KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bertemu kakek


__ADS_3

Mereka tiba di tempat yang ternyata sama dengan tempat pertemuan mereka dulu. Ara memandang gedung ini dengan ingatan kembali pada waktu itu. Dimana ia bertemu pertama kali dengan Tristan sebagai Jenny. Bola mata Ara melirik ke arah Tristan yang berdiri di sampingnya.


"Rapikan dirimu," ujar Tristan tanpa menoleh. Ara terkejut. Namun ia segera mengeluarkan ponselnya dan berkaca. Benar kata Tristan. Gadis ini terlihat berantakan. Ara menipiskan bibir melihat dirinya di kamera ponsel yang ia gunakan sebagai cermin. "Kita masuk ke dalam," ajak Tristan. Ara mengikuti. Namun tidak lama kemudian pria itu berhenti. "Sejajarkan dirimu denganku. Kita sekarang pasangan kekasih Ara," kata Tristan mengingatkan.


Ara tidak lupa, tapi ia sadar langkahnya pendek karena tubuhnya lebih pendek dari pria ini.


"Aku lebih pendek, Pak. Aku ..."


"Berhenti memanggilku, 'Pak'. Kamu sudah harus bersandiwara sejak awal. Kamu ..."


"Tuan Haga sudah mengunggu, Tuan, " kata Antony yang menemukan Tristan di depan pintu cafe.


"Ya. Aku tahu," sahut Tristan yang tidak jadi meneruskan kalimatnya. Pria ini mengenal napas. Mungkin dia merasa jengkel karena harus berhenti menasehati pemain sandiwara ini terus menerus. Akhirnya ia memilih langsung berjalan masuk ke dalam cafe tanpa melakukan briefing lagi dengan Ara.


Sesaat Tristan terkejut saat tiba-tiba lengannya digamit oleh Ara. Kepalanya menunduk melihat ke arah tangan gadis ini.


"Berdiri tegak, Pak. Banyak teman-teman orang tadi di sekitar kita," ujar Ara memperingati. Tristan mendongak. Mengalihkan pandangannya dari tangan Ara, ke sekitar. Memang banyak orang-orang kakeknya di sana. Akhirnya Tristan melangkah masuk ke dalam dengan lengannya yang dekat dengan tubuh Ara.

__ADS_1


Kakek yang melihat cucunya dengan seorang gadis terkejut. Apalagi melihat mereka bergandengan.


"Apa-apaan bocah itu?" geram tuan Haga. Rupanya beliau tidak sendiri. Ada seorang gadis yang duduk bersama beliau. Gadis cantik yang tanpa bicara pun ketahuan bahwa dia adalah putri dari keluarga orang terpandang.


"Selamat siang, Kakek," sapa Tristan. Ara ikut mengangguk pelan menyapa mereka berdua. Bola mata tuan Haga menatap cucunya tajam. Tristan tidak peduli itu. Ia lebih tertarik dengan genggaman tangan Ara yang ketat pada lengannya. Sepertinya tatapan tajam kakeknya membuat gadis ini gentar.


Aku takut.


Tanpa berpikir ulang, jari Tristan berangsur menyentuh punggung tangan Ara. Menepuk lembut dan diam disana. Ara terkejut saat tahu jari pria ini menyentuhnya. Namun ia berpura-pura tidak apa-apa. Kemungkinan Tristan bermaksud menenangkan gadis ini untuk tidak takut. Karena saat tanpa sadar Ara melirik pada Tristan, pria itu juga menatapnya. Seketika Ara mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Dia kekasihku, Kakek," kata Tristan memulai satu hal yang di anggap bisa membuatnya lolos dari kejaran kakek untuk melakukan perjodohan. Dia yakin bisa meloloskan dirinya dari pemaksaan kakek, menjodohkan dirinya dengan perempuan pilihan beliau sampai ia menemukan sendiri perempuan yang benar-benar di cintainya.


***


"Dia kekasihku, Kakek," kata Tristan.


"Kekasih? Apa kamu bilang, kekasih?" tanya beliau yakin pendengarannya keliru. Makanya tuan Haga mengulang lagi kalimat itu.

__ADS_1


"Ya," sahut Tristan tegas. Perempuan di kursi itu juga melihat dengan terkejut ke arah Tristan. Mungkin perempuan itu tidak menyangka bahwa Tristan yang akan di jodohkan dengan dirinya punya kekasih.


"Kamu bohong," kata kakek geram.


"Sebelum melanjutkan kalimat kakek, ijinkan kita untuk duduk. Aku yakin kekasihku ini akan lelah jika harus terus saja berdiri," kata Tristan memotong kalimat kakeknya. Tanpa menunggu kakeknya menjawab, Tristan mengajak Ara untuk duduk. Masih dengan tangan bergandengan, mereka duduk berdekatan. Tuan Haga berdecih melihat itu.


"Maafkan aku, Nak. Kamu harus melihat pemandangan yang tidak mengenakkan ini. Aku yakin kamu tidak merasa tersinggung dengan hal ini," ujar tuan Haga meminta perempuan itu tersenyum tipis.


"Tidak apa-apa, Kakek. Mungkin kita memang tidak berjodoh," kata perempuan itu masih tersenyum.


"Kamu memang anak yang baik," puji tuan Haga tanpa tahu bahwa gadis ini kesal karena Tristan muncul dengan seorang perempuan lain. Mereka pun berkenalan dengan tidak menampilkan apa yang sebenarnya ada di hati mereka masing-masing.


.......


.......


...B E R S A M B U N G...

__ADS_1


__ADS_2