KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 68


__ADS_3

Kepala Ara menunduk. Bersembunyi. Jangan mendekat, jangan mendekat, rapal Ara di dalam hati.


"Kamu sedang apa?" tanya Tristan yang sudah tiba di dekat meja Ara. Gadis ini diam sambil berdecih di dalam hati. Sementara yang lain melongok ingin tahu ada apa dengan kekasih atasan mereka. Karena ini pertama kalinya, mereka antusias sekali untuk menyaksikan dua pasangan ini. "Ara," panggil Tristan.


"Ya, Pak." Ara langsung menarik kepalanya dan duduk dengan benar. Tersenyum tertangkap basah.


"Kamu sedang apa?"


"Tidak ada. Kenapa Bapak ada di sini?" tanya Ara.


"Tentu saja menemuimu," jawab Tristan dengan yakin.


"Aku tidak bisa sembarang di temui. Aku sedang sibuk, Pak. Tidak enak dengan yang lain." Ara berbisik. Tristan melihat ke sekitar. Semua langsung pura-pura sedang bekerja. Padahal sejak tadi mereka melihat ke arah Ara.


"Mereka tidak melihat."


Ara melongok ke arah mereka. Pasti mereka berpura-pura berkerja.


"Meskipun begitu, ini jam kerja Pak. Saya harus patuh pada peraturan." Ara berusaha mengusir Tristan dengan pelan. Tristan melihat ke arah arloji di tangannya.


"Ara. Aku perintahkan kamu untuk ke lantai atas menemui aku." Dengan suara lantang Tristan memberikan perintah. Semua pasti bisa mendengar dengan baik.

__ADS_1


"A-apa?" tanya Ara bingung. Saat itu kak Ghia yang baru saja dari luar, datang. Menghampiri Tristan dan menyapa. Ara berdiri dan membungkuk sebentar. Tristan melirik.


"Ada keperluan apa, Pak? Bisa saya bantu?" Dengan ramah, kak Ghia menawarkan bantuan. Dia mengerti soal asmara dua orang ini.


"Aku hanya sedang memberi perintah pada Ara untuk ke ruanganku," ujar Tristan menggunakan ekor matanya pada Ara. Kak Ghia terdiam dan menoleh pada Ara. Kepala Ara menggeleng pelan. Memberi kode pada senior untuk tidak mengabulkan permintaan Tristan.


"Mengantar dokumen, Pak?" tanya Kak Ghia yang paham situasi. Tristan mengangguk. "Ara, kamu bisa ke ruangan Pak Tristan sekarang."


"Tapi saya sedang mengerjakan ini." Ara menunjuk ke komputernya.


"Ya. Setelah dari ruangan Pak Tristan, kamu bisa melanjutkannya." Kak Ghia tersenyum.


"Tapi kak ..." Ara mencoba bertahan. Semua mata sedang memandang mereka.


**


Pintu lift tertutup. Akhirnya Ara terpaksa ikut Tristan ke ruangannya.


"Kenapa diam?" tanya Tristan.


"Tidak apa-apa," sahut Ara sambil memandang lurus ke pintu lift.

__ADS_1


"Aku hanya ingin berdua denganmu." Mendengar ini telinga Ara memerah. Ia malu. Itu terdengar begitu mendebarkan. Ara kebingungan menyembunyikan rona merah karena malu.


"Saya kan masih kerja. Harus rajin supaya dapat nilai bagus." Ara mencoba bertahan untuk tidak meleyot.


"Temani aku saja. Jarvis akan membuatkan nilai bagus untukmu." Tristan mengatakannya dengan enteng. Bola mata Ara melebar.


"Itu curang namanya, Pak," protes Ara.


"Curang itu kalau kamu menolakku padahal aku sudah sengaja menjemput mu. Itu curang karena kamu tahu aku tertarik padamu. Kamu menang telak Ara," sahut Tristan. Rahang Ara langsung mengatup. Ia tidak bisa membalas. "Aku suka rambutmu di ikat seperti ini." Tristan memainkan ekor rambut Ara. Tubuh Ara bereaksi. Sedikit geli di tengkuknya.


Tristan mengubah arah berdiri tubuhnya. Kini ia menghadap Ara yang berdiri di samping. Ara membeku. Ia panik di dalam hati.


Tristan mendekatkan bibirnya. Dengan cekatan Ara menahannya. "Kamu menolak?" tanya Tristan dengan sorot mata mau marah. Tanpa sadar Ara menggeleng kepalanya kuat.


"Orang-orang sedang melihat kita." Ara menunjuk ke arah cctv yang di pasang di langit-langit lift. Kepala Tristan menoleh pada kamera cctv dengan sorot mata tajam membunuh. Dimana ini langsung di mengerti oleh security yang menjaga layar monitor cctv. Tangan mereka segera menekan tombol untuk mematikan layar.


.......


.......


.......

__ADS_1


......................


__ADS_2