" Tuan Haga yang jengkel di kursi belakang berhenti menggeram dan menoleh pada Antoni yang menyetir.
"Saya hanya memberi informasi. Mungkin saja Tuan lupa soal itu." Antoni menjawab dengan hati hati.
__ADS_1
"Dia memang telah melakukan dengan baik saat rapat pemegang saham di laksanakan. Dia memang kompeten soal pekerjaan, tapi aku tidak setuju soal keputusannya kabur setelah melakukan rapat. Itu akan mengurangi performa dia."
"Mungkin Tuan Tristan tidak ingin ketinggalan waktu untuk bertemu dengan nona Ara."
"Bocah itu. Aku beri pilihan pendamping yang bisa menunjang perusahaan, tapi dia memilih gadis itu," keluh tuan Haga.
"Kita jadi mengunjungi rumah non Ara?" tanya Antoni.
"Ya. Aku ingin tahu apa yang di lakukan bocah itu di sana." Tuan Haga bertekad ke kampung halaman Ara.
**
Antoni sudah mendapatkan titik alamat kampung halaman Ara. Hingga ia tidak kesulitan menemukannya.
"Ini, rumah gadis itu?" tanya tuan Haga sambil melihat ke sekitar.
"Iya, Tuan." Halaman depan rumah Ara masih berupa tanah dengan kerikil. Ada pohon rindang yang berdiri sendiri di sisi kanan. Antoni membelokkan mobilnya, masuk ke dalam halaman.
Antoni yang sudah turun dari mobil hendak mengetuk pintu saat gagang pintu bergerak. Antoni mundur saat pintu itu mulai terbuka lebar. Antoni tersenyum sopan.
"Siapa ya? Nyari siapa?" tanya ibu sambil menoleh ke kanan dan kiri. Juga mulai memperhatikan tuan Haga yang sudah berada di luar mobil.
"Maaf ibu, Ara-nya ada?"
"Ara? Teman kerja Ara atau gimana?" tanya ibu masih sesekali melihat ke arah tuan Haga dengan tatapan curiga.
"Ya. Teman kerja," jawab Antoni santun.
__ADS_1
"Ada, tapi anaknya sedang di kebun."
"Di kebun?" Antoni heran. Karena menurut Jarvis, Tristan sedang berada di sini. Namun kenapa gadis itu sekarang sedang memanen kentang, bukan menemani Tristan?
"Iya, memanen kentang kemarin belum selesai," jelas ibu.
Antoni mengangguk masih dengan keheranan di wajahnya. Kepalanya melongok ke dalam. Ingin tahu apa ada tuan Tristan di sana. Tuan Haga yang menunggu menggerutu sendiri. Ibu paham Antoni sedang mencari seseorang.
"Mencari siapa?" tegur ibu.
"Oh, tidak."
"Masuk saja dulu, sebentar lagi juga datang Ara-nya," lanjut ibu.
"Iya," sahut Antoni.
"Terus? Kakek itu siapa? Masa teman kerja anak saya juga." Ibu menunjuk tuan Haga di belakang.
"Bukan. Tentu bukan." Antoni tersenyum geli. "Di adalah atasan saya."
"Atasan?" tanya ibu lambat. Beliau terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Sejenak menoleh ke tanah, sejenak melihat ke arah Tuan Haga. Kemudian wajah beliau terlihat serius. "Jadi kakek itu boss-nya Ara juga?"
"Benar."
"Jadi dia orangtua Tristan?" Mendengar ini Antoni bahkan tuan Haga menoleh ke arah ibu dengan cepat.
.......
__ADS_1
.......
.......