KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 41 Fasilitas perusahaan


__ADS_3

Ibu Ara di arahkan ke alamat baru, yaitu alamat apartemen Tristan. Ara terpaksa menjemput beliau di terminal karena takut ibu tidak bisa menemukan apartemen milik Tristan. Apalagi ternyata beliau datang bukan dengan bapak. Hanya dengan saudara saja.


Karena Jarvis harus mengawasi orang-orang tuan Haga, terpaksa Tristan sendiri yang menyetir ke sana.


Ara melambaikan tangan pada ibu yang membawa beberapa kardus. Ia lupa tidak memberitahu ibu untuk tidak membawakan apa-apa untuknya. Karena ia sedang berada di rumah Tristan. Pelukan pelepas rindu terjadi di area terminal. Awalnya ibu hanya fokus pada putrinya saja, tapi kemudian beliau teralihkan pada Tristan yang keluar dari mobil dan mengangguk memberi salam pada ibu.


"Dia siapa?" tanya ibu dengan wajah penuh keheranan.


"Emm ... " Ara kebingungan. Ia tidak punya rencana apapun soal menyebut Tristan siapa di sini.


"Saya Tristan. Teman kerja Ara." Tristan mengulurkan tangan. Ara melirik ke arah pria itu. Dia hanya memperhatikan saat Tristan mengambil inisiatif soal siapa dirinya. Ibu menerima uluran tangan pria tinggi dan tampan ini dengan senyum ramah. Kemudian Tristan membimbing ibu masuk ke dalam mobil. Ara merasa aneh karena Tristan bersikap layaknya teman dekat.


Awalnya beliau ragu karena mobil yang akan mereka naiki terlihat mewah, tapi Ara meyakinkan bahwa memang mereka akan masuk ke dalam mobil itu. Dengan lambat, ibu masuk ke dalam mobil lalu di ikuti saudaranya.


Sepanjang perjalanan ibu dan saudara hanya diam dengan kikuk karena merasa tidak terbiasa dengan mobil mewah. Apalagi saat mereka di bawa ke apartemen. Beliau terheran-heran dengan tempat yang tidak biasa ini.


"Ini dimana, nduk?" tanya ibu sambil dengan takut-takut berjalan masuk ke gedung.


"Ya. Ini tempat baru ibu."


"Kok kamu tinggal di sini? Bukannya di dekat pasar itu?"


"Iya. Ini tempatnya teman Ara."


"Trus rumah itu bagaimana? Bukannya kamu sudah bayar?"


"Emmm ... "


"Ini fasilitas kantor tempat Ara magang ibu. Ibu bisa santai tanpa ragu di sini."


"Fasilitas? Emm ... milik perusahaan tempat Ara bekerja?" tanya ibu ragu. Tristan mengangguk. Ara diam. Hanya mengangguk saja saat ibu menoleh ke arahnya untuk bertanya.

__ADS_1


"Ya."


"Anda sangat baik. Bukannya Ara ini hanya magang? Bukan karyawan betulan." Tepat sekali apa yang di katakan ibu.


"Anggap saja karena Ara begitu kompeten hingga saya sebagai atasan begitu berterima kasih," imbuh Tristan begitu penuh dusta. Ara hanya tersenyum saja saat Ibu kembali melihat ke arahnya mencari kepastian. Beliau ragu, tapi kemudian menghela napas.


"Kalau begitu saya sangat berterimakasih pada perusahaan." Ibu merasa bersyukur. Ara melirik Tristan yang ternyata melihat ke arahnya. Gadis itu berpaling muka. Ia sudah membohongi ibu.


"Silakan Anda beristirahat di rumah ini." Tristan mempersilakan. Meskipun soal apartemen ini bohong, ia tidak berbohong soal mempersilakan ibu Ara beristirahat. Dia punya kesopanan pada orang tua


**


Kedatangan ibu membuat Ara pusing. Bukan soal keadatangannya, tapi banyaknya pertanyaan yang di ajukan karena beliau masih merasa aneh dengan kemewahan yang di terima Ara dari perusahaan.


"Kamu tidak sedang bermain-main dengan keburukan, Ara?" tanya beliau membuat Ara tertohok di dalam hati. Ya. Aku sedang bermain sandiwara yang melibatkan pria kaya seperti Tristan karena sandiwara serupa sebelumnya demi uang.


Hhh ... Ara mendesah jika mengingat itu. Kedatangannya ibunya membuatnya sandiwara ini menjadi beban. Namun itu sudah usai karena ia pamit pulang setelah beberapa jam berbincang di sini.


"Ya, maaf Tuan." Ara mengatakan itu dengan kesal.


"Aku dengar ibumu tidak percaya bahwa apartemen ini adalah fasilitas dari perusahaan." Ara mendongak. Ia terkejut kata-kata itu terdengar olehnya.


"Anda menguping?"


"Suara tegas itu tentu tidak mungkin tidak aku dengar. Ibumu mengatakan itu saat aku masih ada di sini bukan?" Ya. Beliau terus bertanya meski Tristan belum menjauh dari apartemen.


"Ibuku tentu paham itu. Beliau tidak bodoh."


"Ya. Yang bodoh adalah putrinya."


"Hei! Anda memaki saya?"

__ADS_1


"Dia terlalu bodoh hingga mau saja di ajak membohongi orang. Yaitu aku," tunjuk Tristan pada dirinya. Ara diam tidak membantah. Itu mungkin benar.


"Namun Anda juga mengulang hal yang sama dengan saya." Ara tidak mau kalah. Tristan menatap Ara agak lama. Ini membuat Ara jadi salah tingkah. "Y-ya ... saya tidak bisa menuduh Anda begitu. Karena bagaimanapun saya tetap salah ... Saya itu ..." Ponsel Tristan berdering. Dari raut wajahnya Ara membaca sesuatu. Itu telepon penting. Bukan, bahkan lebih penting. Telepon itu berharga.


Tristan menjauh dan mengakhiri salah tingkah Ara dengan rasa ingin tahu.


"Siapa yang meneleponnya?" Ara menjulurkan kepala melihat ke arah Tristan yang masuk ke dalam kamarnya. "Aku tidak perlu tahu. Aku hanya karyawan. Masih kontrak pula. Ya ... kontrak di luar perusahaan." Ara membetulkan tubuhnya duduk di sofa.


**


Tristan menatap ponselnya agak lama. Jarvis yang melihat itu heran.


"Apa Anda sedang menunggu janji temu dengan orang-orang, Tuan?"


"Tidak." Jarvis bersyukur. Menurutnya jadwal hari ini kosong. Kemungkinan pulang cepat akan tiba sore ini. "Pastikan orang-orang kakek tidak bisa mendekati rumah sewa milik Ara."


"Baik Tuan."


"Aku akan keluar. Mungkin aku tidak akan kembali ke kantor."


"Lalu soal Ara?"


"Ada apa?"


"Bukannya Anda bilang tuan Haga akan mengunjungi apartemen Anda hari ini?"


"Sial. Aku lupa itu. Antar Ara pulang cepat sekarang juga."


"Apa bukan lebih baik pulang bersama Anda Tuan? Jika terlambat dan keduluan tuan Haga sampai di apartemen, Anda bisa beralasan sedang keluar dengannya." Jarvis memberi ide dengan hati-hati.


"Oke. Ijinkan Ara pulang dan suruh cepat ke mobil. Aku tunggu di sana." Jarvis mengangguk. Tristan harus bersyukur kedatangan kakek tidak bersamaan dengan datangnya ibu Ara. Karena itu bisa repot dan membuat sakit kepala.

__ADS_1


**


__ADS_2