KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 92


__ADS_3

Tuan Haga menunjukkan wajah kesal di tempat duduknya. Beliau tidak bisa pulang karena paksaan bapak Ara. Namun beliau masih mencoba bersikap sopan, apalagi saat bapak mengajak makan.


Karena kursinya terbatas, bapak menggelar karpet di atas lantai di bantu oleh Tristan.


Tuan Haga dan Antoni memperhatikan. Sebenarnya Antoni juga ingin membantu, tapi dia takut tuan Haga tidak setuju. Jadi dia hanya memperhatikan bapak dengan seksama.


Lalu beliau menyuruh ibu untuk mengeluarkan semua makanan yang sudah di masak barusan. Makanan yang masih hangat itu di bawa keluar. Di tata sedemikian rupa di atas karpet.


"Mungkin agak canggung duduk di sana, tapi saya harap tidak mengurangi kesopanan saya untuk menyambut Bapak di rumah ini. Ayo, Pak. Kita makan bersama di sana." Bapak langsung mengajak tamunya menikmati makanan yang sudah di masak mendadak.


"Ayo, Kek." Tristan mengajak kakeknya. Tuan Haga enggan awalnya, tapi ia ternyata berusaha bersikap sopan dengan tetap mengikuti ajakan tuan rumah. Antoni tidak mendekat karena tidak ada perintah dari beliau. "Duduklah Antoni. Bergabung dengan kita di bawah," ajak Tristan.


"Saya?" Antoni tidak yakin tuan Haga setuju. Namun tampaknya beliau tidak peduli Antoni ikut atau tidak. Tristan mengangguk memberi persetujuan Antoni untuk ikut makan bersama. Ia senang akhirnya ada ajakan untuknya makan. Karena ia juga tergiur masakan kampung yang masih hangat itu.


Tuan Haga menoleh dengan cepat ke arah Antoni. Beliau merasa Dejavu. Saat itu Ara memasak untuknya di apartemen Tristan. Dimana ia tidak mengajak Antoni untuk makan, tapi Tristan yang berinisiatif melakukannya.

__ADS_1


Ia yakin masakan di depannya enak. Karena waktu itu ia sudah merasakan masakan Ara yang cocok di lidahnya. Sekarang pun beliau yakin masakan di depan adalah seleranya. Aroma harum bumbu lele di goreng masih terasa di Indra penciuman mereka.


"Ayo makan yang banyak, Pak. Masakan ini masakan terenak karena istri saya yang masak," ujar bapak membanggakan istrinya.


"Iya. Masakan ibu memang enak." Tristan setuju. Antoni mengangguk ikutan memberi vote setuju pada ibu. Sementara Tuan Haga hanya diam. Beliau tidak mengatakan apapun karena mulutnya penuh. Ara tersenyum ke arah Tristan. Itu berarti beliau menyukainya.


Tawa dan perbincangan terus terdengar di sela makan-makan ini. Tuan Haga yang awalnya membeku, mulai mencair dan mengikuti lelucon bapak Ara. Suasana lumayan menghangat.


***


"Kenapa kita meninggalkan mereka? Bukannya masalah belum selesai, Pak?" tanya Ara yang heran ia sudah menjauh dari rumah. Tristan menggiringnya keluar dari sana. Mengajaknya jalan-jalan hingga sampai di depan area persawahan.


"Tidak ada masalah apa-apa, Ara."


"Kakek itu marah karena Bapak ini meninggalkan pekerjaan dan meluncur ke kampung ini untuk menemui saya."

__ADS_1


"Itu bukan masalah," jawab Tristan santai.


"Bapak lupa bagaimana kakek tadi marah? Beliau sangat marah, Pak." Ara tidak percaya Tristan meresponnya dengan santai.


"Sudah aku bilang tidak apa-apa. Tenanglah." Tristan mengusap lengan gadis ini dengan lembut untuk menenangkan. "Aku ingin mengatakan sesuatu," kata Tristan menatap gadis ini serius. "Aku serius ingin menikahimu."


Ini sebuah lamaran! Daun telinga Ara memerah mendengarnya. Matanya mengerjap panik.


.......


.......


.......


......................

__ADS_1


__ADS_2