KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 13


__ADS_3

Sebelum kabar pernikahan terkuak di publik.


Keesokannya, setelah Tristan pulang dari kencan keduanya ia langsung menghubungi Jarvis. Namun sebelum pria ini berhasil menghubungi sekretarisnya, kakek sudah menghubunginya terlebih dahulu.


Tristan menggeram.


"Ya, kakek," sapa Tristan yang baru saja menyelesaikan memakai dasinya.


"Dimana kamu? Kita harus bicara sekarang."


"Aku masih di apartemen, Kakek."


"Kakek akan kesana!"


"Tidak! Lebih baik kakek ke kantor saja. Aku sudah mau berangkat. Lebih baik Kakek mengurangi tenaga untuk datang ke sini." Tristan tidak mau kakek muncul di apartemennya. Itu bisa menghambat pekerjaan jika harus berlama-lama di apartemen.


Setelah perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar 20 menit lebih, Tristan sampai di depan halaman perusahaannya. Jarvis muncul di depan pintu menunggunya. Ia mengangguk memberi salam pada atasannya.


"Si Tua itu sudah datang?" tanya Tristan. Jarvis tahu benar siapa yang di maksud Si tua. Itu pasti tuan Haga.


"Ya. Tuan Haga ada di dalam ruangan Anda, Tuan," kata Jarvis memberi tahu.


"Si tua itu akan bicara panjang lebar denganku di ruangan. Jadi kamu bisa menerima semua janji temu sebanyak apapun saat ini juga. Sehingga aku bisa segera mengusirnya dan bekerja dengan fokus," kata Tristan memberi perintah.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Hari ini jadwal bertemu dengan orang-orang, tidak ada. Jadi semua murni pekerjaan di dalam kantor saja." Jarvis membacakan jadwal hari ini.


Langkah Tristan berhenti. Jarvis ikut menghentikan langkahnya di belakang Tristan. Perlahan kepala itu menengok ke samping. Menoleh pada Jarvis dengan wajah beku. "Tidak ada janji temu?" tanya Tristan mengerutkan kening kemudian. Menggeram sedikit karena tidak senang.


"Benar, Tuan." Jarvis menunduk. Terdengar geraman lagi. Tristan sangat tidak senang. Kakinya melangkah lagi. Kali ini dengan suasana yang lebih mencekam.


Di ruangan Tristan, kakek sudah datang dengan ajudannya.


"Kenapa kamu lama sekali Tristan? Jalanmu seperti keong," cela tuan Haga karena beliau merasa sudah lama menunggu. Tristan tidak menanggapi celaan kakeknya. Ia hanya berjalan melewati beliau dan duduk tepat di depannya.


"Lebih baik kita langsung bicara saja kakek. Bicarakan hal yang ingin kakek lakukan." Tristan berwajah serius.


"Kamu itu tidak ingin aku berlama-lama di sini, ya?" tebak kakek sudah tahu. Tristan menyilakan kaki. "Bagaimana? Apa kamu akan menikahinya?" tanya tuan Haga si seberang meja.


"Jadi ... Kamu setuju untuk menikah dengan putri keluarga Andromeda?" tanya tuan Haga memperjelas. Beliau butuh kepastian dari mulut pria tampan yang jadi cucunya ini. Karena beliau tidak mau ke depannya akan ada masalah jika tiba-tiba Tristan mau mengajukan protes.


"Dengan sangat terpaksa. Karena kakek tua ini selalu menjadikan umurnya sebagai senjata utama memaksa cucunya untuk menikah," kata Tristan mencibir.


"Aku tidak pernah menjadikan umurku sebagai ancaman, Tristan," bantah tuan Haga dengan bersikap biasa saja. "Ingat. Jangan merubah keputusan saat kalian sudah menikah Tristan. Putri keluarga Andromeda begitu berharga bagi mereka."


"Jadi aku tidak berharga bagi Kakek, maka dari itu Kakek menyuruhku menikahinya tanpa mempedulikan aku?" tanya Tristan dingin. Bukan marah. Dia hanya mencela kakeknya.


"Bicara apa kamu ... Selama ini kamu hanya sendirian saja tanpa mendekati wanita. Jadi kenapa aku harus mempedulikan perasaanmu? Kamu pasti tidak punya perasaan sama sekali pada mereka. Jadi siapa saja yang akan di jodohkan dengan mu akan bernasib sama. Yaitu akan selalu di suguhi sikap kaku dan dingin mu," kata kakek seraya menunjuk Tristan dengan tongkatnya.

__ADS_1


"Huh," dengus Tristan. Sejak lama ia tidak berpikir soal cinta. Yang ada di otaknya hanya bekerja dan bekerja.


"Aku akan menghubungi keluarga Andromeda lagi. Mencari tanggal yang tepat untuk melangsungkan pernikahan kalian. Antony, kamu akan sibuk belakangan ini," kata tuan Haga menoleh ke samping.


"Saya siap, Tuan," ujar Antony bersedia.


"Ingat. Jangan pernah membuat kekacauan saat pernikahanmu nanti. Kita sepakat bahwa kamu akan menikah dengan putri mereka. Jadi aku harap jangan banyak bertingkah di malam jadinya. Kamu tahu akibatnya jika melanggar perjanjian dengan kakek tua ini." Sebuah kalimat penegasan yang di ucapkan kakek itu. Beliau serius mengatakannya.


"Aku tahu. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Jadi persiapkan saja semuanya. Lalu aku akan muncul ke pernikahan sebagai mempelai pria," kata Tristan. Dia memang tidak terlalu berminat untuk menikah. Tristan hanya mengikuti keinginan kakeknya.


"Karena kesepakatan kita sudah pada ujungnya, lebih baik Kakek segera pergi. Aku mau bekerja," usir Tristan.


"Dasar, kau ini! Baiklah. Aku akan pergi. Urusan kakek pun usai. Ayo Antony!" ajak Tuan Haga.


"Ya, Tuan." Beliau berdiri dan beranjak pergi dari ruang kerja cucunya. Meskipun kata-kata Tristan selalu pedas. Dari dalam hati, sebenarnya ia menyayangi kakeknya. Karena ia tidak tahu umur pria tua itu panjang atau pendek. Jika ia kehilangan pria tua ini saat dirinya belum memenuhi keinginan kakeknya, ia yakin pasti menyesal. Maka dari itu, ia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Dengan egonya. Ia akan menikah meski tidak ada kata cinta di hatinya. Walaupun di dalam hati ia menolak untuk menikah karena memang belum ingin.


.......


.......


.......


......................

__ADS_1


__ADS_2