KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Pria ini


__ADS_3

Ara datang ke kantor dengan wajah kesal. Pagi ini dia kehilangan alat transportasi untuk berangkat magang, dan juga bertemu Teo yang tidak diinginkannya. Yang menjadi penyebab semua itu adalah ... Dia! Pria yang sedang berjalan dengan gagah di balut setelan jas mahalnya. Dia Tristan.


Ujung mata Ara melirik tajam saat pria itu melintas ruangannya.


Semuanya gara-gara dia! Harusnya aku tidak bertemu dengan Teo! Aku tidak harus gugup di depan pria itu! Huh, kurang kerjaan dia harus menahan motorku di sini hanya untuk memperbaiki kerusakan yang tidak seberapa. Seharusnya beberapa lembar uang saja cukup untuk ganti rugi.


Seperti mengerti akan umpatan hati Ara, Tristan yang tadinya serius bicara dengan Jarvis, mendadak menoleh dengan cepat ke arah Ara yang masih bergelut dengan mesin fotocopy.


Sial! pekik Ara di dalam hati dan langsung menunduk. Bola mata Tristan menatap tajam ke arah Ara.


"Ada apa, Tuan?" tanya Jarvis yang heran melihat ekspresi Tristan.


"Aku merasa sedang di tusuk seseorang di belakang punggungku," ungkap Tristan membuat Jarvis terkejut dan menoleh ke belakang punggung Tuannya. Tentu saja dia tidak menemukan apa-apa di sana. Mata Tristan masih melihat ke arah Ara di tempatnya.


***


Baru Tristan akan menghampiri Ara, ponselnya berdering. Tristan menghela napas sejenak setelah tahu bahwa itu kakeknya.


"Iya, kakek," sahut Tristan.


"Aku akan kesana mengajakmu makan siang. Jangan menolak. Karena aku akan mengenalkanmu pada seseorang." Ucapan Tuan Haga membuat Tristan menggeram di dalam hati. Ia akan di jodohkan lagi. Kakek tidak kapok. Mungkin justru tambah gencar melakukannya.

__ADS_1


"Siang ini pekerjaanku banyak, Kek."


"Sudah aku katakan untuk tidak menolak. Aku bukan sedang menawarimu makan siang, tapi aku memberimu perintah untuk makan siang denganku!" Suara Tuan Haga meninggi. Ini membuat Tristan kesal.


"Ya, baiklah." Setelah percakapan usai, ia menutup telepon dari kakeknya. "Beritahu Ara untuk segera ke ruanganku," kata Tristan pada Jarvis.


"Iya Tuan."


................


Ara menggerutu pelan saat menuju ruangan Tristan setelah di beritahu Jarvis. Tangannya mengetuk pintu ketika tiba di depan ruangan pria itu. Belum selesai ia mengetuk, pintu terbuka. Muncul Jarvis dari dalam.


"Tuan Tristan sudah menunggu. Masuklah." Ara mengangguk dan berjalan masuk. Bersamaan dengan itu, Jarvis keluar. Ara celingukan karena dia pikir akan bicara bertiga dengan Jarvis.


"Maksud Anda, Pak?" tanya Ara terkejut dan tidak mengerti.


"Kakekku akan datang siang ini. Kamu harus ikut denganku dan berperan sebagai kekasihku."


"A-apa? S-siang ini?" tanya Ara dengan manik mata lebar.


"Ya."

__ADS_1


"Kenapa mendadak sekali, Pak? Saya belum mengerti sama sekali bagaimana kakek Anda. Jadi sangat mustahil saya bisa bersikap dengan benar nantinya." Ara tidak setuju. Ia panik.


"Aku tidak peduli. Gunakan saja semua kemampuan kamu seperti menghadapiku dulu. Bukankah kamu juga belum tahu siapa aku waktu itu?" ujar Tristan membuat Ara tidak bisa menjawab. "Kamu juga perlu bersiap-siap sebelum waktunya tiba."


"Bersiap-siap apa, Pak?" tanya Ara tidak tenang.


"Jarvis akan menghubungimu dan membantumu bersiap diri. Masalah selesai. Kamu bisa kembali ke tempatmu." Tristan mengatakannya sambil beranjak berdiri.


"Apa Anda tidak takut saya mengacaukan sandiwara ini, Pak?" tanya Ara membuat Tristan berhenti melangkah untuk kembali ke meja kerjanya.


"Tidak. Justru kamulah yang harus takut saat kamu berusaha mengacaukan sandiwara ini," desis Tristan. Ara menipiskan bibir kalah. "Bertanggung jawablah."


"Baik, Pak." Ara langsung menganggukkan kepala.


"Aku lupa. Hilangkan kebiasaan mu bersikap formal padaku nanti. Karena kita adalah sepasang kekasih, harusnya kamu bisa bersikap layaknya kekasih."


Kekasih? Tidak mungkin. Aku tidak pernah mengenal yang namanya kekasih. Mencintai saja langsung aku kubur dalam-dalam karena ternyata dia mencintai sepupuku.


.......


.......

__ADS_1


...B E R S A M B U N G...


__ADS_2