
Tristan?
Kegusaran kakek masih belum di cerna oleh Ara karena terkejut, kini muncul pria ini. Ara otomatis gugup. Dia langsung merapikan rambut dan menunduk.
Tristan masuk bersama Jarvis di belakangnya. Antoni mengangguk sopan.
"Apa yang di lakukan kakek di ruanganku?" tanya Tristan lagi. Bola matanya melirik ke arah Ara yang menunduk. Namun ia tidak segera menyapanya karena merasa perlu memberi waktu dulu untuk gadis itu terbiasa. "Apa kakek berbicara di luar batas tanpa sepengetahuanku? Kakek menyakiti Ara?"
"Tidak!" sahut tuan Haga. Ara hampir saja ikut menjawab karena takut Tristan salah paham. Namun dia akhirnya diam karena suaranya tidak keluar.
Tristan menatap kakeknya.
"Kenapa kamu mencurigai Kakekmu seperti itu? Kakek tidak menyakiti Ara. Tanyakan saja padanya kalau tidak percaya. Oh, ya. Ada juga Antoni yang jadi saksi bahwa kakek ini tidak menyakiti Ara," gerutu tuan Haga seraya menunjuk Antoni.
Tristan menoleh pada Antoni. Pria ini mengangguk membenarkan pernyataan tuan Haga.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bicara, Antoni. Kamu ingin membuatku terlihat buruk di depan Tristan?" tanya tuan Haga. Beliau tidak tahu Antoni mengangguk. Karena Antoni berdiri di belakangnya. Jadi beliau tidak bisa mendengar suara dari mulut bawahannya itu
"Maaf, Tuan.” Antoni menundukkan kepala pada Tuan Haga. “Benar Tuan Tristan. Beliau tidak menyakiti nona Ara. Mereka berdua hanya berbincang," ujar Antoni memperdengarkan suaranya.
"Berbincang? Kakekku tidak akan hanya berbincang, Antoni. Apa yang di bicarakan pasti ada maksudnya," kata Tristan. Kakek langsung melihat pada mereka berdua.
"Ya ... Tuan Haga sedang menjawab sapaan nona Ara yang menanyakan keadaan beliau. Dan berbincang dengan benar-benar normal, Tuan. Bahkan terdengar hangat." Antoni mengatakan semuanya dengan wajah hangat pada kakek Haga yang memperhatikannya.
Sementara itu Ara hanya melihat dengan tetap menghindari tatapan Tristan. Jika biasanya dia bisa tenang, kali ini menatap Tristan saja takut.
Dia takut rasa rindunya yang membuncah akan ketahuan pria itu. Padahal suasana belum benar-benar tenang.
"Oh, ya?" tanya Tristan menipiskan bibir seraya mengangguk.
__ADS_1
"Benar. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Tuan," sahut Antoni.
"Ada-ada saja. Memangnya apa yang perlu di khawatirkan? Kalian ini sangat tidak sopan pada orang tua," gerutu tuan Haga seraya melipat tangannya. “Jangan bersikap seolah aku bukan orang baik. Aku ini sebenarnya baik. Kalian terlalu berlebihan.”
“Ya. Kakek memang orang baik,” kata Tristan bertujuan mengejek. Kening Tian Haga mengerut. Namun akhirnya beliau mengabaikan Tristan. “Ada yang ingin di bicarakan padaku, Kek? Aku ada tamu yang lain juga. Jadi kakek harus cepat bicara dan pergi,” kata Tristan seraya melirik Ara sebentar.
Kakek menghela napas sambil melihat Ara di depannya juga.
“Baiklah. Kakek akan mengalah. Selesaikan di sini dulu, lalu makan siang dengan Kakek. Kita bisa bicara dengan tenang nantinya,” kata tuan Haga seraya beranjak pergi.
Ara yang tahu kakek mau pergi karena dirinya, tidak enak hati.
“Kakek bisa tinggal di sini. Saya hanya ingin mengambil nilai magang saya lalu saya pulang,” cegah Ara. Kakek berbalik melihat Ara. Tristan dan kedua orang lainnya melihat ke Ara lalu ke kakek.
__ADS_1
“Jangan mencegah aku pergi. Aku ini masih ada urusan. Selesaikan saja urusanmu,” tukas beliau dan berjalan menuju pintu di ikuti Antoni di belakangnya. Tristan memberi kode pada Jarvis untuk ikut keluar. Jarvis mengangguk. Mereka semua keluar meninggalkan Ara hanya berdua dengan Tristan.
____