
"Ini sebuah lamaran?" tanya Ara sambil menaikkan dagunya.
"Bukan. Ini terlalu sederhana. Ini hanya sebuah kode untukmu bahwa aku akan benar-benar menikahimu tanpa restu kakek sekalipun," tekad Tristan.
"Ehemm!!!" dehaman keras terdengar dari belakang mereka. Rupanya ... Kakek dan bapak Ara menyusul ikut jalan-jalan juga. Mereka berdiri tepat di belakang mereka. Ara membelalakkan mata terkejut.
"Kakek ada di sini?" tanya Tristan datar.
"Kenapa? Kakek bisa melakukannya," sahut kakek sombong. "Jadi, kamu akan tetap menikahinya tanpa restu dari kakekmu ini?" tanya tuan Haga serius. Ara menunduk mendengar itu. Tristan meraih pundak Ara dan mendekatkannya pada tubuhnya.
"Tentu, jika kakek tetap memaksa menolak menerima Ara sebagai istriku," ujar Tristan jauh lebih tegas. Bapak yang tidak paham sedikit kebingungan.
"Tunggu. Sebenarnya ada apa ini?"Sejak awal beliau tidak paham soal hubungan Ara dan Tristan. Juga maksud kedatangan tuan Haga yang ingin menjemput Tristan dan menolak pernikahan.
Kakek menoleh pada bapak, lalu ke cucunya. Tristan melirik ke arah Ara yang menipiskan bibir. Di takut Ara gusar karena melihat bapaknya kebingungan.
__ADS_1
"Jelaskan pada bapak ada apa ini? Menikah? Tidak merestui? Sebenarnya siapa yang mau menikah?" tanya beliau masih dengan polos. Ibu sepertinya tidak cerita apa-apa.
"Begini, Pak ..."
"Kamu saja yang cerita. Ayo, cerita. Ada apa dengan perdebatan barusan?" Bapak memotong kalimat Ara dan menyoroti putrinya. Ara menelan ludah.
"Itu pak ... Saya dan putri bapak ..."
"Mereka adalah sepasang kekasih," kata kakek menyerobot kalimat Tristan. Bapak menoleh ke tuan Haga dan melebarkan mata. Lalu menoleh ke putrinya juga melebarkan mata.
"Benar, Pak. Saya berniat menikahi putri Bapak." Tristan mulai meneruskan kalimatnya yang terpotong tadi. Ara tidak membuka mulut. Rupanya ada Antoni yang berjalan agak jauh di belakang mereka. Pria itu menghentikan langkahnya saat melihat dua orang tua tadi menemukan Ara dan Tristan di pinggiran sawah.
"Soal itu tidak membuat Ara menjadi perempuan biasa saja di mata saya. Dia tetap spesial," kata Tristan membuat Ara malu. Bukan terharu karena kata-katanya, tapi karena terdengar menggombal. Bahkan itu di depan bapak.
Tuan Haga menipiskan bibir.
__ADS_1
"Jadi Anda sebagai keluarganya tidak setuju, begitu?" tanya bapak ke tuan Haga. Kakek tidak menjawab. "Ara memang anak orang miskin, tapi jika di tolak seperti itu ... saya tidak setuju. Memangnya apa kurangnya anak saya itu, Pak?" tanya bapak malah ingin berdebat dengan kakek.
Ara mendelik. Ia segera mendekat ke bapak.
"Pak, jangan membuat masalah," bisik Ara memberanikan diri. Tristan mengerjap takjub dengan keberanian bapak Ara.
"Biarkan saja. Toh kamu itu memang tidak punya kekurangan selain tidak kaya," jelas bapak membuat Ara gemas. Tristan menoleh pada kakek. Dia ingin beliau menjawab pertanyaan bapak Ara. Tristan menantang kakek terang-terangan.
Aduh gawat. Kenapa jadi begini sih? Aku pikir kepulangan Tristan akan meredam ketegangan tuan Haga, tapi ini justru membuat beliau masih harus berurusan dengan bapak.
"Jangan dengarkan kalimat bapak saya, Tuan. Beliau hanya membanggakan anaknya sendiri tanpa bermaksud apa-apa. Siapa lagi memang yang bisa membanggakan saya selain orangtua saya sendiri. Maafkan bapak saya, Tuan." Ara membungkuk.
.......
.......
__ADS_1
.......
...****************...