KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 17 Insiden kecil


__ADS_3


"Jadi siapa nama kamu?" tanya Jarvis setelah mobil Tristan menderu menjauh dari tempat mereka tadi.


"Ara."


"Sepertinya aku juga punya tugas penting. Jadi kemungkinan tidak bisa mengurusi soal motor kamu sekarang, tapi aku janji pasti akan menyelesaikannya karena itu perintah direktur. Kamu magang di bagian apa?" tanya Jarvis menginterogasi.


"Bagian keuangan."


"Oke. Minta nomor ponselmu. Jadi saat aku sudah menyelesaikan tugasku, aku bisa menghubungimu," kata Jarvis mengeluarkan ponselnya dari saku jas.


"Baik, Pak." Dengan antusias Ara memberikan nomor kontak ponselnya pada Jarvis. Mereka berbagi nomor.


"Oke sudah aku save nomor kamu. Sekarang aku harus segera mengikuti direktur. Kamu juga harus segera masuk ke dalam bukan?"


"Benar," sahut Ara.


"Oke. Selamat berkerja dan ... jangan bicarakan soal kecelakaan ini pada orang lain. Itu akan membuat citra buruk direktur," pesan Jarvis.


"Tidak akan, Pak." Karena aku akan mendapatkan kompensasi dari kecelakaan ini. Jadi aku bisa menganggapnya ini semua adalah hal kecil. Namun sepertinya aku akan tetap bungkam karena tidak ingin penyamaran ku waktu itu terbongkar.


***


Rupanya ada meeting digital dengan perusahaan textil. Tampak direktur perusahaan textil terbesar itu berada di layar besar yang membentang di depan.


"Senang bekerja sama denganmu, Biema," kata Tristan sambil tersenyum puas. Pria berjambang halus di layar itu tersenyum juga. Jarvis yang ada di sana ikut mengangguk mengucap terima kasih.

__ADS_1


"Sama-sama, Tristan. Maaf aku tidak bisa menemui mu secara langsung," kata direktur perusahaan textil itu.


"Aku mengerti. Kamu pasti sedang menemani istrimu," kata Tristan mengangkat alisnya.


"Ya." Pria itu tersenyum tipis. Namun itu tetap menunjukkan kebahagiaan yang tiada tara.


"Setelah aku menyelesaikan semua hal di perusahaan, mungkin aku akan datang mengunjungimu. Namun jangan marah, jika aku lupa untuk mengunjungi mu."


"Tidak apa-apa. Aku tidak berharap di datangi olehmu. Karena aku tahu kamu maniak kerja, Tristan," tuding Biema telak. Namun Tristan hanya tersenyum tipis mengakui dia memang begitu.


"Jadi ... kamu akan datang dengan putri keluarga Andromeda?" tanya Biema yang mendengar kabar pernikahan mereka.


"Entahlah. Kita lihat saja nanti."


**


"Bagaimana soal karyawan tadi?" tanya Tristan.


"Maaf, Tuan. Saya belum bicara lagi dengan karyawan magang itu." Jarvis menghentikan tangannya bergerak untuk bicara.


"Belum? Jadi kamu membiarkan aku melakukan kesalahan tanpa mempertanggungjawabkannya?" ujar Tristan seperti menggeram.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa langsung bicara panjang soal kerugian yang gadis itu terima. Karena saya harus segera kemari untuk menemani Anda meeting," ujar Jarvis. Tristan menghela napas kasar.


"Begitu ... Sebaiknya kamu segera menyelesaikan nya. Motor butut itu menjadi makin butut karena banyak sekali goresan di sana-sini karena aku."


"Baik, Tuan." Setelah menyanggupi, Jarvis kembali merapikan dokumen-dokumen di depannya.

__ADS_1


"Apa kamu merasa pernah bertemu dengannya, Jarvis?" tanya Tristan sambil memegang dagunya.


"Siapa Tuan?" tanya Jarvis yang tidak paham siapa yang di maksud atasannya.


"Karyawan tadi. Korban kecelakaan," jelas Tristan. Jarvis mengangguk mulai paham.


"Pernah Tuan."


Tristan langsung menoleh cepat. "Benarkah kamu pernah bertemu dengannya selain bertemu dengannya pagi ini?" tanya Tristan antusias. Sebenarnya Jarvis heran dirinya seperti di anggap istimewa sudah pernah bertemu gadis itu sebelumnya.


"Benar. Bukankah saya bertemu dengan karyawan magang itu saat bersama Anda," kata Jarvis yang mulai ingat kalimat yang di tanyakan oleh atasan ini pada gadis itu.


"Aku?" Tristan heran.


"Ya. Saat kita turun dari lantai atas. Saat Tuan Haga sedang mencari Anda." Jarvis mengingatkan lagi soal pertemuan mereka dengan karyawan magang itu.


"Oh, di lift itu?" tebak Tristan mulai ingat.


"Benar, Tuan." Tristan mengetuk mejanya dengan ujung jari telunjuk. Dia kembali mengingat soal pertemuan itu. Pertanyaan yang hampir sama, ia lontarkan pada gadis itu.


.......


.......


.......


......................

__ADS_1


__ADS_2