KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Interogasi


__ADS_3

"Tunggu Pak." Tristan yang hendak beranjak dari sofa urung. Dia kembali duduk dengan benar karena Ara sedang ingin bicara dengan serius. "Bagaimana bisa, saya yang seperti ini menjadi kekasih Anda?"


"Kamu tahu itu adalah sementara, kan?" Tristan masih mau menjawab pertanyaan Ara.


"Saya tahu. Hanya saja ... bagaimana caranya saya untuk bisa di sebut sebagai kekasih Anda? Jika Anda butuh pandangan publik percaya saya adalah kekasih Anda, apakah dengan mengiyakan saja kita sudah seperti sepasang kekasih?" tanya Ara yang sebenarnya menyesal bertanya banyak hal. Karena raut muka Tristan tidak bersahabat.


"Jangan pikirkan banyak hal. Kamu cukup setuju dan melakukan apa yang aku perintahkan." Tristan mulai gusar.


"Sampai kapan?" tanya Ara yang merutuk mulutnya karena tidak berhenti bertanya.


"Sampai aku menemukan perempuan yang memang ingin aku nikahi. Saat itu tiba, kontrakmu habis." Dari sekian banyak wajah kaku dan serius Tristan saat bicara, inilah raut wajah paling serius bagi seorang Tristan. Ara membasahi bibirnya samar.


"Saya magang hanya 6 bulan, Pak. Apakah dalam waktu itu Anda sudah mendapatkan pendamping yang sebenarnya?" Mulut Ara memang tiada duanya. Terus saja bertanya yang membuat Tristan menggeram dan berdecak kesal.


"Berhenti bertanya. Aku pusing mendengar kamu terus saja bertanya," desis Tristan membuat Ara mendengus dalam hati merasa menang.


Jadi ... Aku menjadi kekasih kontrak Tristan? Direktur ini? Lucu, tapi lumayanlah ... Daripada dia membuat kekacauan pada nilaiku.


***


Karyawan magang itu?! Jarvis menemukan Ara keluar dari ruangan Tristan. Ada apa gadis itu ke ruangan Tristan? Bukannya Ghia menyuruhnya ke ruanganku. Jarvis mempercepat langkahnya untuk menuju ruang direkturnya. Karena baru saja ia di beritahu untuk ke sana.


Jarvis masuk ke dalam ruangan ketika Tristan mempersilakan dia masuk. Bola mata Jarvis sempat beredar sejenak. Tidak ada hal janggal.


"Jarvis, aku ingin kamu mencari tahu soal Ara," kata Tristan sebelum Jarvis sampai di dekat meja.


"Ara?"


"Karyawan magang itu." Hampir saja Jarvis mengatakan bahwa tidak ada nama Ara di dalam nama karyawan.

__ADS_1


"Ya. Dia ... "


"Buatkan dia kontrak baru."


"Kontrak yang bagaimana, Tuan?" Jarvis tidak paham. Karena gadis itu hanya sebagai karyawan magang. Tidak ada kontrak khusus karena mereka masih kuliah.


"Aku memberi dia perkerjaan baru. Pekerjaan tambahan." Saat mengatakan ini Tristan mendongak. Bola mata Jarvis mengerjap mencari tahu pekerjaan apa yang hendak di berikan Tristan. "Dia harus membuat kakek berhenti menjodohkan ku dengan banyak perempuan hanya untuk membuatku menikah." Sorot mata Tristan tegas.


"Dengan cara apa, Tuan?" tanya Jarvis makin bingung. Membuat tuan Haga berhenti menjodohkan? Siapa yang bisa? Mungkin hanya Tuhanlah yang mampu melakukan itu. Karena tidak ada seorang pun yang bisa melakukan.


"Menjadi kekasihku sementara," jawab Tristan kembali menundukkan pandangan. Melihat ke arah komputer di depannya. Membiarkan Jarvis berdiskusi sendiri dengan pikirannya.


Kekasih sementara? Apa-apaan, bosku ini? Karyawan magang itu? Bukan, lebih tepat aku sebut penipu. Karena sudah pernah membuat sandiwara besar dengan menjadi calon istrinya.


"Dia memang penipu ulung hingga mampu membuat aku langsung menikah dengan putri keluarga Andromeda," ujar Tristan yang sepertinya bisa membaca apa yang sedang di pikirkan Jarvis.


"Justru karena aku tahu dia adalah ahlinya bersandiwara, aku ingin ia melakukannya di depan kakek."


"Jadi ... Dia akan di perkenalkan pada tuan Haga?"


"Tentu saja." Tristan tersenyum licik.


**


Soal dirinya yang mendadak di tawari menjadi kekasih sementara direktur perusahaan ini, membuat Ara menjadi linglung. Terdengar aneh dan janggal baginya. Buat apa seorang Tristan menjadikannya kekasih sementara? Namun sesaat ada hal penting yang di lupakan Ara, yaitu soal kompensasi. Ia tidak membahas kompensasi atas jasanya itu tadi.


"Sial. Aku enggak bisa minta uang nih karena ini bukan pekerjaan, tapi sebuah hukuman. Oh, ya ... aku harus menelepon Jenny!" Tangan Ara mengeluarkan ponsel dari tasnya. Tidak butuh waktu lama justru Jenny sudah meneleponnya lebih dulu. Ara yang hendak pulang dan menuju area parkir karyawan berhenti.


"Ara maafkan aku. Aku sudah ..."

__ADS_1


"Tristan tahu soal aku?" tebak Ara sambil berjalan di lorong perusahaan.


"Dia menegur mu? Dia mengeluarkan mu dari perusahaan?" cecar Jenny cemas.


"Dia menegurku. Dia menyebutku bodoh karena pura-pura tidak mengenalnya," kata Ara geram.


"Oh, maaf. Aku yakin kamu bukan perempuan bodoh." Jenny menenangkan temannya.


"Tentu saja. Kurang ajar sekali dia."


"Hanya menegurmu? Tanpa menghukum atau bagaimana?" tanya Jenny heran. Dia tentu yakin bahwa Tristan marah saat itu.


"Itu ... dia ingin aku menjadi kekasih sementaranya," bisik Ara. Karena ia tahu sedang berada di lorong.


"Kekasih sementara? Apa maksudnya?" tanya Jenny seperti naik darah.


"Aku tidak tahu. Aku hanya mendengar itu darinya."


"Kamu harus menolaknya! Jangan berhubungan lagi dengannya!" pinta Jenny dengan bersemangat. "Jangan mau di bodohi olehnya. Aku enggak setuju jika kamu mengenal Tristan. Dia itu iblis," desis Jenny di seberang.


"Hei! Siapa yang membuatku jadi kenal dengan pria itu, hah?!" teriak Ara kesal. Orang-orang di pelataran parkir perusahaan menoleh dengan cepat ke arahnya. Di seberang Jenny menjauhkan ponselnya jauh-jauh dari telinga. Setelah yakin Ara tidak lagi berteriak, ia mendekatkan lagi ponselnya pada telinga.


"Oke. Oke. Itu memang salahku." Jenny mengakui kesalahannya.


.......


.......


...B E R S A M B U N G...

__ADS_1


__ADS_2