
Kakek melongok keluar saat mendengar suara Tristan.
"Itu pasti si bocah bebal itu," ujar tuan Haga geram. Antoni yang duduk di dekat pintu menoleh. Ia mengangguk.
"Itu memang cucu Anda, Tuan," kata ibu yang sudah tahu kalau itu Tristan dan putrinya.
**
"Bukannya ini mobil kakek, Pak?" tanya Ara yang melihat mobil mewah di halaman rumah. Dari jauh Tristan sudah tahu. Dia hanya diam tidak membahas itu.
"Sepertinya."
"Bagaimana ini Pak? Kakek akan marah pada saya." Ara sudah panik lebih dulu. "Saya sudah berjanji untuk tidak menemui dan mendekati, Bapak. Kakek sudah melarang saya." Ara menarik lengan Tristan yang menurunkan karung kentang sejenak.
"Kamu sudah melakukannya, Ara. Kamu tidak melakukan kesalahan. Karena aku yang datang menemui dan mendekatimu. Jadi tenanglah Ara." Kini Tristan yang ganti memegang lengan gadis ini untuk menenangkannya.
"Bagaimana mungkin saya bisa tenang, Pak."
"Aku tahu, tapi cobalah. Kita segera masuk ke dalam rumah dan menemui kakek. Kasihan ibu harus menerima tamu yang tak di undang." Tristan melihat ada ibu Ara di sana. Yang ia takutkan adalah kakek melakukan penekanan pada ibu Ara. Kepala Ara mengangguk. Lalu menghela napas.
__ADS_1
"Aku pulang," kata Tristan sambil memanggul karung kentang. Ara yang menyusul di belakang mengangguk sopan. Ia tidak berani melihat langsung ke arah tuan Haga.
"Apa-apaan itu Tristan? Kenapa kamu memanggul karung di pundakmu?!" seru kakek terkejut. Sebenarnya Antoni juga sama, tapi dia masih bisa menahan mulutnya untuk diam. Bukan soal karung kentangnya, tapi karena itu Tristan. Dia bukan sembarang pria. Dia anak pengusaha. Dimana selama ini tidak pernah mengangkat karung semacam itu.
Ibu hanya melirik ke arah kakek yang sangat heboh
"Kenapa masih saja membantu Ara memanen kentang, Tristan. Bukannya ibu sudah bilang untuk tidak melakukannya?" Ibu mulai bicara.
"Tidak apa-apa, Ibu." Tristan tersenyum.
"Tidak apa-apa? Kamu tidak melakukannya di rumah bahkan saat di suruh, kenapa di sini kamu malah memintanya?" tanya kakek tidak terima. Ibu tersenyum samar saat mendengar itu.
"Turunkan karung itu. Biar Ara sendiri yang mengangkatnya." Ibu yang berdiri memberi kode pada Ara untuk mengambil alih. Gadis ini paham. Ia segera bergerak akan mengambil karung itu.
"Biarkan aku yang bawa," ujar Tristan pada Ara. Dia menolak.
"Hei!" teriak kakek. Tristan tidak peduli. Ia segera masuk ke dalam seolah rumah sendiri. Ara ikut menyusul. Ia tidak ingin di tatap tajam oleh tuan Haga. Meskipun sebenarnya kasihan membayangkan ibu menghadapi kakek itu sendirian.
"Apa yang di pikirkan bocah itu?" Kakek yang merasa di abaikan memilih duduk. Ibu yang terus saja melihat ke arah mereka hingga menghilang, ikut duduk lagi. "Bukannya memilih menyelesaikan pekerjaan di kantor, malah mengangkat karung berat yang bahkan bukan miliknya," gerutu kakek.
__ADS_1
Antoni yang tidak enak pada ibu Ara, mengangguk dan tersenyum canggung. Sebenarnya ibu tidak terlalu memikirkan apa yang di katakan kakek tua ini. Beliau cukup tenang menghadapinya.
Ara di belakang sudah panik sembari membantu Tristan menurunkan karung.
"Lihatlah kakek marah, Pak." Ara memulai bicara.
"Kakek memang pemarah," sahut Tristan.
"Jangan bersikap santai, Pak. Ini masalah serius," tegur Ara.
"Namun lebih serius saat aku ingin menikahimu sekarang," kata Tristan tepat sasaran. Dalam situasi panik seperti ini, Tristan justru masih bisa melontarkan kalimat-kalimat gombal yang ampuh. Hingga Ara tidak bisa tidak tersipu. Wajahnya sedikit memerah.
"Kenapa Bapak malah menggombal," kata Ara seraya menggaruk kening salah tingkah.
"Bukan menggombal. Aku bicara apa adanya," bantah Tristan sambil tersenyum. "Ayo kita urusi kakek bersama-sama."
.......
.......
__ADS_1
.......
...****************...